The Evil Partner [Part 5-END]

Notes : HALLOOOOOO~~~ Setelah hibernasi yang kelewat panjang, saya balik lagi~~
Uhm.. Mmm.. Entah setelah ini di post, masih ada yang mau baca atau nggak. Secara rasanya ini cerita udah—apa ya? Basi mungkin? Saya sendiri nggak bisa ngebayangin Kyuhyun yang sekarang dengan seragam SMA dan menjalani keseharian kayak di ff ini. So mendingan gunakan Kyuhyun era Sorry-Sorry sebagai gambaran tokoh dia di ff ini. GYAHAHA/? Big thanks untuk bulan penuh berkah ini, yang telah memberikan secercah cahaya/? buat saya sampe saya kembali punya niat buat menamatkan ff terlupakan ini. Uh, setelah ini saya nggak tau apa masih bisa ngelanjutin ff-ff lain yang juga terbengkalai, karna saya malah mulai nulis cerita baru lagi, dengan cast yang belum pernah saya pake sebelumnya. Ah, mungkin ending ff ini nggak akan terlalu memuaskan (memuaskan siapa btw? :v), karna saya cuma buat ending ringan, berhubung ff ini juga bermula dengan adegan ringan ala-ala school life. Fufufu.. Kayaknya terlalu banyak note disini. Oke, let’s go to the story^^

TheEvilPartnerPart5

***

Review

Ditengah keheningan yang tercipta sejak beberapa menit yang lalu, suara pintu yang dibuka mengejutkan mereka. Kyuhyun yang pertama kali berdiri.

Kyuhyun bertanya tanpa basa-basi, dan segera ia mengerti jawabannya saat Dokter menggelengkan kepalanya.

Ahra jatuh pingsan. Dan sungguh, Jaemi ingin menangis melihat Kyuhyun jatuh terduduk seakan tak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.

Ya Tuhan.. Apa yang bisa kulakukan untuk mengembalikan senyumnya seperti hari kemarin?

***

Tanpa bisa melakukan apapun, Jaemi hanya berdiri membisu memandang kakak-beradik itu. Dalam duka keluarga seperti ini, apa yang bisa Jaemi lakukan? Dia bukan siapa-siapa.

Jaemi bisa merasakan perasaan itu. Kehilangan sosok yang diam-diam disayangi dan diharapkan kehadirannya setiap waktu. Perasaan yang sangat dalam, hingga berhasil meruntuhkan penghalang yang selama ini menyelubungi hati laki-laki yang masih terduduk lemas di lantai itu.

Jaemi hanya sebatas partner kelompok untuk Kyuhyun. Setelah tugas itu selesai, apa Jaemi masih memiliki peran di dalam kehidupan laki-laki itu? Mungkin tidak, tapi Jaemi benar-benar tidak ingin menyudahi hubungan pertemanan yang baru dimulai ini.

Dua orang itu berjalan terseok-seok ke dalam kamar, sementara Jaemi hanya berdiri di dekat pintu.

Apa aku bisa melihat senyumnya lagi?

Akhirnya Jaemi memutuskan untuk pulang ke rumah. Entahlah, ia hanya ingin berbaring di kamarnya yang suram itu sekedar untuk mengistirahatkan perasaannya yang terasa kacau.

Sesampainya dirumah, Jaemi melangkah dengan lesu menaiki tangga menuju kamarnya. Di pertengahan tangga, ia berpapasan dengan Ibunya.

“Jaemi? Dimana Kyuhyun? Bagaimana dengan.. Hey? Kau menangis?” Ibu Jaemi mengangkat wajah berlinang air mata anaknya itu.

Jaemi, untuk pertama kalinya, ingin sekali menangis keras dan mencurahkan perasaannya pada sosok seorang Ibu. Karena itu, saat ini juga, ia menghambur ke pelukan wanita di hadapannya itu. Ia menangis terisak sambil memeluk erat Ibu tiri yang jauh sebelum ini sangat dibencinya.

Ibu Jaemi sangat terkejut. Ini pertama kalinya anak itu memeluknya dan menangis sekaligus. Namun kali ini ia tahu, perannya sebagai Ibu benar-benar dibutuhkan pada saat seperti ini. Sudah saatnya ia menjadi Ibu yang sesungguhnya.

“Jaemi.. Ada apa?” tanyanya. Karena masih agak terkejut, Ibu Jaemi hanya bisa diam dan membiarkan Jaemi memeluknya di tangga itu.

“A.. aku.. hanya.. Aku hanya—tidak ingin.. Aku hanya tidak ingin dia bersedih.. Aku.. Apa yang harus kulakukan?” isak gadis itu. Tangisannya makin menjadi, menggambarkan perasaannya yang meluap-luap. Bayangan Kyuhyun yang sedang menangisi Ayahnya terus menghantui pikirannya.

Sejenak Ibu Jaemi hanya diam. Ia terkejut, gadis belia yang biasanya cuek ini, menangis begitu keras seolah sedang merasakan perasaan yang sangat dalam dan menyakitkan. Ia merasa begitu bodoh, dengan ketidaktahuannya tentang karakter anaknya sendiri.

Tangan Ibu Jaemi terangkat ke punggung anaknya itu, menenangkan guncangan hebat yang dirasakannya. “Menangislah.. Kau bisa menceritakan semuanya padaku.” ucapnya sambil tersenyum.

Malam itu, hanya ada Jaemi dan Ibunya. Kyuhyun tidak datang kesana.

***

Sejujurnya, hari ini Jaemi tak ingin datang ke sekolah. Tapi ia tidak ingin semakin menjadi anak tidak berguna yang malas sekolah. Dan.. ia ingin bertemu seseorang. Sejak semalam, Jaemi sama sekali tak bisa menghubungi lelaki itu. Ponselnya tidak aktif sementara Jaemi sangat mengkhawatirkan sekaligus merindukannya. Namun hingga jam pelajaran dimulai, Kyuhyun tidak juga datang. Bangku di sampingnya itu masih kosong.

Jaemi menghela nafas. Mungkin hari ini akan diadakan pemakaman, hingga Kyuhyun tak mungkin pergi sekolah. Tentu ia sangat ingin datang, tapi bagaimana caranya? Selain dengan menghubungi Kyuhyun, Jaemi tak tahu cara lain lagi.

Meskipun kepalanya dipenuhi hal-hal tentang Kyuhyun, Jaemi sudah bertekad ingin mengikuti pelajaran dengan baik. Sejak semalam dimana ia dan Ibunya telah rujuk, Jaemi pun sadar sudah saatnya ia berubah juga. Ia tidak ingin lagi menjadi gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa.

~

Seperti sebelum-sebelumnya, Jaemi keluar dari kelas paling terakhir. Koridor sudah cukup lengang saat ia berjalan menuju gerbang. Saat Jaemi keluar, ia melihat seorang wanita cantik dengan dress hitam berdiri di dekat pintu gerbang. Begitu menyadari bahwa wanita itu adalah Cho Ahra, Jaemi melesat menghampirinya.

“Eonni?”

