In Silent

in silent

Luhan, Chanyeol [EXO]

.

Telah dipost juga di exofanfictionindonesia.wordpress.com

.

Hanya melalui satu-satunya jendela di rumah itu, berkas-berkas cahaya bisa menembus masuk—meski kelambu tipis berusaha menghalanginya. Entah karena kurangnya ventilasi, atau sang pemilik rumah yang memang tidak senang dengan cahaya. Sunyi, senyap, pun juga dingin. Hembusan angin dari celah jendela meniup kelambu yang menggantung di sana—sampai pula meniup untaian poni kecoklatan milik seseorang yang ada di dalam rumah.

Laki-laki itu tengah memejamkan mata, bersandar damai di atas kursi besar menghadap tungku tanpa api dengan selimut besar di pangkuannya. Tidak ada guratan ekspresi apapun dari wajah teduh itu. Dia hanya terpejam, begitu tenang. Ia nampak sedang menunggu—mungkin menanti deritan dari pintu masuk yang akan memecah keheningan rumah itu. Kedua kelopaknya membuka kemudian. Diliriknya jarum jam pada jam dinding. Pukul 6 sore. Si rambut coklat mulai beranjak.

Selain dari selimut yang selalu menemaninya, ia bisa mendapatkan setidaknya sedikit kehangatan setiap menyeduh kopi untuk orang itu—orang yang ditunggunya. Kira-kira, tidak lama lagi orang itu akan pulang. Dituangkannya air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi, kemudian menikmati kepulan uap panas yang timbul. Dalam setiap gerakannya mengaduk kopi, wajah orang yang ditunggu selalu terbayang. Sempat muncul sepercik kecil amarah, namun dengan mudahnya amarah itu padam ketika ia mencoba mengingatkan dirinya sendiri bahwa orang itu adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya kini.

Luhan, aku membutuhkan bantuanmu.”

Kalimat bernada memohon yang pertama kali diucapkan kakaknya dahulu tiba-tiba saja hinggap di pikirannya. Saat itu adalah masa-masa paling menyedihkan—awal mula kehidupan mandiri mereka sejak semua sanak saudara pergi. Luhan tentu tidak menolak, ia memenuhi permintaan kakaknya dengan begitu mudah. Mulai dari sana, Luhan terpaksa berhenti bernyanyi.

Park Luhan tidak membenci Park Chanyeol. Tidak akan pernah bahkan meski jiwa yang menjadi taruhan. Luhan sangat menyayangi kakaknya itu. Rasa sayang itu bahkan membuatnya seolah bisa melakukan apapun untuk sang kakak.

Namun ketika suatu hari desas-desus tidak jelas yang tak berdasar mulai menyebar, Luhan tidak bertindak.

Orang bilang, Park Chanyeol melancarkan bisnis gelap ilegal di balik setiap hari-hari sibuknya.”

Begitu kira-kira bunyinya. Luhan pikir, toh orang-orang itu tidak tahu apa-apa. Makanya ia tak pernah sekalipun menggubris. Dia mengenal kakaknya lebih dari siapapun, dan dia tahu serta mengerti apa yang sesungguhnya dikerjakan kakaknya lebih dari orang-orang itu. Dan, apapun pekerjaan itu, Luhan menghargainya. Dia tahu kalau semua yang Chanyeol lakukan adalah demi memenuhi kebutuhan mereka berdua.

Luhan bahkan tidak bernah membiarkan dirinya berprasangka buruk. Seburuk apapun pekerjaan itu terdengar, Luhan akan kembali mengingat bahwa semua itu dilakukan demi dirinya. Sekali lagi, Luhan menyayangi kakaknya. Dan ia yakin begitu pula Chanyeol.

Bunyi deritan yang ditunggu akhirnya terdengar dari arah pintu masuk. Kaki-kaki ringkih Luhan segera bergerak gesit untuk menyambut yang datang. Kakaknya sudah pulang.

Luhan melempar senyum terbaiknya—sesuatu yang biasa ia lakukan setiap menyambut kedatangan Chanyeol. Sang kakak ikut tersenyum, membiarkan tas nya diambil alih oleh Luhan. Sembari melonggarkan ikatan dasinya, Chanyeol bergerak menuju kursi kecil di samping jendela dan duduk di atasnya.

