Anomaly

Nana (OC)

Suho (Kim Junmyeon) [EXO]

Mystery-Fantasy-Romance-Ficlet

.

.

.

Malam pertama, Nana mendapati laki-laki berjubah hitam panjang itu mencuri pandang ke arahnya, mengirim sebuah getaran kecil tak bernama ketika sebuah kontak mata terjadi.

.

.

Dan malam-malam berikutnya, kembali Nana mendapati laki-laki berjubah hitam panjang itu mencuri pandang ke arahnya, menyita atensinya bersama sebuah senyum tipis misterius yang mempesona.

.

.

 

Pukul 11 malam, gadis di penghujung pendidikan menengah atasnya itu masih berkeliaran di tengah gemerlapnya lampu pertokoan. Tidak ada seorangpun di sekitar yang tahu, kalau ia bahkan belum menyentuh kepala dua dalam hal usia. Siapa sangka? Tas tangan bermerk, tubuh semampai berbalut jeans serta blouse trendi, sepatu kets putih yang nampak baru saja keluar dari pabriknya, serta rambut bercat pirang yang tergerai di kedua sisi wajah rupawannya. Ia mungkin tak ada bedanya dengan wanita-wanita karir kaya yang ada di luaran sana.

Tak ada niatan tertentu saat Nana memandangi barisan toko-toko, selain untuk mendapat ide baru akan hal yang bisa dilakukannya demi menghabiskan isi dompetnya. Rupanya membeli sebuah gelang dengan harga selangit belum cukup memuaskannya. Dan—oh iya, Nana ingat, beberapa dari koleksi sepatunya mulai memiliki lecet di sisi-sisinya, dan membeli gantinya akan menjadi ide bagus. Dengan itu ia melangkah menuju gerai sepatu di sisi kanan pertokoan.

Oh—wow.

Nana hampir bersiul atas seorang laki-laki yang hendak keluar dari gerai sepatu. Bunyi musik klasik imajiner tiba-tiba mengalun di telinganya. Dari balik pintu kaca Nana mengamati sosok itu.

Orang itu lagi!

Dalam sekian detik yang singkat Nana menyempatkan untuk mengaguminya—tanpa sengaja menilai caranya berpakaian, caranya berjalan, tatanan rambutnya, pahatan wajahnya—oh, coat itu terlihat mahal, rambutnya pun ditata dengan begitu baiknya.

Mengagumkan.

Sekali lagi Nana menggumam penuh kagum, tersenyum saat laki-laki itu kedapatan melirik dirinya yang telah sigap mengambil posisi di depan pintu kaca. Bohong kalau Nana bilang ini pertama kalinya ia dibuat terkagum oleh si laki-laki, karena nyatanya ia sudah memperhatikannya sejak mereka sering berpapasan—menyusun strategi terselubung perihal usaha pendekatan terhadap si lelaki asing.

Takdir atau bukan, Nana tidak peduli. Pertemuannya dengan laki-laki itu jelas sebuah kesempatan emas—karena dia begitu menggoda untuk didapatkan. Berbekal beberapa lirikan sengaja dan senyum tipis beberapa malam terakhir dari si lelaki untuknya, Nana memutuskan untuk melangkah maju, menganggapnya sebagai sinyal untuk mewujudkan sebuah perkenalan.

Alih-alih masuk ke gerai sepatu, Nana melanjutkan langkahnya, menyusul Mr-handsome-with-black-coat nya yang tanpa Nana sadari sudah keluar dari toko dan berada satu-dua langkah di depan. Saat kedua langkah telah sejajar, Nana tanpa ragu menyapa,

“Hey.”

Si lelaki menoleh, dengan cepat merespon dengan senyuman paling memikat versi yang Nana sukai. “Hey.” balasnya.

Nana menampilkan senyum termanisnya. Benar-benar mengabaikan fakta bahwa laki-laki itu begitu ramah untuk ukuran pertama kali saling bercakap. Tapi, siapa peduli?

“Beberapa hari ini aku melihatmu di sekitar sini, jadi—“

“Aku Suho. Kau Nana, kan?”

Nana tidak bisa mengendalikan matanya yang membola dan mulutnya yang megap-megap memalukan. Tapi kemudian sebagian kecil dari dirinya sedikit berbangga, berpikir mungkin orang ini sudah sejak lama memperhatikannya. Itu bagus sekali. Dan lagi, Nana tidak tahu apa ada senyuman lain yang lebih manis, menarik, dan meneduhkan selain senyum darinya.