Cho Ahra segera menoleh. Ia langsung tersenyum melihat Jaemi, meski wajahnya terlihat agak kusut dan pucat.

“Jaemi? Sudah pulang?” tanya Ahra.

“Ne, eonni. Ada apa datang kesini? Bagaimana dengan.. Kyuhyun?” tanya Jaemi, berusaha mengerem rasa penasarannya yang meledak-ledak.

“Dia.. tidak baik-baik saja, tentunya. Aku kesini untuk mengundangmu ke rumah duka. Kau mau ikut denganku?” tanya Ahra lembut. Entah lembut, atau lesu. Setidaknya masih ada guratan senyum di wajahnya.

“Tentu saja mau! Tapi apakah tidak apa-apa dengan seragam sekolah ini?” Jaemi menatap penampilannya sendiri.

Ahra mengangguk sambil tersenyum, kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Jaemi.

~

Jaemi melangkahkan kakinya masuk ke rumah yang bagaikan istana itu. Rumah yang begitu besar. Indah, kalau saja tidak dihiasi karangan-karangan bunga berisi ucapan duka cita di sekelilingnya.

Setelah melewati beberapa ruangan, Jaemi sampai di ruang dimana ia bisa melihat lelaki itu disana. Dengan stelan formal serba hitam, Kyuhyun berdiri di samping foto Ayahnya dan membungkuk kepada tamu-tamu yang datang memberi penghormatan terakhir untuk Sang Ayah.

Jaemi menjadi tamu yang terakhir. Baru selangkah ia memasuki ruangan, kakinya melemas. Ia tak kuat melihat bagaimana Kyuhyun sekarang. Rambutnya nampak berantakan, wajahnya pucat, dan ia sama sekali tak menatap ke depan seperti sedang melamun.

Setelah memberi penghormatan terakhirnya, Jaemi berdiri dihadapan Kyuhyun, menatapnya cukup lama tanpa berucap apapun.

Tiba-tiba Jaemi menarik nafas panjang, dan.. “Aigoo! Kau Cho Kyuhyun, kan? Partner sekelompokku yang dingin dan menyebalkan itu? Ckckck.. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Kemana perginya wajah tegasmu itu, heh? Ayo jawab aku! Kau mau wajah mengerikan ini terpajang di mading sekolah?” teriak Jaemi. Ia mengangkat dagunya keatas, menyapukan pandangannya tepat ke wajah Kyuhyun.

Di sudut ruangan, Cho Ahra tertawa kecil. “Apa-apaan anak itu..” gumamnya geli.

Mata Kyuhyun mulai membesar. Setidaknya sudah ada sedikit cahaya di matanya. “Kau..”

“Ish ish ish.. Apa-apaan ini? Sapu ijuk, ya?” Jaemi memainkan rambut Kyuhyun yang memang berantakan, kemudian mengacak-acaknya hingga tak berbentuk.

PLETAK.

“Dasar gadis bodoh.”

“Yaish! Menjawab pun tidak, seenaknya saja memukul kepalaku, hah?!” teriak Jaemi lagi. Ia sudah siap membalas saat laki-laki di hadapannya beringsut memeluknya. Tubuhnya menjadi kaku seketika.

“Semalam kau pergi tanpa izin.” bisik Kyuhyun pelan, mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Ia tak bergerak sama sekali, seolah posisi itu adalah posisi ternyaman dibandingkan yang lain.

Jaemi berkedip-kedip selama beberapa saat, masih dengan tubuh yang kaku tak bergerak. “Me—memangnya aku butuh izin darimu?” sahut Jaemi (sok) lantang.

Setelah itu, tak ada lagi yang bersuara. Kyuhyun hanya diam namun enggan melepaskan pelukannya.

“Hei.. punggungmu bisa pegal kalau berlama-lama di posisi ini..” Jaemi berkata pelan. Ia merasa ada yang aneh dengan detak jantungnya. Dan sepertinya wajahnya memanas.

“Ehem ehem.” Ahra berdeham di samping mereka, yang akhirnya berhasil membuat Kyuhyun mau melepaskan pelukannya meski enggan. Ahra tersenyum maklum. Ia mengerti, sepertinya gadis inilah satu-satunya yang dapat mengembalikan semangat Kyuhyun. “Aigoo.. Siapa yang mengajarimu memeluk anak gadis seperti itu, Kyuhyun-ah?” candanya, sedikit mencubit lengan adiknya itu.

“B-benar! Setan yang satu ini memang senang bertindak seenaknya.” sahut Jaemi. Sebenarnya Jaemi masih kaget, buktinya detak jantungnya belum kembali normal. Ini aneh, padahal sebelum ini, saat ia memeluk Kyuhyun untuk menenangkan laki-laki itu, Jaemi tak merasakan perasaan aneh seperti saat ini.

Kyuhyun cuek. Lama-lama wajahnya terlihat seperti sedang merajuk.

“Jaemi..” panggil Ahra.

“Ne?”

“Aku ingin berterimakasih padamu.” kata Ahra.

Jaemi mengerutkan keningnya, “Terimakasih? Memangnya apa yang telah kulakukan?” tanyanya.

“Tidak. Bukan terimakasih atas apa yang kaulakukan, tapi terimakasih atas keberadaanmu. Aku belum lama mengenalmu tapi aku merasa seolah saat kau ada, segalanya menjadi tenang, bahkan ketika kau hanya diam.” Ahra tersenyum lembut.

“E-eh? Begitukah?” gumam Jaemi. Sepertinya tampang bodohnya keluar lagi.

“Dan.. kau tahu? Kau adalah teman perempuan pertama yang bisa berteman sedekat ini dengan adikku.” tambah Ahra.

“He-hei! Siapa yang bilang begitu?” protes Kyuhyun segera. Ia mengambil ancang-ancang untuk melontarkan berbagai sangkalan.

“Coba sebutkan kalau memang ada yang lain!” tantang Ahra.

Kyuhyun langsung diam. Ia membuang pandangannya, menyembunyikan wajahnya yang ia rasa mulai bersemu merah. “Mungkin kita bisa dekat karena kau itu mudah dibodohi.” kata Kyuhyun pada Jaemi.

“Yaa.. kejam sekali kau ini.” Jaemi merengut. Ia tak tahu berapa kali Kyuhyun mengatainya bodoh.

“Benar kan, kubilang? Kau sepertinya membuat Kyuhyun lupa kalau sebelum ini ia pernah menangis hebat hingga terlihat seperti zombie dengan penampilan berantakannya.” Ahra kembali bergurau.

Kyuhyun semakin merengut. Kalau ia tidak sedang dalam keadaan berduka, mungkin ia sudah mengomel panjang lebar pada kakaknya itu.

“Bagaimanapun.. terimakasih. Ah, dan setelah ini, Kyuhyun akan kembali ke rumah. Terimakasih banyak sudah membiarkannya menginap di rumahmu selama beberapa hari terakhir. Setelah ini Kyuhyun akan mengantarmu pulang sekaligus untuk mengambil barang-barangnya.” kata Ahra lagi.

