There is A Reason

Cast : Lee Hyukjae, Im Ririn, Lee Sora, Choi Siwon (Cameo)

Genre : Romance (?)

Length : One-shot

Notes : Lagi-lagi muncul ide nggak jelas. Masih dengan mencampakkan sekian ff yang belum selesai, author amatir ini malah bikin yang baru-,- Yaahh daripada menyia-nyiakan kelebatan ide untuk cerita ini, lebih baik langsung dibuat aja, kan? 😉 Oh iya disini Hyukjae sepupuan sama Sora plus seumuran (bukan adik-kakak). Dan maaf author nggak menjadikan Siwon sebagai murid di Inha, melainkan di Seoul. Ini demi kesuksesan cerita!! *apasih*. Yaudah. Sekian~

***

Kelas baru saja usai, membuat keadaan sekitar back-gate Inha University mulai ramai dengan para pelajar yang ingin melepas penat sejenak.

Berbeda dengan pelajar lain yang memilih pergi ke back-gate tersebut, dua orang gadis terlihat berdiri dengan gelisah di bawah sebuah pohon rindang di depan kampus.

“Sora, kumohon. Aku tidak bisa menunda lebih lama lagi.” kata salah satu dari mereka. Gadis yang mengenakan kaus lengan panjang plus celana panjang–yang terlihat aneh di musim panas seperti ini–itu berkali-kali melirik jam tangannya.

“Sebentar lagi, Ririn. Sebentaaarr saja.” ucap gadis satunya lagi, yang tadi dipanggil Sora.

Hanya selang beberapa detik, seorang laki-laki sebaya mereka berlari mendekat.

“Ah! Itu dia!”
Sora berseru girang sambil menunjuk laki-laki itu.

Ririn mendesah lega ketika akhirnya orang yang ditunggu Sora sudah tiba. Ini berarti ia bisa cepat pergi.

“Maaf menunggu lama. Aigoo.. Lama tak berjumpa, sepupu!” Laki-laki itu membungkuk sejenak pada Ririn, kemudian langsung memeluk Sora dengan erat.

“Hyuk-ah, ini Ririn, sahabatku yang selalu menemaniku kemanapun.” Sora memperkenalkan Ririn setelah melepas pelukan sepupunya itu.

“Annyeonghaseyo, Im Ririn imnida. Salam kenal.” Ririn membungkuk sekilas.

“Lee Hyukjae imnida. Senang bertemu denganmu.” balas laki-laki itu. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat dengan Ririn, yang dibalas anggukan ringan oleh Ririn.

Ririn membungkuk lagi, seolah meminta maaf karena tak menyambut uluran tangan Hyukjae.

Walaupun merasa agak bingung, Hyukjae langsung menurunkan tangannya, berpikir mungkin gadis ini tak suka berjabat dengan orang yang baru dikenal.

“Maaf, aku pamit dulu. Sora, aku pergi sebentar. Nanti aku menyusul.” kata Ririn seraya membungkuk lagi. Sora mengangguk, lalu Ririn langsung pergi dengan tergesa, setengah berlari menuju gedung asrama.

“Sahabatmu itu tidak suka bersentuhan dengan lawan jenis, ya?” tanya Hyukjae tiba-tiba.

Sora berpikir sebentar, “Ah, kau ini, mau tahu saja.” katanya sambil lalu. “Kajja. Kita pergi makan.” ajaknya sembari berjalan menuju kafe di daerah back-gate kampus.

“Yak! Kau ini!”

~

“Oh! Ririn sudah datang!” seru Sora ketika ia melihat sahabatnya baru saja memasuki pintu kafe.

Entah kenapa Hyukjae begitu ingin menoleh dan melihat gadis itu lagi. Semua gerak tubuhnya menimbulkan kesan sopan. Langkahnya tenang, dan.. sejak awal Hyukjae menyukai senyumnya.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.” Ririn tersenyum pada Hyukjae. Dan laki-laki itupun mulai merasa gugup melihat senyum gadis yang baru ditemuinya beberapa saat yang lalu.

Sora segera memanggil pelayan, yang akan mencatat pesanan mereka. Setelah ketiganya menyebutkan pesanan mereka dan pelayan sudah pergi, Sora membuka percakapan,

“Si Monyet ini baru pulang dari Jepang. Dia akan melanjutkan kuliahnya di universitas yang sama dengan kita.” jelas Sora, otomatis membuat Hyukjae melotot mendengar Sora memanggilnya dengan sebutan itu di depan Ririn. Sora hanya menjulurkan lidahnya tak peduli.

