Kembali

Kembali

.

.

Vipera evanesca!”

Mendengar mantra itu, tangan Adi yang mengacungkan ranting kecil terhenti di udara, “Ap—apa?”

Rara tertawa, menghempaskan diri di hamparan rumput hijau, terengah lelah karena terlalu banyak melompat kesana-kemari. Ia meraup oksigen banyak-banyak di sela tawanya—tawa yang keras hingga matanya menyipit membentuk sabit—mengabaikan Adi yang masih berdiri di antara bingung dan kesalnya.

“Kamu kalah, Ra!” Adi bersungut-sungut, mengambil tempat duduk tepat di samping Rara. Adi sama terengahnya dengan Rara, bedanya ia terlihat sama sekali tidak berminat untuk tertawa.

“Ah, tadi aku salah ucap mantra, tahu! Aku nggak kalah. Anggap aja pertarungan tadi belum selesai dan bakal kita lanjutkan kapan-kapan.” putus Rara seenaknya. Sejak mendudukkan diri di rumput, gadis itu hanya menatap ke depan, ke arah matahari yang tak lama lagi akan tenggelam. Meski peluh mengalir di pelipisnya, Rara terlihat gembira sekali—senyumnya bahkan belum pudar.

“Apa maksudmu? Dengan mantra seperti itu kamu bukan cuma kalah, tapi seharusnya didiskualifikasi!” seru Adi penuh ketidakterimaan. “Mantra buat melenyapkan ular? Yang benar aja, memangnya aku ular?!”

Rara tertawa lagi, “Habisnya, nggak ada mantra untuk melenyapkan beruang, kan? Ujung-ujungnya aku asal sebut mantra karena terlalu memikirkan mantra khusus beruang.” Rara terus tertawa. “Pokoknya, kita sambung pertarungan tadi lain kali.”

Adi memutar bola matanya, tidak habis pikir betapa tidak mau kalahnya gadis itu. “Dasar nggak mau kalah.” Adi mengumpat. Ia menyilangkan kedua lengan gempalnya di depan dada—kesal. Mengucapkan mantra untuk ular, kemudian menyebut Adi beruang. Anak itu memang senang bertindak seenak perut. Dan mengapa Rara terus tertawa? Gadis itu menyebalkan sekali.

Jingganya sinar matahari di ufuk barat lapangan rumput itu sekejap lagi akan menghilang sepenuhnya. Tapi Rara nampaknya tak bosan mengamati. Tawa Rara yang sempat meledak tadi sudah terhenti, digantikan sebuah senyum tipis di bibirnya. Udara terasa cukup dingin dengan angin sepoi-sepoi yang semakin kencang berhembus. Rara sangat menikmatinya.

“Ingat, ya..” Rara kembali bersuara, “..kita sambung pertarungan tadi lain kali.”

Adi menyernyit. Kali ini bukan karena kesal, melainkan karena ia sadar ada yang berbeda dari nada bicara sahabatnya itu. “Kenapa kamu bersikeras melanjutkan pertarungan tadi lain kali?” tanya Adi tidak sabaran. Adi menatap Rara di sampingnya, mengamati perubahan atmosfer yang menguar dari gadis itu.

Pandangan Rara jatuh ke rerumputan di sekitar sandalnya, menunduk seiring senyumnya yang kian samar. “Biar kamu kembali.” jawabnya pelan, setengah berbisik.

“Apa?” Adi meminta pengulangan atas kata-kata yang tidak jelas didengarnya.

“Biar kamu memastikan diri bakal kembali ke sini.” jawab Rara dengan lebih tegas—menoleh menatap Adi yang ada di sampingnya. Senyumnya kembali, meski ada guratan sedih di sana.

“O—oh..” Adi bisa dengan mudah mendeteksi kesedihan dalam raut wajah sahabatnya itu, sampai-sampai tak lagi terpikir olehnya untuk kembali marah. Rasa kesal yang tadi memenuhi kepala Adi tiba-tiba saja menguap entah kemana. Setelah bermain dengan begitu serunya tadi, sama sekali tak terlintas di pikirannya mengenai hal itu. Ia hanya tidak menyangka Rara masih memikirkannya—fakta bahwa lusa Adi akan pindah ke Kalimantan. Adi sendiri pun hampir lupa.

Ada hening di antara keduanya. Rara yang larut dengan pikirannya, dan Adi yang tiba-tiba saja merasa bersalah karena sempat kesal.