“Eoh? Su-sudah mau pulang, ya? Kalau begitu.. ee.. sama-sama.” jawab Jaemi. Ia menggenggam erat telapak tangannya sendiri, reflek atas perasaan gelisah yang tiba-tiba menjalarinya.

“Kyu, kau antar Jaemi pulang.” pinta Ahra.

“Hm.” Kyuhyun langsung berjalan keluar.

“A.. aku.. permisi dulu.” Jaemi membungkuk pada Ahra, lalu ikut berjalan keluar di belakang Kyuhyun.

Setelah mereka berdua duduk di dalam mobil, Kyuhyun melepas jasnya dan mengeluarkan ujung kemeja putihnya dari celana dengan asal.

Entah kenapa, pemandangan itu membuat Jaemi gugup bahkan kesulitan untuk menelan ludah. Rambut Kyuhyun masih berantakan, ditambah kemeja putih pas badan yang juga agak berantakan.

Jaemi segera menenangkan dirinya. Ia menarik nafas panjang dan berkedip beberapa kali. Walaupun jantungnya masih berdetak tak karuan, setidaknya mulutnya berhasil ia kendalikan untuk tidak mengeluarkan teriakan seperti para fans yang terlalu terpesona pada idolanya.

Beberapa menit telah berlalu, dan Jaemi baru sadar jalanan yang mereka lalui bukanlah jalanan menuju rumahnya.

“Kau sedang memotong jalan atau kita sedang tersesat?” tanya Jaemi sambil memandang heran pada jalanan di sekitarnya. Ia sama sekali tidak mengenal tempat-tempat itu.

Merasa diacuhkan, Jaemi langsung berkoar, “Yak! Kau ini tuli atau bisu? Kenapa kau tidak menjawab? Atau jangan-jangan kau berniat menculikku, lalu melemparku ke jurang untuk membunuhku?!”

Ckiiiittt.

Duk.

“Aww!!” Jaemi mengaduh saat kepala terbentur dasbor mobil. Kyuhyun menginjak rem begitu tiba-tiba. “Tuh kan! Kau benar-benar berniat membunuhku!”

“Bisakah kau diam? Aku butuh ketenangan.” kata Kyuhyun pelan.

Hampir saja Jaemi kembali protes, kalau ia tidak ingat laki-laki itu masih dalam keadaan berduka. Huh, Jaemi memang bodoh. Ia sampai hampir lupa dengan fakta itu.

Sekarang mereka ada di pinggir jalan, yang sepertinya berada di pinggiran kota Seoul. Disana cukup sepi dan udaranya terasa lebih segar.

“Memangnya apa yang ingin kau lakukan disini?” tanya Jaemi pelan.

Kyuhyun tidak memberi respon, dan Jaemi bisa memakluminya. Jadi Jaemi pun ikut diam, membiarkan Kyuhyun mencari ketenangannya.

Sekitar 5 menit berlalu, akhirnya Jaemi mendengar Kyuhyun mulai bicara.

“Setelah ini.. mungkin hidupku akan menjadi sedikit sulit.” ucap Kyuhyun. Matanya menerawang, menatap lurus ke depan. “Kami harus merawat Ibu dan mulai bekerja untuk melanjutkan hidup.”

“Bersemangatlah. Bagaimana kau bisa menghadapi kesulitan kalau kau lesu begitu? Semangat, dan tersenyumlah.” ujar Jaemi. “Kalau perlu aku akan sering ke rumahmu dan membantu apapun yang bisa dibantu.” tambahnya berapi-api. Ia benar-benar berharap semangatnya ini bisa ia tularkan pada Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh pada Jaemi, “Kalau begitu, berikan aku satu hal untuk menyemangatiku.” pintanya.

“Apa itu?” tanya Jaemi penasaran. Ia lalu mendekat ke arah Kyuhyun begitu melihat isyarat dari jari telunjuk laki-laki itu.

Semua terjadi begitu saja saat Kyuhyun menempelkan bibirnya pada bibir Jaemi. Hanya menempel saja. Bahkan Kyuhyun tak memejamkan matanya.

Tapi bagaimanapun, efek terhadap tubuh Jaemi benar-benar hebat. Matanya langsung membelalak dan tubuhnya menjadi kaku, jauh lebih kaku dibanding saat Kyuhyun memeluknya. Oh yang benar saja, ini benar-benar diluar dugaan gadis itu. Dan jelas, ini yang pertama kalinya.

Detak jantung Jaemi menggila. Ia tak kuat bergerak sama sekali, apalagi menghindar.

Kyuhyun masih mempertahankan posisinya. Ia menyukai semua itu. Bagaimana Jaemi terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa, apalagi wajahnya yang dipenuhi semburat merah. Kyuhyun bisa merasakan jantungnya sendiri berdetak dengan kencang akibat tindakan beraninya itu. Untung saja ia masih dapat menahan diri untuk tidak melumat bibir itu.

Perlahan, Kyuhyun menjauhkan bibirnya dari bibir Jaemi. Namun ia masih mempertahankan jarak dekat di antara mereka. Kini Kyuhyun menatap mata Jaemi. Ia tersenyum miring selama mengamati wajah terkejut gadis itu.

“Baiklah. Kita pulang.” kata Kyuhyun. Ia sudah duduk pada posisi untuk mengemudi dan menyalakan mesin.

Susah payah Jaemi menghirup udara untuk mengisi paru-parunya yang terasa hampir kosong. Ia benar-benar membutuhkan udara yang sangat banyak. Ia hanya bisa duduk dengan sangat—sangat canggung.

Selama perjalanan, Kyuhyun tak hentinya tersenyum melihat tingkah gadis di sampingnya itu. Berulang kali Kyuhyun melihat Jaemi menunduk sambil menutupi wajahnya yang memang Kyuhyun akui terlihat benar-benar merah seperti terbakar.

Tapi jujur, semangat Kyuhyun sudah kembali sejak ia melakukannya. Benar apa yang Ahra bilang, mereka hanya butuh keberadaan Jaemi, tanpa harus gadis itu melakukan sesuatu.

***

9 months later

Han Jaemi POV

Walaupun Kyuhyun harus kehilangan Ayahnya, kurasa ini adalah takdir yang baik. Sejak Ayahnya tiada, Kyuhyun mulai menunjukkan rasa sayangnya pada Ibunya. Setidaknya semua keadaan telah dapat diperbaiki. Kyuhyun bahkan tidak sedingin dulu.

Aku sendiri.. sudah mempunyai Ibu. Ibu yang kuakui. Hubungan kami benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Mungkin setan keibuan telah merasuki Ibuku yang awalnya sama sekali tidak seperti seorang Ibu. Dan kuakui juga, Kyuhyun turut berperan dalam perbaikan hubunganku dengan Ibu.

Sekarang aku sudah duduk di kelas tiga. Tepatnya akhir kelas tiga. Sudah kubilang, aku punya tekad untuk berubah, tak akan membiarkan diriku terus menjadi seorang gadis bodoh yang tak mengerti apa-apa. Yah, walaupun kemajuanku tak bisa dibilang membanggakan, setidaknya aku bisa menduduki peringkat 12 di semester lalu. Itu cukup baik, kan? Hahaha..