“Oh ya? Fakultas apa?” tanya Ririn. Ia menatap Hyukjae, lengkap dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

“Fa.. fakultas teknologi informasi.. dan re.. rekayasa.” jawabnya. Kemudian ia merutuki mulutnya sendiri yang tidak bisa bicara dengan benar. Padahal saat bertemu tadi, ia masih bisa berbicara dengan normal.

Ririn hanya mengangguk-angguk. Setelah itu, ia tak bicara lagi.

“Ah! Bagaimana kalau kita pergi ke bioskop malam ini? Sekaligus menyambut kedatanganmu!” Sora tersenyum sumringah pada Hyukjae. “Kau juga, Rin!”

“Ide bagus.” sahut Hyukjae.

Ririn berpikir sebentar, dan berkata, “Jangan ambil jam tayang yang terlalu malam, ya.”

Sora mengacungkan jempolnya, lalu menambahkan, “Kita ambil jam tayang setengah delapan saja. Hyukjae dan aku akan menunggumu di depan gedung asrama.”

“Terima kasih.” kata Ririn, lebih kepada Hyukjae.

Tak lama, pelayan datang ke meja mereka membawa pesanan.

***

Hyukjae mengumpat dalam hati, kenapa tadi ia tak segera mengambil tempat duduk di samping Ririn. Ia mencoba berkonsentrasi pada film yang sedang ditayangkan, tapi pada akhirnya ia lebih tertarik mengamati gadis yang duduk di samping Sora.

Ternyata film yang mereka tonton mengandung bed-scene. Meski hanya adegan ‘ringan’, Ririn langsung kaget. Ia menoleh pada Sora, yang hanya mengangkat bahunya.

“Maafkan aku. Aku tidak tahu. Kalau begitu tutup saja matamu.” bisik Sora memberi saran.

Ririn mendengus. Ia buru-buru menutupi matanya dengan saputangan.

Melihat hal itu, Hyukjae kembali melirik layar lebar di hadapannya yang menampilkan adegan yang lumayan panas.

Tapi itu hanya adegan ringan, pikirnya. Ia kembali mengamati Ririn yang tampak gelisah. Mungkin gadis ini terlalu polos, batinnya.

Beberapa waktu kemudian setelah film selesai, Hyukjae menahan langkah Ririn. Ia tersenyum gugup di hadapan gadis itu.

“Boleh aku minta nomor ponselmu?” tanyanya hati-hati. Ia sedikit pesimis bisa mendekati gadis ini jika berjabat tangan saja Ririn tidak mau.

Tanpa pikir panjang, Ririn tersenyum, “Boleh.”

Ingin rasanya Hyukjae melompat girang. Entah kenapa rasanya ia senang sekali.

“Terima kasih.” ucapnya senang.

“Sama-sama.” jawab Ririn dengan senyumnya.

***

Koridor sekitar aula kampus tampak sepi, hanya didominasi oleh suara langkah kaki yang menggema dari seorang laki-laki yang berjalan sendirian disana.

Hyukjae berjalan santai sambil melihat-lihat, membiasakan dirinya dengan pemandangan di kampus ini.

Pandangannya terhenti pada dua orang yang sedang berbicara di depan pintu aula, yang ia yakini salah satunya adalah Ririn. Gadis itu nampak sedang berbicara akrab dengan seorang pria paruh baya disana.

Hyukjae baru saja berjalan mendekat dan berniat menyapanya, namun gadis itu sudah terlanjur masuk ke dalam ruangan aula. Hyukjae bertanya-tanya apakah sedang ada kegiatan di dalam ruangan itu sehingga Ririn memasukinya.

Ia sudah sampai di pintu aula. Saat hendak membuka pintunya, seseorang menghalanginya.

“Eits.. Apa yang ingin kau lakukan anak muda?” Pria paruh baya yang tadi berbicara dengan Ririn bertanya padanya.

“I.. itu.. Aku ingin.. menemui temanku. Gadis yang tadi masuk kesini.” jawab Hyukjae.

“Hmm.. Tunggu saja disini. Jangan coba-coba masuk sebelum gadis itu keluar.” titah pria itu.

“B.. baiklah.” Dengan enggan Hyukjae mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.

“Kau sudah lama mengenalnya?” tanya pria itu tiba-tiba.

“Ti.. tidak. Aku baru bertemu dengannya kemarin. Dia sahabat sepupuku.” jawab Hyukjae. “Mm.. Paman.. Kenapa aku tidak boleh masuk?” tanyanya tak sabar.

“Yak! Kubilang tidak boleh ya tidak boleh! Dasar laki-laki jaman sekarang, susah sekali diberitahu.” ujar pria itu.

Hyukjae mencibir. Galak sekali paman ini, batinnya. Ia terus merengut sampai pintu aula berangsur terbuka.