“Umm.. Aku, kan, cuma ke Kalimantan, Ra. Bukan ke luar negeri.”

“Trus menurutmu ke luar pulau itu dekat dan bisa disambangi cuma dengan naik angkot? Begitu?”

Agak kaget Adi mendengar Rara yang mendadak menyahut ketus. Seingatnya, Rara hanya merespon biasa saja saat pertama kali Adi mengatakan bahwa ia akan pindah. Tapi sekarang gadis itu justru mengungkitnya sendiri.

“Ya.. nggak gitu juga, sih.” Adi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rara membuang muka, memeluk kedua lututnya. Oh, Adi benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rara dengan mood buruk yang seperti ini. Ia panik—tidak ingin dirinya menjadi alasan atas buruknya suasana hati sahabatnya. “Aku bakal berkunjung setiap liburan sekolah..”

Adi membelalak saat tiba-tiba Rara menangis keras. “E—eh.. Ra? Kok kamu nangis, sih?”

Tangis Rara semakin hebat, dan Adi semakin panik. “Ra? Rara!”

“APA?!” Dengan mata yang basah dan hidung merah, Rara menoleh cepat, menjawab Adi dengan dagu terangkat tinggi-tinggi.

“Jangan nangis, dong!”

Rara menarik kembali lendir yang hendak keluar dari hidungnya. “Makanya kamu jangan pergi!—hiks..” Suara Rara bergetar, ia mulai sesenggukan.

Melihat Rara menangis semakin keras, Adi tidak tahu mengapa matanya sendiri mendadak terasa panas. “Tapi, Ra—“

“Siapa nanti yang bakal menemani aku main? Nggak ada yang hafal semua mantra dari film itu seperti aku dan kamu, Adi!”

Adi hendak menyangkal, tetapi Rara terus meracau.

“…Nggak ada yang membantu PR Kimiaku lagi.. Yang menanggapi semua candaanku, yang merecoki bekal makan siangku..”

“Ra..”

“Kamu bakal merepotkan orang tuamu kalau-kalau kamu jatuh dari motor lagi. Kamu nggak bisa merawat luka sendiri, Adi.” Isak Rara teredam dengan posisi wajah yang ia tenggelamkan di antara kedua lututnya. Rara sedih, tapi ia sendiri tak menyangka tangisnya akan pecah seperti ini. Tidak mau berhenti, bahkan meski objek perkataannya ada di sampingnya. Rara.. hanya tidak bisa ditinggalkan oleh sahabatnya ini..

Sungguh, Adi tidak tahu harus bagaimana. Dia sendiri nyaris ikut menangis, namun ditahannya kuat-kuat. Lagi, Adi tidak menyangka Rara bisa sampai menangis begini, pun tidak menyangka Rara berpikir sampai sejauh itu.

“Jangan-jangan di sana kamu bakal punya sahabat baru. Kamu bakal lupa mengirim kabar padaku. Kamu bakal melupakan aku—ADUH!”

Kepalan tangan gempal Adi mendarat keras di kepala Rara, membuat gadis itu refleks mengaduh kesakitan di tengah tangisnya. “Apa-apaan—“

“Kamu menyebalkan. Kamu pikir cuma kamu yang sedih?” ujar Adi cepat—antara kesal, emosi, dan sedih. “Aku nggak semudah itu berteman sama orang baru, Ra. Dan aku nggak semudah itu melupakan seorang sahabat.” tukasnya. “Ah, kamu memang menyebalkan.”

Tanpa diduga-duga, volume tangis Rara meningkat. Ia kemudian menangis di bahu Adi yang terasa seperti bantal. Secepat kilat kedua tangan Rara beringsut mengarah ke kepala Adi, meraih rambutnya untuk dijambak dengan brutal.

“Pokoknya kamu harus kembaliii!!!”

“A—aduh!! Iya, Ra! Ya ampun! Singkirkan tanganmu!”

Petang itu Rara banyak menangis di hadapan Adi—sepertinya untuk yang pertama kalinya. Ia tak pernah begitu sebelumnya. Banyak kata-kata perpisahan yang Rara ucapkan sembari setengah mengomel—pada Adi yang bahkan masih kebingungan mencari cara agar berhasil menenangkan Rara.

Intinya, Rara memaksa Adi untuk kembali secepatnya, agar mereka bisa melanjutkan pertarungan. Atau.. agar Rara tidak merindukan Adi lagi.

.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s