Sama seperti saat aku masih duduk di kelas dua, aku menempati kursi paling belakang. Oh, dan Kyuhyun, ia kembali menempati kursi paling depan, tepat seperti saat kelas dua, sebelum tugas kelompok itu dimulai.

Ah, bicara tentang Kyuhyun, tiba-tiba aku teringat bagaimana pertama kali kami bekerja sama sebagai partner kelompok. Semua itu sungguh menakjubkan. Hanya berawal dari tugas kelompok, kami sering menghabiskan waktu bersama, hingga berbagi masalah keluarga. Benar-benar diluar dugaan.

Mengenai hubungan kami.. mmm.. tentu saja, kami masih berteman. Ya, anggap saja begitu. Selain teman, memangnya apalagi? Sejauh ini tidak ada apa-apa. Ia hanya sering… sering.. ya Tuhan! Bukan saatnya memikirkan itu!

“Mohon perhatiannya, anak-anak.” Jang seonsaengnim menepuk tangannya beberapa kali. “Kalian butuh satu nilai tugas lagi untuk melengkapi nilai kalian. Walaupun hanya ada sedikit waktu, tugas ini harus merupakan praktek langsung di lapangan.” jelasnya.

Aku menyiapkan buku catatan kecilku untuk mencatat tugas yang akan diberikan. Tugas praktek. Yaampun, guru-guru suka sekali membuat anak didiknya kesulitan.

“Tugas identifikasi makhluk hidup. Untuk hewan, kalian hanya boleh memilih hewan-hewan reptil, dan untuk tumbuhan, kubatasi hanya bunga-bunga langka. Tugas dilakukan berpasangan dan dikumpulkan dalam bentuk makalah dua minggu lagi.” Jang seonsaengnim menyudahi penjelasannya begitu saja. Guru yang satu ini memang benar-benar cuek. Ia bahkan tak memberi kesempatan pada kami untuk bertanya.

Tunggu, tugas kelompok? Berpasangan?

Haish, bahkan sebelum aku memutuskan partnerku, laki-laki itu sudah mengambil tasnya dan berjalan ke arahku!

 

Author POV

Jaemi menelan ludahnya dengan susah payah. Sedangkan Kyuhyun dengan santainya duduk disampingnya tanpa mempedulikan tatapan anak-anak di kelas itu. Kyuhyun memang selalu begitu. Dia selalu pindah setiap ada kerja kelompok. Siswa cerdas yang di-anak-emaskan seperti dia tentu saja bebas bertindak.

“Y.. yak! Aku.. aku kan.. belum tentu ingin sekelompok denganmu..” protes Jaemi gelagapan. Ia benci mendapat tatapan aneh dari teman-temannya. Karena itu ia selalu protes setiap Kyuhyun pindah dan duduk di sampingnya.

“Kau tidak punya pilihan, Jaemi-ssi..” Kyuhyun menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan tepat di hadapan wajah Jaemi, yang entah kenapa langsung berhasil membungkam mulut gadis itu.

Seperti yang selalu ia lakukan, Jaemi menutupi wajahnya menggunakan buku pelajaran untuk menghindari tatapan dari teman-teman satu kelasnya. Kalau sudah menyangkut Kyuhyun, mereka semua langsung saling berbisik layaknya perumpi kelas kakap.

“Mungkin akhir minggu ini, kita akan pergi bersama.” kata Kyuhyun.

Berbeda dengan Kyuhyun yang terlihat santai dan biasa saja, Jaemi masih sembunyi dibalik bukunya. “Mwo? Mau pergi kemana?” bisiknya.

“Kita akan mengerjakan tugas, bodoh!”

“Hey! Kau tidak bisa, ya, berhenti memanggilku bodoh?” Jaemi protes keras.

“Kau memang bodoh.” jawab Kyuhyun santai.

“Cih, sombong sekali kau ini, Tuan Pintar!” Jaemi membanting bukunya begitu saja tanpa menghiraukan lagi tatapan dari teman-temannya.

“Menurutmu kita harus memilih yang mana? Hewan atau tumbuhan?” tanya Kyuhyun dengan lebih serius.

Jaemi membuka bukunya dan mulai membaca. Entah tidak dengar, atau merajuk.

“Yaa.. jawab aku, bodoh.” Kyuhyun menarik pipi Jaemi hingga menghadap ke arahnya.

Mata mereka bertemu. Dan walaupun hal itu sudah sering sekali terjadi, Jaemi tak pernah bisa membiasakan jantungnya untuk berdetak dengan normal.

“Te..terserah kau saja.” Jaemi buru-buru mengalihkan pandangannya dan menepis tangan Kyuhyun dari pipinya.

Kyuhyun tertawa kecil melihat tingkah Jaemi, kemudian ikut membuka buku dan membacanya.

***

“Kemana kita akan pergi?” tanya Jaemi ketika mereka sudah duduk di dalam bus.

“Kita akan pergi ke taman.” jawab Kyuhyun singkat sambil membolak-balik sebuah brosur di tangannya.

“APA?!”

Kyuhyun mengeluarkan death glare-nya pada Jaemi karena teriakannya yang tak tahu tempat itu. Beberapa penumpang lainnya mulai mendelik memandang mereka tak suka.

“Kau bercanda? Ke taman? Kau bilang mau mengerjakan tugas??!” omel Jaemi dalam bisikan.

Tuk.

Gulungan brosur mendarat kasar di kepala Jaemi.

“Bukan taman biasa. Di taman ini kita bisa melihat tanaman-tanaman langka yang dilindungi. Karena kau tidak memberi pendapat, kuputuskan untuk memilih bunga langka sebagai tema tugas kita.” kata Kyuhyun datar, kemudian kembali menelisik isi brosur yang tadi sempat ia gulung untuk memukul kepala gadis di sampingnya.

Meski sempat kesal karena tindakan semena-mena Kyuhyun barusan, Jaemi mengangguk-angguk. Yah, padahal ia baru saja terpikir untuk melantik buaya sebagai pemeran utama dalam makalah mereka. Tapi mungkin bunga juga tidak buruk.

“Kenapa kita berangkat sepagi ini?” tanya Jaemi.

Kyuhyun menghela nafas, “Hari ini hari Minggu. Taman akan menjadi sangat ramai saat hari beranjak siang.”

Jaemi mengangguk lagi sebagai tanggapan.

~

Mereka baru saja memasuki taman-luas-sekali yang dimaksud Kyuhyun, saat seorang lelaki yang asing bagi Kyuhyun, datang menghampiri dan menginterupsi kegiatan mereka.

Dan apa? Orang itu mengaku teman satu sekolah Jaemi saat di bangku sekolah menengah pertama dulu, kemudian dengan cepat Jaemi mengenalinya, lalu mereka sibuk berbincang selama lima belas menit terakhir.

Kyuhyun mendengus. Kini ia dan Jaemi ditambah si lelaki asing tengah berjalan beriringan menyusuri jalan setapak buatan di taman itu. Jaemi paling kiri, Kyuhyun paling kanan, dan lelaki itu menyelip di antara mereka.