“Pertunjukan kelompokku dimulai sebentar lagi. Mau mampir?”

Lelaki asing yang beberapa detik lalu mengaku bernama Suho itu lagi-lagi tersenyum pada Nana, mengatakan satu lagi pertanyaan yang membuat Nana ingin menampar dirinya sendiri saking tak percayanya kalau yang ada di hadapannya adalah nyata.

Namun alih-alih mengekspresikan keterkejutannya, Nana merespon sesuai pertanyaan, seolah-olah mereka memang sudah saling mengenal dan biasa berbincang, “Pertunjukan?”

“Ya.”

Setelah sebuah jawaban singkat, Nana baru sadar Suho telah mendapatkan tangannya untuk digenggam—menuntunnya berjalan bersama. Ia tidak mengerti ketika wajahnya terasa menghangat karena genggaman itu—sekali lagi mengabaikan fakta bahwa ia sedang berinteraksi dengan seorang lelaki asing.

Setelah puluhan langkah dan beberapa menit terlewati, Nana tidak bisa lebih kagum lagi saat sebuah tenda raksasa menjulang di hadapannya. Tenda merah-putih besar yang menyala-nyala di tengah gelapnya malam. Itu tenda sirkus, kalau Nana tak salah menyangka. Ia memang tidak tahu dimana dirinya, juga tak pernah tahu ada tenda sirkus apapun di sekitar pertokoan. Namun kekagumannya terlalu mendominasi sekarang.

Senyuman orang yang sedang menggenggam pergelangan tangannya itu membuang semua keraguan Nana. Ya, ini mungkin karena Nana selalu terfokus pada gerai-gerai produk mahal yang itu-itu saja, sehingga ia tak pernah menyadari keberadaan tenda itu. Si gadis membiarkan dirinya dituntun masuk, naik menuju kursi penonton sebelah atas, tinggi dan jauh dari arena pertunjukan namun terasa cukup nyaman dan menyenangkan. Tepat setelah keduanya duduk bersisian (dan Nana sempat menangkap satu senyuman lagi dari Suho untuknya), seluruh tenda menjadi gelap gulita.

Detik berikutnya arena pertunjukan di tengah tenda bersinar—gemerlapan, ramai dan penuh warna. Musik memenuhi tenda, mengangkat atmosfer begitu tingginya. Riuh sorak dan tepuk tangan penonton meramaikan. Arena menjadi begitu hidup dengan para badut, atraksi cantik, sampai hewan-hewan sirkus yang beraksi dengan luar biasa mengagumkan. Nana berbinar menatap wanita yang melintas di atas arena dengan sebuah trapeze, tersenyum pada keseluruhan penonton dan melambai anggun.

Nana tidak bisa menyembunyikan senyum gembiranya. Dia terhanyut—ini benar-benar menakjubkan. Pertama kali baginya untuk menyaksikan pertunjukan serupa, terlebih bersama seseorang yang sempat (tidak, maksudnya masih) memesonanya, membuat perasaannya seolah terangkat dan terbang tinggi ke awang-awang.

Ini. Sungguh. Menakjubkan.

Nana berdecak begitu kagumnya, nyaris mengumpat. Merasa perlu berbagi kebahagiaan, Nana menoleh pada Suho di sampingnya, hendak berseru betapa menyenangkannya ini semua.

Namun seringai yang lelaki itu tampilkan sesaat sebelum semuanya mendadak kembali gelap gulita membuatnya menyernyit—merasakan sensasi aneh yang tak beralasan. Sungguhkah laki-laki itu menyeringai barusan?

Nana berseru dalam hatinya, mencoba tenang, menghentikan alarm paranoid yang menyala-nyala. Tapi seringai itu berbeda—

Gelap. Sunyi. Semua penerangan benar-benar mati.

Nana tidak bisa melihat apapun selama beberapa kedipan mata.

Splash.

Nana hampir sungguhan mengumpat saat mendadak lighting arena kembali bersinar menyilaukan. Tenda kembali terang-benderang.

Tapi tidak ada lagi atraksi di sana. Penonton tiba-tiba bungkam seperti dimute.

Seseorang bediri di tengah arena. Nana butuh beberapa waktu sebelum mengenali siapa orang itu.

Dia Suho.

Dan gadis itu memaksa diri untuk tidak menjerit sejadi-jadinya saat mendapati sebuah boneka badut seukuran manusia di sampingnya—di tempat dimana Suho seharusnya sedang duduk.

