A Bestfriend’s Diary

Xi Luhan, Oh Sehun [EXO]

BL-Ficlet

.

It’s BL :3 BxB, so don’t read this anymore if you don’t like :3

.

.

.

Luhan merasakan sentuhan di bahunya saat tangannya sibuk memasukkan perlengkapan belajarnya ke dalam tas. Ia mendapati sahabatnya berdiri di samping mejanya, tersenyum tipis menyapanya.

“Ayo, Lu.” ajaknya—mengisyaratkan agar Luhan mempercepat gerakannya.

“Sebentar lagi.” Luhan bergegas. Praktikum di jam pelajaran terakhir membuatnya tak sempat merapikan mejanya yang berantakan, sementara tadi ia harus buru-buru menyusul ke lab karena telat masuk kelas. Satu demi satu ia merapikan alat tulisnya yang berserakan. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, merasa salah satu barangnya hilang. Luhan mengerutkan dahi. Ia tahu dirinya pelupa, tapi barang seperti itu seharusnya tidak boleh hilang! Ia bahkan tidak ingat sama sekali kapan dan dimana terakhir ia memegang barang itu.

Sehun mengamati Luhan yang terus terdiam, menyisakan beberapa buku di atas meja yang belum selesai dirapikan.

“Ada apa?” tanya Sehun, menyadarkan Luhan dari lamunan singkatnya.

Baru Luhan membuka mulut hendak menjawab, Sehun melirik jam tangannya. Dan Luhan mengurungkan niat untuk meminta Sehun menunggu lagi agar ia bisa mencari barang itu, karena ia sadar telah membuang terlalu banyak waktu sahabatnya itu untuk menunggunya. Jadi ia memutuskan untuk mencarinya esok hari, atau mungkin mengobrak-abrik kamarnya sesampainya di rumah nanti—mungkin saja ia lupa dan ternyata barangnya tertinggal di kamar (walaupun seingatnya ia selalu membawa barang itu kemanapun, termasuk ke sekolah).

“Ah, tidak apa-apa.” Luhan segera menyelesaikan kegiatannya, kemudian menggendong ranselnya dan menarik tangan Sehun agar bergegas menuju parkir motor.

.

Sehun baru tiba di rumahnya setelah mengantar Luhan pulang—kegiatan rutinnya setiap hari. Ia jelas tak mau sahabatnya pulang sendiri sementara ia membawa kendaraan. Dan Luhan yang ceroboh itu, membuat Sehun khawatir jika harus membiarkannya pulang sendirian. Sehun bahkan pernah membayangkan kalau-kalau Luhan lupa mengikat tali sepatunya, dan berakhir mengenaskan dengan tertabrak mobil di tengah jalan karena jatuh saat menyeberang. Itu khayalan konyol, memang. Tapi mungkin Sehun punya kekhawatiran khusus untuk Luhan.

Bagi Sehun, Luhan adalah satu-satunya yang cocok dan klop dengan dirinya. Contohnya, dialah satu-satunya yang tidak mempermasalahkan kelemahan Sehun dalam berkomunikasi. Selain itu, ada banyak sekali hal yang Sehun sukai dari Luhan (ia mencatatnya secara khusus di dalam otak). Dikarenakan hal-hal yang tak terhitung jumlahnya itu, Sehun menjadi terlalu bergantung pada Luhan—meskipun dari luar terlihat Luhan-lah yang selalu mengekori Sehun kemana-mana.

Saat meletakkan ranselnya di kursi meja belajarnya, Sehun melirik beberapa buku catatan bersampul logo tim sepakbola di atas mejanya. Ah, ia lupa mengembalikannya pada Luhan. Malam sebelumnya Luhan datang berkunjung dan mengerjakan tugas di kamarnya, dengan alasan menghemat biaya akses internet. Sehun jelas tidak keberatan, ia justru senang karena ia bisa bersama Luhan lebih lama di rumahnya yang sepi. Toh rumah Sehun memang dilengkapi layanan internet yang bisa diakses tanpa batas, jadi Sehun bersyukur seseorang bisa memanfaatkannya, terutama karena dia adalah Luhan. Tapi karena sifat pelupanya, akhirnya beberapa catatan luput dari perhatian Luhan hingga ia lupa membawanya pulang.

Setelah membawa buku-buku itu ke dalam genggamannya, Sehun duduk di tepi ranjang. Ia tertarik untuk sedikit mengintip bagaimana cara Luhan menata materi di dalam catatannya.

Tapi setelah melewati beberapa halaman di dua buku pertama, Sehun memutuskan untuk berhenti. Pelajaran di sekolah hari ini sudah cukup menjemukan, ia tak mau kepalanya mendadak pening karena menerima materi yang sama sementara ia belum sempat mengistirahatkan pikirannya.

Sejenak Sehun merebahkan diri di kasur empuknya. Satu menit, dua menit, sampai tiba-tiba ia kembali tertarik untuk melanjutkan kegiatannya tadi. Satu buku belum sempat ia buka, dan buku itulah yang kini berada di tangannya. Masih dengan seragam lengkap, Sehun menelungkup di kasurnya, mencari posisi nyaman untuk melaksanakan kegiatan barunya.

Buku itu terlihat berbeda dari yang lain. Ukurannya lebih kecil namun juga lebih tebal, dan sampulnya berwarna biru polos berbahan beludru.

Halaman pertama, Sehun bisa melihat tulisan hangul yang sangat rapi—terlalu rapi khas seseorang yang baru belajar. Disana terdapat beberapa data diri sahabatnya, ditulis menggunakan tinta biru. Sehun tertawa saat melihat Luhan menuliskan hal aneh di samping kata ‘Kegiatan Favorit’.