Selama percakapan antara dua orang di sampingnya berlangsung, Kyuhyun enggan bergabung. Oh, sepertinya bukan enggan bergabung—tapi ia memang tidak dianggap lagi.

Mendengus sekali lagi—kali ini lebih keras, Kyuhyun mulai mempercepat langkahnya, menghentak-hentakkan kaki dengan kesalnya, lalu berjalan jauh ke depan meninggalkan dua orang sibuk itu.

Saat mendengar Jaemi bertanya kemana ia akan pergi, Kyuhyun hanya menyahut, “Mencari inspirasi!”

Pada akhirnya, Kyuhyun yang mendadak kepalanya dipenuhi emosi, memutuskan untuk berkeliling mencari objek yang tepat untuk dijadikan bahan makalah tugasnya. Persetan dengan dua orang yang sekarang tidak tahu ada dimana itu, Kyuhyun tidak peduli. Seenaknya saja dua orang itu mengacuhkannya.

Baru saja mulai menimbang apakah ia akan memilih ini atau itu sebagai bahan tugasnya, perhatian Kyuhyun tiba-tiba tersita oleh sepasang lelaki dan gadis remaja yang berjalan bersisian, menggenggam satu cone es krim di tangan masing-masing, dan mengobrol dengan asiknya sambil sesekali tertawa. Jaemi dan teman lelakinya.

Melihat itu Kyuhyun memicingkan matanya, kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada—kesal. Pemandangan itu sangat mengganggunya. Ia sendiri tidak tahu kenapa rasanya kakinya gatal ingin menendang sesuatu. Jadi sebelum kakinya kehilangan kendali dan benar-benar menendang apapun yang ada di hadapannya, Kyuhyun segera beranjak dan berusaha tidak peduli pada kedua orang itu.

“Tidak sopan sekali orang itu! Dia datang dan merusak rencana muliaku untuk mengerjakan tugas bersama gadis bodoh itu seenak perutnya.”

Sambil terus membawa kakinya berjalan tak tentu arah, mulut Kyuhyun tak hentinya mengeluarkan kata-kata bernada menggerutu.

“Dan apa itu? Makan es krim dan berkeliling taman seperti orang berkencan? Sementara aku disini harus mencari ide untuk tugas sekolah? Tugas yang seharusnya dibagi dua? Ish! Kenapa orang-orang itu menyebalkan sekali?!”

Kyuhyun tak juga berhenti mengumpat-ria. Sampai-sampai kakinya tersandung batu dan keluarlah kata-kata umpatan yang lebih kasar lagi tertuju untuk si batu.

Ia kesal. Ia pergi kesini untuk mengerjakan tugas, tapi justru berujung dengan dirinya yang berjalan sendirian mengelilingi taman tanpa tujuan yang jelas. Sekali lagi, sendirian. Dengan bonus pemandangan mengganggu yang benar-benar merusak mood-nya untuk memikirkan tugas lagi. Sempurna sekali untuk membuat seorang Cho Kyuhyun terbakar emosi.

Tak sampai lima belas menit berikutnya yang penuh dengan gerutuan, Kyuhyun menghentikan langkahnya kala ia melihat sesuatu yang beribu kali lebih mengganggu dari pemandangan kencan-bersama-es-krim tadi.

Menarik nafas dalam-dalam, Kyuhyun mengepalkan tangannya. Ia kembali memacu langkahnya dan bergumam, “Sudah cukup.”

~

Jaemi tertawa ketika Hyukjae kembali melontarkan lelucon. Teman lamanya itu memang humoris sekali. Tak disangka-sangka Jaemi bisa bertemu kembali dengannya setelah hampir tiga tahun.

Ia cukup dekat dengan Hyukjae dulu. Cukup dekat untuk berbagi makan siang bersama. Meski konyol dan kadang agak nakal, Jaemi mengenal Hyukjae sebagai laki-laki yang baik saat itu.

Mereka terus bertukar cerita sejak bertemu beberapa waktu yang lalu. Berkeliling taman bersama dan tertawa bersama.

Tapi Jaemi tak menyangkal bahwa Kyuhyun terus menghantui kepalanya. Jaemi merasa aneh, khawatir, dan mungkin takut saat melihat ekspresi Kyuhyun sebelum lelaki itu beranjak pergi dengan alasan mencari inspirasi. Dia terlihat agak.. marah?

Oh, iya, Kyuhyun sudah pasti kesal pada Jaemi! Jaemi telah membuat Kyuhyun memulai tugas mereka sendiri, sementara dirinya malah sibuk tertawa dengan seorang teman lama yang baru saja ditemuinya.

Memikirkan itu, Jaemi merutuki kebodohannya karena tidak segera mengejar Kyuhyun tadi.

“Kita duduk sebentar, bagaimana?”

Suara Hyukjae mengejutkannya. Kemudian Jaemi mengangguk setuju dan merekapun duduk di sebuah bangku panjang di pinggir taman.

Setelahnya mereka sama-sama terdiam. Jaemi sibuk memikirkan dimana Kyuhyun sekarang sambil menjilati es krimnya yang tinggal sedikit.

“Jaemi?”

Lagi-lagi ia terkejut saat Hyukjae memanggilnya.

“I—iya?”

Jaemi sempat mendengar Hyukjae berdeham sebelum berkata, “Yang tadi itu.. kekasihmu, ya?”

“UHUK UHUK!” Jaemi tersedak dan segera batuk-batuk begitu mendengarnya.

“He—hey! Kau baik-baik saja?” tanya Hyukjae panik saat Jaemi masih terbatuk juga.

“Aku—ekhem.. Aku baik-baik saja..” jawab Jaemi sambil mengurut dada. Pertanyaan tadi agak mengejutkannya.

Dengan hati-hati, Hyukjae kembali bersuara, “Jadi.. dia benar-benar kekasihmu?”

Jaemi buru-buru menyahut, “Ah.. bukan, kami.. hanya teman..”

“Itu bukan urusanmu, Sir.”

Jaemi dan Hyukjae refleks menoleh saat sebuah suara menginterupsi keduanya.

Kyuhyun berdiri di hadapan Jaemi, namun melemparkan tatapan datarnya—yang cukup menakutkan—pada Hyukjae.

“Kita pulang.” titah Kyuhyun singkat, tak lupa dengan tatapan khasnya yang membuat kedua orang di hadapannya ciut seketika.

Tanpa bisa melawan sedikitpun, Jaemi hanya diam saat Kyuhyun mencengkram pergelangan tangannya kuat dan menariknya menjauh dari Hyukjae, mungkin menuju pintu keluar. Jaemi bahkan belum mengucapkan salam perpisahan pada Hyukjae, tapi melihat Kyuhyun yang terus menariknya dan membawanya melangkah dengan begitu cepat—membuatnya tak berniat sama sekali untuk memikirkan Hyukjae lagi.

Tatapan Kyuhyun tadi sejujurnya membuat Jaemi takut. Itu tatapan yang Jaemi lihat dari Kyuhyun yang dulu, Kyuhyun yang Jaemi harap tak pernah muncul lagi. Semarah itukah Kyuhyun padanya?