Ririn muncul dari balik pintu, alisnya langsung terangkat melihat keberadaan Hyukjae.

“Hyukjae-ssi? Sedang apa disini?” tanya Ririn. “Ah, ahjussi, terima kasih banyak untuk hari ini.” Ririn membungkuk pada pria tadi, yang dibalas dengan senyum ramah.

Setelah pria itu pergi, Hyukjae mulai membuka percakapan.

“Kalau boleh tau, apa yang kau lakukan di dalam tadi?” tanya Hyukjae dengan hati-hati–lagi.

Ririn tak segera menjawab. Ia memelintiri tali tas slempangnya, nampak begitu gelisah.

“Ee.. Ka.. kalau kau tidak mau memberitahunya juga tidak apa-apa hehehe..” Hyukjae tertawa canggung.

“Hmm.. kau belum menjawabku tadi. Sedang apa kau di depan pintu aula tadi?” tanya Ririn, jelas untuk mengalihkan pembicaraan.

“Aku.. hanya tak sengaja melihatmu. Jadi.. aku ingin menyapa saja.” Hyukjae tersenyum malu-malu.

“Hmm begitu.. Aku pergi duluan, ya, masih ada mata kuliah yang belum kuhadiri.”

“Oh? Baiklah. Selamat belajar.” ucap Hyukjae sembari melambaikan tangannya.

“Ne.” senyum Ririn. Ia kemudian menghilang di balik tikungan koridor.

“Aku.. ingin tahu lebih banyak tentangnya.” gumam Hyukjae dengan sebuah senyum manis yang terukir di bibirnya.

~

“Yak Lee Sora! Aku kan hanya memintamu memberitahu beberapa hal saja, kenapa kau tidak menjawab?!” ujar Hyukjae. Ia mempercepat langkah kakinya untuk mengejar sepupunya itu.

“Tuh kan, dengan cara bertanya yang seperti itu mana mungkin aku mau memberitahumu!” balas Sora, semakin mempercepat langkahnya agar terhindar dari pertanyaan Hyukjae.

“Hey! Yaakk!! Tunggu aku!”

Sora menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba, sehingga Hyukjae tak sengaja menubruknya.

“Hey Monyet! Aku tau kau menyukainya, tapi hargailah privasinya. Aku sangat mengenal dia, termasuk keinginannya untuk tidak memberitahu siapapun tentang dirinya.” jelas Sora dengan kesal.

Perkataan Sora langsung menyurutkan semangat Hyukjae untuk mendekati Ririn. Ia tak mungkin bisa mendekati gadis itu jika ia tak mengetahui apapun tentangnya.

“Aish. Setidaknya beritahu aku apa saja yang tidak dia sukai.” Hyukjae memelas.

Sora memutar bola matanya. Meski sempat ragu, ia akhirnya menjawab, “Jangan sentuh dia walaupun hanya telapak tangan. Jangan ajak dia pergi jika hanya berdua. Jangan tanya apapun jika dia meminta izin untuk pergi secara tiba-tiba.”

Setelah itu, Sora langsung melengos pergi, tanpa mempedulikan Hyukjae yang kebingungan setengah mati.

***

Hyukjae berjalan di belakang Sora dengan malas.

“Kenapa setelah aku kembali ke Korea justru dijadikan bodyguard?” tanyanya kesal. Hari ini, Sora memaksa Hyukjae untuk menemaninya pergi ke mall.

“Cih, sebagai laki-laki seharusnya kau menjadi pelindungku. Kau tenang saja, Ririn juga ikut.” Sora mengedipkan sebelah matanya.

“Dia ikut? Kenapa kau tidak bilang daritadi? Seharusnya kita berangkat bersama!” protes Hyukjae. Ia langsung berubah berapi-api.

“Nanti dia menyusul.” ucap Sora tenang.

“Bagaimana kalau ada yang mengganggunya di tengah jalan? Atau dia tersesat–”

“Diam. Ririn bukan anak kecil lagi, Hyuk. Lagipula dia masih ada urusan.” potong Sora. Sepupunya ini sudah mulai overprotektif rupanya.

“Cih, kalau begitu kaulah yang anak kecil. Merepotkanku saja.” dumal Hyukjae kesal.

Sora hanya mencibir, tidak peduli lagi dengan Hyukjae yang sejak tadi benar-benar tidak berhenti bicara.

~

“Rin-ah, menurutmu lebih bagus yang mana?” Sora mengulurkan tiga buah buku novel pada Ririn, meminta pendapat untuk novel yang akan dia beli.