“Sudah makan?” Chanyeol bertanya saat Luhan meletakkan secangkir kopi di hadapannya. Luhan tersenyum sembari mengangguk, lalu beranjak mengambil segelas air hangat untuk dirinya sendiri. Ia duduk di hadapan Chanyeol beberapa saat kemudian. Yang lebih tua menyesap kopinya dan menelannya perlahan, seolah sedang merasakan baik-baik kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhnya yang dingin.

“Harimu baik?” tanya Chanyeol, mengawali percakapan mereka petang ini. Lagi-lagi Luhan tersenyum dan mengangguk. Chanyeol mengangkat cangkirnya lagi, menghirup aromanya sambil terpejam sebelum menenggaknya kembali.

Saat kelopak mata Chanyeol akhirnya terbuka, Luhan yang melihat tatapan itu menelan ludah. Cahaya dari jendela yang membias di mata kakaknya itu seperti membuat mata kakaknya lebih tajam bersinar. Namun Luhan berusaha tidak menampakkan kegundahannya.

“Luhan,” Chanyeol akhirnya memanggil namanya. Dan Luhan lebih dari mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. “Aku perlu bantuanmu.”

Seiring nafasnya yang memburu, Luhan mencoba tenang. Ia menatap mata kakaknya, menunggu permintaan apa yang akan terlontar kali ini. Lama sekali, Chanyeol hanya diam. Ada hening yang cukup panjang setelahnya.

Luhan menjatuhkan pandangan kepada dua telapak tangannya yang saling meremas gelisah. Luhan seharusnya tidak begini. Dia bahkan sudah melewati masa yang sangat sulit, seharusnya dia siap untuk hal serupa. Namun kali ini, Luhan benar-benar ketakutan.

Begitu mendongak, Luhan mendapati kakaknya tengah menggenggam erat cangkir kopi. Matanya menatap cangkir itu penuh amarah. Isi cangkir itu bergolak hebat karena tangan besar kakaknya yang bergetar.

“ARGH!”

Luhan tidak tahu darimana suara serupa pecahan barang yang ia dengar berasal. Apakah dari cangkir kopi yang kini pecah berkeping-keping di lantai, atau dari hatinya yang terasa hancur saat melihat kakaknya tengah meremas kasar rambutnya sendiri dan jatuh bersimpuh di lantai.

Kedua kaki Luhan bergetar, berusaha keras bergerak untuk menyambangi kakaknya di bawah sana. Hati Luhan terasa sangat sakit. Ia tidak bisa melihat kakaknya seperti ini. Chanyeol bahkan menangis tersedu-sedu, meremas rambutnya kuat seolah ingin mencabutnya dari batok kepalanya sendiri.

Luhan berusaha menghentikan Chanyeol. Ia raih tangan besar kakaknya menjauh. Ia mendekap erat tubuh kakaknya, mencoba menghentikan guncangan hebat tubuh itu. Tapi Chanyeol menangis meraung-raung.

“Dia menginginkan matamu, Luhan! Dia menginginkan matamu!!”

Park Chanyeol berteriak histeris, dan Luhan tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis. Air matanya jatuh dan mengalir deras. Mata.. Kali ini matanya?

Tuhan, Luhan tidak tahu mengapa hatinya bisa terasa sesakit ini. Tidak, bukan karena permintaan itu. Luhan hanya tidak bisa melihat kakaknya terguncang seolah ingin membunuh dirinya sendiri karena telah mengatakan permintaan itu.

Luhan menangis hebat. Ia ingin menenangkan kakaknya, tapi ia bahkan hanya seorang laki-laki bisu.

Luhan menatap kakaknya tepat di matanya yang memerah basah, mencoba memberikan kedamaian dan kepercayaan yang cukup agar Chanyeol kembali tenang. Luhan menatap Chanyeol lamat-lamat, seolah sedang menyalin pahatan wajah kakaknya secara identik ke dalam ingatannya.

Dan dengan genggaman erat tangan kecilnya pada tangan Chanyeol, Luhan mengangguk—memberikan izin selapang-lapangnya bagi permintaan sang kakak.

.

fin.

Advertisements

3 thoughts on “In Silent

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s