Laki-laki itu tak main-main saat mengajaknya pulang tadi. Sekarang mereka benar-benar telah duduk di dalam bus untuk pulang. Jaemi tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Dan Kyuhyun, ia tak berbicara maupun menatap Jaemi semenjak menariknya keluar dari areal taman.

Jaemi hanya bisa memainkan jari-jarinya. Ia benar-benar bingung sekarang.

***

Hari Senin.

Hari ini Jaemi sekolah seperti biasanya. Tapi ada hal yang membuatnya bertanya-tanya karena sesuatu yang tak biasa terjadi hari ini.

Seharusnya, biasanya, normalnya, sebelum sebuah tugas kelompok selesai, Kyuhyun akan terus menempati kursi di samping Jaemi. Setiap hari.

Tapi hari ini, laki-laki itu duduk di kursi paling depan kembali. Dan jangankan berbicara, menatap Jaemi pun tidak. Jaemi jadi semakin kebingungan dan mulai mempertimbangkan untuk meminta maaf.

Soal tugas kelompok itu, Jaemi menebak bahwa tugas itulah yang membuat Kyuhyun marah. Mungkin ia memang terlalu asik mengobrol dengan Hyukjae, bertingkah menyebalkan seolah melupakan tugas mereka dan membiarkan ide Kyuhyun untuk pergi ke taman itu terbuang percuma.

Jadi karena merasa bersalah, Jaemi hampir tidak tidur semalaman karena mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya untuk makalah mereka. Ia berpikir mungkin nanti ia akan berbicara pada Kyuhyun dan mengatakan bahwa ia sudah mengumpulkan beberapa materi yang diperlukan, lalu sekalian meminta maaf atas kejadian kemarin. Itu ide yang cukup bagus, menurutnya.

Saat bel pulang berbunyi, Jaemi buru-buru membenahi mejanya. Kelambatannya dalam merapikan buku dan alat tulisnya yang berserakan di meja bisa merusak rencana minta maafnya. Kyuhyun bisa saja keluar lebih cepat, dan kemudian menghilang begitu saja saat Jaemi keluar kelas.

Sambil masih menarik resleting tasnya, Jaemi berlari tergopoh-gopoh menuju pintu kelas, karena baru saja ia melihat Kyuhyun keluar melalui pintu itu.

“Kyu! Kyuhyun!” panggilnya. Kyuhyun sudah berada bermeter-meter di depan Jaemi, entah bagaimana caranya ia bisa berjalan secepat itu.

Jaemi memacu larinya lebih cepat lagi. Begitu jaraknya cukup, Jaemi langsung menggapai ransel yang bertengger di bahu laki-laki itu, mencegahnya pergi lagi.

“Huh, huh, kau ini—jalannyahh.. cepat sekali sihh?!” seru Jaemi sedikit terengah.

“Ck! Singkirkan tanganmu! Aku mau pulang!” Kyuhyun menepis tangan Jaemi kasar. Tanpa menatap Jaemi, Kyuhyun mulai melangkah lagi.

“Hey kau! Aish! Berhenti dulu, aku mau bicara! Cho Kyuhyun!”

Tepat saat menyebut nama laki-laki itu, Jaemi berhasil meraih lengan Kyuhyun. Ia mencengkramnya dengan dua tangan sekuat yang ia bisa. Bagaimanapun, ia harus berhasil mendapatkan maaf dari Kyuhyun. Apapun caranya.

“Berisik. Lepaskan aku, bodoh! Kau mengganggu saja!” ujar Kyuhyun, berusaha melepaskan cengkraman Jaemi pada lengannya. Ia benar-benar kasar kali ini, karena kemudian Jaemi nyaris terjungkal ke belakang karena sentakannya.

“Kau ini kenapa, sih?! Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Kyu. Sebentar saja..” pinta Jaemi gusar. Sebenarnya dia emosi melihat sikap Kyuhyun yang aneh seperti ini, tapi karena ini kesalahannya, ia tidak boleh terbawa emosi.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku mau pulang.” Kyuhyun beranjak, tapi Jaemi menahannya lagi.

“Ada! Kita masih punya tugas, kau ingat?” Jaemi mulai bersungut.

“Oh, kau masih mengingat tugas itu, rupanya? Kukira kau sudah sibuk dengan teman lelakimu itu.” Kyuhyun memutar bola matanya.

Jaemi menyernyit, “Apa? Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Siapa yang kemarin bersenang-senang dan menelantarkan tugas?” tanya Kyuhyun sarkastik.

“Tapi kan—“

“Sudahlah. Aku mau pulang. Berhenti menggangguku.”

Jaemi terdiam beberapa detik selama Kyuhyun mulai melangkah menjauhinya. Jaemi merasa bersalah, tapi apa Kyuhyun perlu marah sampai seperti itu? Sebelum-sebelum ini Kyuhyun bahkan tak keberatan jika ia harus menyelesaikan tugas kelompok sendiri asal Jaemi selalu ikut setiap Kyuhyun mengerjakannya. Tapi kenapa kali ini Kyuhyun nampak sensitif sekali?

Dengan satu dengusan keras, Jaemi berlari lagi, mengejar Kyuhyun yang belum pergi terlalu jauh.

Begitu sampai tepat di belakang Kyuhyun, Hap! Jaemi melompat dan melingkarkan lengannya erat-erat di leher lelaki itu, menariknya dari belakang dan menahan pergerakannya.

Akibat tindakan Jaemi, Kyuhyun yang punya tinggi di atas rata-rata hampir saja tergelincir karena lehernya ditarik ke bawah.

“YAAKK!! APA-APAAN KAU, BODOH?! KAU—UHUK, UHUK, MENCEKIKKU!!”

Kyuhyun melayangkan protes keras, ia tak hentinya meronta dan berusaha melepaskan diri, tapi Jaemi yang sedang kesal tak akan membiarkannya lolos begitu saja.

“Aku. Mau. Bicara. Padamu. Sekarang.” kata Jaemi dengan suara tertahan. Ia agak sulit mengeluarkan suara karena tenaganya benar-benar ia gunakan untuk menahan—atau mungkin mencekik—Kyuhyun.

“Le—lepas..kan!” Kyuhyun mulai tersengal. Detik berikutnya, Jaemi menghentikan perbuatannya, dan Kyuhyun langsung menegakkan tubuhnya, mengambil nafas sebanyak yang ia bisa.

Satu tarikan nafas, kemudian ia berbalik.

“DASAR GADIS LIAR! MENYEBALKAN! KAU MAU MEMBUNUHKU, HAH?!” omelan bernada tinggi pun keluar dari mulut Kyuhyun.

Sembari berkacak pinggang, Jaemi membalas tak kalah keras, “IYA! AKU MEMANG INGIN MEMBUNUHMU! SIKAPMU ITU YANG SANGAT MENYEBALKAN, KAU TAHU?!”

“APA?! CIH! KAU PIKIR SIAPA YANG MEMBUATKU BEGINI, NONA BODOH?!”