Nana nyaris menangis. Nafasnya mulai kacau. Apa-apaan semua ini?!

“Oke, sudah cukup atraksinya.” Seseorang di tengah arena berusaha memusatkan perhatian.

Semua penonton menyimak. Diam dan serius. Nana tidak tahu, tapi segalanya tiba-tiba terasa asing dan menakutkan. Suho yang bediri di sana mengenakan jubah panjang, dengan topi tinggi—ah, persetan. Semuanya terlanjur berubah menakutkan.

“Nona yang di sana!” Suara Suho menggema, mengacungkan tongkatnya tinggi-tinggi menuju bangku pentonton.

Sialnya, Nana tahu dialah yang ditunjuk. Dan dari jarak sekian meter, Nana tahu laki-laki itu tengah menyeringai.

“Sudahkah kuingatkan padamu untuk tidak langsung percaya pada orang asing?”

Pertanyaan itu mengundang seisi tenda menatapnya. Keringat mengaliri pelipis Nana, merasa terindimidasi dengan segala yang sedang terjadi. Nana tidak mengerti.. mengapa dia diperlakukan seperti ini?

Beberapa detik hening, sebelum Suho kembali bersuara, “Oke, maaf. Aku membuat suasana jadi tegang.” Suho berdeham, “Waktunya untuk pertunjukan pamungkas hari ini—“ Musik mulai bermain dengan volume yang menggila, “—Here comes highlight of the show!”

Sorak-sorai bergemuruh sekali lagi memenuhi tenda megah itu. Apa yang membuat penonton begitu bersemangat?! Nana tidak lagi menikmatinya. Dia tahu ini bukan untuk membuat dirinya senang. Dia hanya ingin melarikan diri sesegera mungkin!

Nana akhirnya benar-benar menangis saat tubuhnya diseret oleh dua badut tinggi menjulang menuju arena di bawah sana.

Yang Nana ingat adalah ketika dirinya dibawa berputar-putar—menari, berpindah dari tangan satu badut ke badut lainnya.

Apa-apaan ini..

Nana akhirnya dihempas. Ia berhenti dipermainkan dan kini tengah berusaha keras menyeimbangkan diri di atas kedua kakinya. Di pinggir arena Suho mengajak penonton untuk bersorak lebih keras sebelum mengeluarkan berbagai barang dari tas di tangannya.

Itu tas tangan milik Nana!

Penonton semakin histeris bersorak. Nana ketakutan—semua teriakan begitu menuntut, lapar, seolah menunggu sesuatu disodorkan pada mereka segera. Dengan begitu ajaib Suho menerbangkan lembaran-lembaran dari dompet, menuju bangku-bangku penonton. Dan para penonton tidak bisa lebih gila lagi.

Nana bertekad untuk merebut kembali barang miliknya. Dia pasti gila!

Tapi arena terasa berputar baginya kini. Semua sorak, musik, confetti, bola, badut—semuanya berputar dan berdengung menyakitkan.

Lautan kegelapan menyerang. Nana kehilangan kuasa atas dirinya.

.

.

.

Nana terbangun saat merasakan tubuhnya berguncang kecil. Ia memaksakan matanya untuk melihat lebih jelas dan otaknya untuk berpikir lebih keras. Ia ada di—

Taksi?

Mobil berhenti. Sang supir berbicara tanpa menoleh,

“Sudah sampai, Nona.”

Nana melihat keluar dari balik kaca mobil, sadar kalau taksi ini sudah mencapai gerbang rumahnya. Meski sisa ketakutan masih menyelimuti, Nana berusaha tenang. Oke, tadi itu hanya mimpi. Jadi tidak ada alasan baginya untuk tetap ketakutan seperti orang bodoh dan mengabaikan supir taksi yang menunggunya membayar.

Buru-buru dikeluarkannya dompet dari dalam tas. Dia sungguh butuh istirahat. Ia ingin buru-buru membayar, keluar dari taksi dan—

Nana merasa jantungnya berhenti berdetak dan paru-parunya berhenti bekerja. Demi Tuhan, dompetnya kosong!

Nafas Nana kembali memburu, matanya cepat menoleh ke arah kursi kemudi.

Sang supir taksi turut menoleh, perlahan, menatap Nana tepat di mata.

Jeritan tak tertahankan akhirnya lolos saat Nana mendapati Suho duduk di kursi kemudi, bersama seringai yang tercetak jelas di bibirnya.

.

.

.

fin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s