“Bermain bersama Sehun? Tidakkah seharusnya dia mencantumkan ‘bermain bola’ saja sebagai kegiatan kesukaannya?” tawa Sehun, sebelum kemudian dibaliknya halaman itu menuju halaman berikutnya. Mulai dari sana Sehun terus membaca tanpa henti. Terus membalik halaman satu per satu tanpa melewatkan sepatah katapun untuk dibaca.

Sampai di pertengahan buku, Sehun menyimpulkan dengan jelas bahwa buku itu adalah buku harian Luhan. Ia menyernyitkan dahinya, bingung mengapa keseluruhan isinya selalu melibatkan dirinya. Dari mulai ungkapan betapa senangnya Luhan karena bisa berkenalan dengan Sehun di hari-hari pertamanya di Seoul, juga cerita-cerita keseharian mereka yang selalu dihabiskan bersama-sama. Ia juga menemukan berlembar-lembar yang membahas tentang dirinya sendiri dari sudut pandang seorang Luhan. Bagaimana kesalnya Luhan dengan sikap Sehun yang terkadang sulit memberikan tanggapan di setiap percakapan mereka berdua, bagaimana irinya Luhan terhadap postur tubuhnya yang begitu ideal (disini Luhan menuliskan secara rinci bagaimana penampilan fisik Sehun), bahkan daftar hal-hal yang disukai dan tak disukai Sehun juga dituliskan oleh Luhan.

Sesaat, Sehun larut dalam pikirannya.

Ia tahu Luhan adalah lelaki yang cukup manis, baik paras maupun sikapnya. Tapi Sehun tak pernah berpikir sahabatnya ini sebegitu manisnya sampai memiliki buku harian seperti ini. Apalagi yang isinya dipenuhi hal-hal tentang sahabatnya sendiri, Sehun.

Walaupun Sehun tahu tindakannya telah melanggar privasi, tapi ia terlalu asik membacanya. Senang juga rasanya bisa mengetahui isi hati sahabat sendiri. Ia akan putuskan nanti, apa ia akan mengaku telah membaca buku harian Luhan lalu meminta maaf, atau diam saja dan mengembalikannya sambil berpura-pura tak tahu apa-apa. Sekarang, ia ingin tahu apa yang Luhan tulis di halaman berikutnya.

Setengah jam berlalu. Sehun telah menyelesaikan bacaannya sejak bermenit-menit sebelumnya. Halaman terakhir ditulis dua hari yang lalu, tanggal 20 April 2013. Dan apa yang ditulis Luhan disana membuat Sehun terkejut setengah mati, terbengong-bengong, dilanjutkan kegiatan tak bermutu berupa melamun selama dua puluh menit berkat kata-kata yang barusan dibacanya di buku harian Luhan. Ia sama sekali belum beranjak dari posisinya. Buku harian Luhan masih setia tergenggam erat di tangannya, menampakkan halaman yang sama.

Begitu tersadar, Sehun melompat berdiri. Dirapikannya buku-buku milik Luhan dan ia masukkan ke sebuah paper bag. Ia menyempatkan diri untuk mandi, mengenakan salah satu stelan casual-nya, serta sedikit menata rambutnya dalam gerakan kilat. Kunci motor yang teronggok di meja nakas pun segera ia sambar. Dengan sebuah tas jinjing berisi buku di tangan kiri dan kunci motor di tangan satunya, Sehun berlari keluar.

Dia akan pergi ke rumah Luhan untuk meminta maaf. Mungkin juga.. untuk mengajaknya kencan.

.

.

Seoul, 20 April 2013

Kurasa setelah hari ini, aku harus meminta maaf. Kepada Tuhan, mungkin? Pada kedua orang tuaku, dan mungkin juga Sehun. Karena sepertinya aku membuat kesalahan besar.

Beberapa minggu terakhir, aku merasa ada yang salah dengan tubuhku. Dimulai pada suatu pagi beberapa minggu yang lalu saat Sehun menjemputku di rumah untuk berangkat ke sekolah. Aku tiba-tiba saja berdebar melihat senyum pertamanya untukku dalam hari itu.

Esoknya aku masih ditemani oleh debaran-debaran aneh itu. Ketika Sehun memanggilku dengan nama panggilan yang berbeda, ketika Sehun menyuruhku menggenggam ujung jaketnya saat ia hendak mengebut, ketika Sehun tersenyum setelah mengantarku pulang, ketika Sehun memakai helm dengan begitu kerennya, semua karena Sehun. Semua debaran itu karena Sehun. Oh iya, jangan lupa bonus keringat dingin di telapak tanganku pada saat yang sama.

Walaupun aku takut mengakuinya bahkan jika hanya dalam hati, tapi aku tahu, aku menyukai Sehun.

Ia sahabatku, aku tahu. Dan aku yakin dia normal. Ini pertama kalinya untukku. Sebelum ini, kupikir akupun normal seperti laki-laki lainnya. Tapi.. Ya Tuhan, aku bingung mendeskripsikan perasaan ini. Aku mau bilang kalau aku jatuh cinta, tapi.. kami ini sama. Terlebih, kami bersahabat baik. Ini menyalahi aturan namanya.

Bagaimana ini? Aku, menyukai, Sehun.

Apa itu konyol?

Menjijikkan, ya?

Huh, rasanya memang tidak pantas.

Jadi, kupikir setelah ini aku harus banyak-banyak minta maaf dalam setiap doaku, karena telah merasakan sesuatu yang salah. Lalu aku akan berlatih untuk menyembunyikan perasaan ini, setidaknya sampai Sehun memiliki kekasih. Dengan begitu aku bisa memulai untuk menghapus perasaanku padanya.

Uh, maafkan aku, Sehun. Aku menyukaimu.

.

.

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s