“SIAPA MEMANGNYA?! AKU?! COBA KATAKAN APA KESALAHANKU!”

Keduanya sama-sama terengah. Suara keduanya tidak tanggung-tanggung kerasnya. Siswa-siswa lain yang masih berada di kawasan gerbang sekolah itu langsung menjauh. Antara kaget, bingung, tidak suka, terganggu, ah sudahlah. Semua itu tak ada efeknya untuk kedua orang yang tengah sibuk beradu mulut ini.

Mata Kyuhyun berkilat marah, dan ia tidak tahu mengapa tiba-tiba bayangan kejadian di hari Minggu itu melintasi kepalanya, saat Jaemi sibuk bersama teman lelakiknya dan mengacuhkannya.

Saat menyadari tatapan Kyuhyun yang sarat kemarahan, Jaemi terhenyak. Ya Tuhan, memangnya sebesar apa kesalahannya pada lelaki di hadapannya ini?

“Kau menyebalkan.” tukas Kyuhyun datar. Ia berbalik begitu saja, dan kini wajahnya benar-benar tak berekspresi. Datar sedatar-datarnya. Ia bahkan tak lagi bereaksi saat Jaemi meremas ujung jas seragamnya, tidak melepaskannya sama sekali, malah seperti menjadikannya pegangan selama ia mengekori Kyuhyun.

Jaemi mulai merasakan matanya memanas. Ia benci jika Kyuhyun menatapnya begitu, tatapan yang hanya akan dikeluarkannya saat ia benar-benar marah. Di antara sekian pertengkaran yang pernah terjadi, Kyuhyun sudah jarang sekali semarah ini pada Jaemi. Jaemi pun bingung kenapa rasanya ia ingin menangis. Ia masih ingin minta maaf, tapi sikap Kyuhyun seperti membuat nyalinya menciut hanya sekedar untuk mengeluarkan suara lagi.

Tapi Jaemi sama sekali tak berniat untuk menyerah. Sudah ia putuskan tadi, bagaimanapun caranya ia ingin mendapat maaf dari Kyuhyun atas apapun kesalahan yang telah ia perbuat. Dan karena kepalanya mendadak blank untuk memikirkan cara lain, ia hanya mampu merekatkan tangannya sekuat mungkin pada ujung jas seragam Kyuhyun, enggan melepaskannya bahkan saat Kyuhyun terus melangkah.

Jaemi terus mengikuti langkah Kyuhyun. Ke halte, ke dalam bus dan duduk di sampingnya, lalu berjalan lagi, hingga akhirnya sampai di depan pagar sebuah rumah besar. Rumah Kyuhyun.

Bibir Jaemi sudah tertarik ke bawah sejak tadi. Ia benar-benar tidak peduli harus bersikap seperti anak kecil merajuk begini, Jaemi hanya ingin Kyuhyun berbicara padanya lagi. Oh, bahkan sekarang ia masih mengekori langkah Kyuhyun menuju pintu masuk rumahnya, dan laki-laki itu tak bergeming sedikitpun.

Tepat di depan pintu, Kyuhyun menghentikan langkahnya. Jaemi, masih dengan tangan yang menggenggam erat ujung jas Kyuhyun hingga kusut, ikut berhenti di belakang Kyuhyun.

Dengan tenggorokan yang sedikit tercekat, Jaemi mengumpulkan keberanian untuk bersuara, “Kyu—“

“Apa yang ingin kau katakan?”

Jaemi merasa tenggorokannya kering dan semakin tercekat saat tiba-tiba Kyuhyun bertanya dengan nada yang sama datarnya dengan yang tadi. Tak menjawab, Jaemi justru diam. Rencana awalnya adalah memberitahu Kyuhyun dengan riang, mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan banyak sekali bahan yang bisa digunakan untuk makalah mereka, kemudian meminta maaf setelah sikap laki-laki itu melunak. Tapi kalau sudah begini, apa yang harus ia katakan?

“Kalau tidak ada lebih baik kau pulang.” ucap Kyuhyun. Tangannya mulai meraih gagang pintu dan hendak membukanya saat lagi-lagi Jaemi menahannya.

“Tunggu!”

“APA?” Kyuhyun berbalik dengan tiba-tiba, hingga Jaemi tersentak kaget dan mundur selangkah.

“Kyu..” lirih Jaemi. Kyuhyun tidak terlihat seperti Kyuhyun yang biasanya. Jaemi semakin bingung saja. Melihat Kyuhyun yang begitu marahnya, ia bahkan tak bisa balas berteriak seperti yang biasa dilakukannya.

“Jangan panggil aku terus! Kau sudah membuatku terlihat aneh dengan terus membuntutiku sampai rumah, dan sekarang kau hanya diam saat aku memberi kesempatan untuk bicara?!” bentak Kyuhyun.

Dengan mata yang berair dan mungkin sudah merah, Jaemi mencoba membalas, “Aku hanya ingin minta maaf! Aku ingin kau memaafkanku, aku ingin kau berhenti marah padaku, dan aku ingin kita kembali mengerjakan tugas seperti biasa!” teriaknya, suara Jaemi bergetar kali ini.

Tapi Kyuhyun tak menunjukkan perubahan ekspresi sama sekali. “Maaf atas apa?” tanyanya.

“Aku—aku telah berlaku menyebalkan kemarin. Aku begitu tak bertanggung jawab karena mengabaikan tujuan awal kita pergi bersama. Aku malah asik sendiri sampai melupakan tugas kita—“

Memotong perkataan Jaemi, Kyuhyun berkata dengan nada tinggi, “Baik! Kau ingin aku memaafkanmu, kan? Yasudah, kau, kumaafkan.”

Lalu Kyuhyun membuka pintu, mulai melangkah masuk, namun untuk kesekian kalinya Jaemi menahannya, menarik lengannya kuat-kuat.

“Apa lagi?!”

“Kau belum memaafkanku.” kata Jaemi. Ia menggigit bibir, menahan getaran yang semakin hebat saja.

“Kubilang, aku sudah memaafkanmu.”

“Belum.”

“KUBILANG SUDAH!”

“Lalu kenapa kau masih marah?!”

“Aku tidak marah!”

“Kau marah.”

“Kenapa kau keras kepala sekali, huh?”

“Kau juga keras kepala!” seru Jaemi keras-keras. Tangannya semakin erat mencengkram bagian bawah jas seragam Kyuhyun, kini sudah berpindah ke ujung bagian depannya.

Melihat Jaemi nampak menahan tangis, Kyuhyun tak juga luluh. Ia masih marah. Dalam hati ia berkali-kali mengutuk kebodohan Jaemi yang mengira ia hanya marah karena hal itu.

 

Kyuhyun POV

“Lalu kau ingin aku bagaimana?!” bentakku lagi. Aku masih sangat, sangat marah. Tapi melihat gadis itu hampir menangis (ia hampir tak pernah menangis di hadapanku) membuatku bingung harus berbuat apa. Aku.. pokoknya aku masih marah!

Jarinya yang masih menggelayut di ujung jasku mulai bergerak-gerak, sementara ia terlihat berpikir sejenak.

