Broken White

Cho Kyuhyun & A Girl

Drabble

.

.

.

BRAK !

Pintu kokoh yang sebelumnya tertutup dengan rapatnya mendadak menjeblak terbuka saat seorang gadis baru saja berhasil menyingkirkan kain yang menutup mulutnya dengan susah payah. Sang pendobrak pintu terengah-engah. Kemejanya yang berwarna putih polos telah basah oleh keringat, hingga samar-samar menampakkan bentuk tubuh bagian atasnya. Pandangannya nyalang menyisir seluruh penjuru ruangan, berusaha menemukan sosok yang dicarinya.

Gadis yang masih terduduk di sudut ruangan dengan kedua tangan terikat membelalakkan matanya. Gaun putihnya pun tak jauh berbeda dari keadaan kemeja pria yang berdiri di hadapannya—basah oleh peluh yang tak hentinya mengucur deras, ditambah noda-noda kotor berwarna kecoklatan hampir di seluruh permukaannya.

“Hyun?” Gadis itu menatap pria yang dipanggilnya Hyun, sementara pria itu bergerak cepat meraih kedua tangannya yang terikat, berusaha melepaskannya. “Apa yang kau lakukan disini?! Bukankah sudah kubilang jangan?!!” omelnya. Namun Hyun tak menggubris. Dengan nafas memburu, ia berkonsentrasi melepaskan simpul tali yang melilit tangan gadisnya.

“Kau gila, huh? Bagaimana bisa kau berpikir aku akan membiarkanmu disini?” tanya Hyun, tanpa sekalipun menatap gadis di hadapannya. Nafasnya tak hanya memburu karena lelahnya berlari jarak jauh, tapi juga karena amarah. Ia marah, tentu saja. Ia tidak suka—ia membenci jika gadisnya yang cantik harus ternoda oleh tangan-tangan kasar bayaran itu.

“Cho Kyuhyun..” panggil sang gadis lirih. Sorot matanya dipenuhi rasa takut, was-was, dan khawatir akan keselamatan pria di depannya ini, jauh melebihi rasa khawatir pada dirinya sendiri. “Pergilah dari sini. Sekarang. Aku… aku akan menyusul nanti.” tambahnya. Suara lembut gadis itu tersendat-sendat, sementara air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang kini diwarnai noda-noda kotor.

“Bodoh. Kau sangat bodoh. Kau tahu itu tidak mungkin.” desis Kyuhyun. Ia berkali-kali mengumpat kesal karena tali yang sedang berusaha ia uraikan tak kunjung terlepas. Demi Tuhan, mereka tidak punya cukup waktu untuk melepaskan setiap ikatan di tubuh gadis itu.

Saat mendapati gadisnya melotot ke arah sesuatu di balik punggungnya, Kyuhyun menoleh.

Dan gadis yang masih sepenuhnya terikat itu sama sekali belum bisa menangkap apa yang terjadi setelahnya. Seorang berbadan kekar yang baru saja ia lihat muncul di pintu masuk beberapa detik yang lalu, kini berdiri di hadapan Hyun-nya dalam jarak terlewat dekat. Gadis itu hanya sempat mendengar suara aneh dari arah keduanya sebelum Kyuhyun terjatuh dalam posisi membelakanginya.

Air matanya mengalir semakin deras saat menyadari pria kekar tersebut menggenggam sebuah pisau berlumuran darah di tangannya, kemudian menatap tanpa ekspresi pada tubuh yang kini tak bergerak itu.

Tanpa peduli dengan keadaannya yang masih terikat pada kursi, gadis itu bergerak-gerak tak terkendali. Ia mulai sesenggukan. Dengan segala kekuatannya, ia menjatuhkan tubuhnya ke sisi kekasihnya, meraih bahunya dan membalikan tubuh itu menggunakan dagu dan bahunya sendiri.

“Hyun.. Ak—aku.. aku sudah bilang.. jangan datang m—mencariku…” Gadis itu menempelkan wajahnya di lekukan leher Kyuhyun, berbisik lirih di tengah isakannya. “Hyun..”

Kedua kelopak mata Kyuhyun mengedip semakin pelan. Setetes dua tetes darah mulai jatuh mengalir dari sudut bibirnya.

“Tapi aku—mengkhawatirkanmu, cantik…” Dengan suara yang bahkan sudah nyaris menyamai desau angin, Kyuhyun memaksakan sebuah senyum.

Tangisan gadis itu terdengar semakin keras. Seluruh tubuhnya berguncang begitu hebat. Susah payah ia merangkak ke atas tubuh kekasihnya, menggesekkan gaunnya ke perut pria itu untuk menyeka darah yang ada disana. Tapi percuma, darah yang tak berhenti mengalir itu justru semakin memenuhi pakaian keduanya.

“Ak—aku memang bodoh… Jadi… maafkan aku, ya?” Lagi-lagi Kyuhyun memaksakan sebuah senyum. Sekali, ia terbatuk hingga mulutnya memuncratkan cairan merah pekat. “Maafkan aku..” Kemudian matanya tertutup perlahan seiring memucatnya warna kulitnya.

Tidak. Tidak. Tidak.

Sang gadis menggeleng kuat-kuat. Kekasihnya tak memiliki kesalahan apapun yang membuatnya harus terbunuh.

“Hyun..” Ia terus memanggil-manggil kekasihnya, tak peduli suaranya berangsur habis dan berubah serak hingga menyerupai bisikan.

Pakaian mereka telah ternoda oleh banyak sekali warna merah.

Tidak. Gadis itu menggeleng sekali lagi. Bukan warna ini yang mereka sukai. Mereka sama, mereka sama-sama mencintai warna putih. Rusak sudah warna pakaian itu, warna pelambang kesucian yang seharusnya menjadi warna pengantar menuju altar malam ini.

Gadis itu tak tahu apa yang harus ia perbuat. Jika separuh jiwanya telah mati, maka apa yang harus ia lakukan?

.

.

P.S : Sedang mencoba untuk menulis cerita-cerita singkat~^^
Maaf sebesar-besarnya kalo kurang enak dibaca, maksa, nggak ada feel, miskin kosakata, pasaran, dan lain-lain. Masih belajar
😦 Buat siapapun yang nggak sengaja mampir baca cerita ini, mohon keikhlasannya untuk memberikan komen berupa saran demi kemajuan author amatiran ini 😦  Terimakasihbanyak~~

Advertisements

One thought on “Broken White

  1. Sukses bisa bikin gue nangis hehehe ditunggu cerita selanjutnya yaa yg bisa bikin chika nangis lagi. Gue yg pasti ngisi komen kalo ga lupa oke keep writing 아라 (?) Lupa lupa inget nama koreamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s