“Aku ingin kau tersenyum.”

Apa?

Apa dia bilang?

APA DIA BILANG TADI?!

Dia ingin aku tersenyum pada saat seperti padahal hari-hari biasa saja aku jarang dan tak berminat mengumbar senyum?! Uh, gadis ini mengajak perang sepertinya.

“Tuhkan, kau tidak memaafkan aku.” katanya. Mulutnya semakin melengkung ke bawah, dan matanya merah juga agak sembab. Jelek sekali!

Kenapa, sih, tiba-tiba dia jadi seperti anak manja begini? Kenapa juga aku membiarkannya terus mengekor di belakangku dan memegangi ujung seragamku? Uh, dan sekarang, apa yang harus kulakukan? Dia nyaris menangis, demi Tuhan! Masa aku harus menuruti permintaannya? Aku… aku kan masih marah!

Oh, Tuhan, aku tidak kuat lagi. Dia benar-benar menangis sekarang!

Akhirnya kutarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Kuhapus segera ekspresi marahku, lalu kutarik tangannya keluar pagar kembali.

~

Author POV

Singkatnya, karena ide dadakan yang muncul di kepala Kyuhyun, ia dan Jaemi kini duduk dengan damai di depan kafe sederhana yang menyediakan berbagai jenis es krim, masih berbalut seragam sekolah di badan masing-masing.

Mereka berdua duduk bersebrangan, dengan Jaemi yang menunduk memandangi es krimnya gugup, dan Kyuhyun yang menyilangkan tangannya di atas meja, menatap Jaemi intens. Sesekali Kyuhyun menyendok es krimya dari dalam cup, kemudian kembali memandangi gadis di hadapannya yang masih mengulum bibir tanpa berkata apapun.

“Kyu..” Jaemi akhirnya membuka mulut. Ia melirik Kyuhyun sekilas dan kembali menunduk.

“Hm?” jawab Kyuhyun, diiringi sesendok lagi es krim yang masuk ke mulutnya.

“Maafkan aku..” bisik Jaemi pelan, agaknya terdengar seperti cicitan tikus kecil di telinga Kyuhyun.

“Jadi menurutmu aku masih belum memaafkanmu?” tanya Kyuhyun dengan sebelah alis terangkat.

Jaemi mengangkat kepalanya dan memandang Kyuhyun dengan sorot harap-harap-cemas. “Kalau begitu besok kita harus mengerjakan tugas.” katanya (sok) lantang. Ia menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali sebelum bersuara lagi, “Kyu, maafkan aku karena membuatmu emosi. Sedari dulu aku sering membiarkanmu mengerjakan tugas kita sendirian, dan kemarin aku bertingkah begitu bodoh karena lagi-lagi membiarkanmu—“

“Tidak. Dengar, lupakan dulu soal tugas itu. Bukan itu yang membuatku marah.” potong Kyuhyun. Suaranya sama sekali tak menyiratkan emosi lagi, tapi masih dengan nada tak ingin dibantah.

Menyernyit bingung, Jaemi keheranan saat Kyuhyun mencondongkan tubuh ke arahnya dan mengambil alih cup es krim dari tangannya.

“Lihat dan dengarkan aku baik-baik. Aku tak akan menjelaskan secara gamblang, tapi kuharap kau cukup pintar untuk menangkap maksudnya. Walaupun aku tahu kau ini bodoh, tapi seharusnya kau bisa menelaah penjelasan sederhana ini.” Kyuhyun berkata dengan mimik serius sambil menatap lurus pada Jaemi.

Kyuhyun meletakkan cup es krim miliknya sendiri agak ke tengah meja, dan cup milik Jaemi di sisi sebrangnya.

“Ini,” Kyuhyun menunjuk cup milik Jaemi, “adalah milikmu. Dan ini,” Ia menunjuk cup-nya sendiri, “adalah milikku.” Lalu Kyuhyun menunjuk cup milik Jaemi dan miliknya sendiri secara bergantian sekali lagi, “Ini kau, dan ini aku.”

Jaemi memperhatikan dengan seksama, tapi ia masih tak bisa menangkap apapun dari hal yang diperagakan Kyuhyun di hadapannya sekarang.

Kemudian Kyuhyun menukar posisi kedua cup tersebut. Milik Jaemi ada di depannya, dan miliknya ada di depan Jaemi.

Sambil menarik cup es krim Jaemi yang kini ada di hadapannya, Kyuhyun berkata, “Sekarang ini milikku, dan ini,” Ia menggeser miliknya lebih dekat ke hadapan Jaemi, “adalah milikmu.”

Jeda sebentar, Kyuhyun menambahkan lagi setelah memasukkan sesendok es krim ke mulutnya dari cup Jaemi, ”Karena aku yang membayar semuanya, kau harus menuruti perintahku. Es krim-mu telah menjadi milikku dan kau harus menerima es krim-ku menjadi milikmu. Got it?”

Melihat Jaemi hanya terdiam dengan mulut menganga, Kyuhyun mencondongkan tubuhnya lagi, mengambil cup yang telah ditukarnya dan menarik tangan Jaemi agar menggenggam cup es krim itu di tangannya.

Setelah Kyuhyun kembali duduk dan memakan es krimnya sendok demi sendok, ia pun asik menikmati pemandangan di hadapannya, dimana Jaemi menatap nanar pada es krim di tangannya, dengan rona merah yang mulai merambat di pipinya. Lalu keheningan yang panjang terjadi setelahnya.

“Kelihatannya kau mengerti maksudku, bukan begitu?” Suara Kyuhyun yang terdengar lembut membuat Jaemi mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki itu. “Jadi kau tidak boleh dekat-dekat dengan laki-laki lain lagi, dan membuatku marah lagi.”

Kyuhyun bangun dari duduknya. Ia menghampiri Jaemi dan menarik tangannya pelan-pelan, dan menautkan jari-jarinya dengan jari-jari gadis itu. “Kuantar kau pulang.”

Diam-diam Kyuhyun tersenyum. Ia sama sekali tak melepaskan tautan tangannya dengan Jaemi selama perjalanan.

Terlalu malu dan tidak tahu harus bertindak seperti apa setelah otaknya akhirnya menangkap maksud di balik semua tindakan dan perkataan Kyuhyun tadi, Jaemi hanya bisa mengikuti kemana Kyuhyun membawanya.

Pipi yang memerah sempurna, dan senyum malu-malu yang mulai menghiasi wajahnya, sudah cukup menyatakan betapa bahagianya ia saat ini.

Ia bukan hanya mendapatkan apa yang dia inginkan—maaf dari Kyuhyun, tapi juga pernyataan manis yang dikatakan secara tidak langsung.

Ini perasaan yang baru baginya. Rasanya begitu menyenangkan, saat seseorang, menyatakan bahwa kau adalah miliknya.

***

FIN

Advertisements

2 thoughts on “The Evil Partner [Part 5-END]

  1. Cara kyu nyatain perasaan halus bnget. Untung jaemi cepet nangkep, takutnya dia bengong :3 sweet ending

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s