Baru saja Ririn mulai menimbang-nimbang, sebuah suara yang cukup keras terdengar dari belakangnya, membuatnya terlonjak kaget.

“Hey! Lee Hyukjae? Kau Lee Hyukjae, kan?” ujar suara itu. Seisi toko buku langsung meliriknya tak suka, hingga mau tak mau orang itu meminta maaf.

Hyukjae yang tadinya hanya berdiri tanpa minat di belakang Sora, langsung tersenyum sumringah.

“Wow. Choi Siwon? Kaukah itu?”

Hyukjae dan laki-laki bernama Choi Siwon itu langsung berjabat tangan dan berpelukan, seakan melepas rindu setelah sekian lama.

“Ya Tuhan.. Kenapa kau tak memberi kabar? Atau jangan-jangan kau berniat melupakanku?” Choi Siwon tertawa renyah.

“Aku tak sesombong itu, bung! Hanya kupikir kau terlalu sibuk dengan kuliah sekaligus perusahaanmu di Seoul. Jadi.. ada urusan apa kau datang ke Incheon?”

Dan akhirnya dua sahabat itu hanyut dalam obrolan mereka sendiri.

“Aahh.. kubeli semuanya saja. Ayo kita ke kasir. Bisa kutebak obrolan mereka akan bersambung sampai nanti malam.” bisik Sora pada Ririn, yang hanya mengangguk mengiyakan.

Sampai keluar dari toko buku, Hyukjae dan Siwon masih belum menghentikan pembicaraan mereka, seakan lupa dengan kehadiran dua gadis di sekitar mereka.

“Ya Lee Sora, kembali kesini!” panggil Hyukjae kepada Sora yang sudah berjalan jauh di depan sana bersama Ririn.

Kalau bukan karena keberadaan teman Hyukjae itu, Sora malas berjalan kembali kesana. Ia kesal karena merasa tak dianggap sejak tadi.

“Ada apa?” tanya Sora malas.

“Bagaimana kalau kita makan bersama? Aku yang traktir.” Siwon menawarkan, sembari tersenyum sopan pada dua gadis di hadapannya.

“Dia akan segera kembali ke Seoul. Ini sebagai perayaan pertemuan kita sekaligus salam perpisahan. Kami harap kalian tak menolak.” sambung Hyukjae.

“Hmm.. baiklah. Terima kasih sudah mengajak kami, Siwon-ssi.” Sora membungkuk. “Rin-ah, kau bisa ikut?” tanyanya pada Ririn.

“Ee.. asal tidak terlalu lama saja.” jawab Ririn. Ia melirik jam tangannya, seolah menghitung-hitung waktu yang ia punya.

“Okay. Let’s go!” Siwon memimpin jalan menuju restoran terdekat.

~

Seporsi besar Samgyeopsal telah terhidang di depan mereka, lengkap dengan daun selada dan kimchi serta beberapa makanan lain.

Sementara Hyukjae dan Siwon sibuk berbincang-bincang sambil menikmati makanan, Sora mulai melirik Ririn yang duduk di sampingnya. Sejak tadi gadis itu hanya makan kimchi saja.

“Oh? Ririn-ssi, kenapa tidak ikut makan daging?” tanya Siwon setelah melihat Ririn sama sekali tak menyentuh daging di hadapan mereka sama sekali.

“Dia tidak makan daging, Siwon-ssi.” kata Sora, sama sekali tak membiarkan Ririn menjawab.

Siwon tampak terkejut, “Benarkah? Kalau begitu biar kupesankan makanan lain.”

“Tidak perlu. Lagipula aku baru saja makan, kok.” sela Ririn. Ia tersenyum pada Siwon.

Siwon mengangguk memaklumi, walaupun ada sedikit dari ekspresi Ririn yang membuatnya tidak yakin.

Hyukjae nampak larut dengan pikirannya. Ia tak menyangka bisa mengetahui setidaknya satu lagi fakta tentang Ririn.

Sambil tersenyam-senyum sendiri, ia melahap kembali daging babi yang lezat itu.

***

~A few days later~

Hari ini, seakan sudah menjadi rutinitas wajib, Hyukjae berdiri di depan pintu aula kampus, mengobrol dengan pria yang setiap hari berada disana dan yang selalu mewanti-wanti dirinya agak tak mengintip ke dalam aula.

Hyukjae hampir selalu menunggu di tempat ini untuk bertemu Ririn, tanpa ada Sora yang menganggu. Meski hanya bisa mengobrol singkat karena gadis itu sepertinya tak suka berjalan berduaan dengan laki-laki, setidaknya Hyukjae merasa sudah semakin dekat dengannya.

Pintu akhirnya terbuka, dengan Ririn yang keluar dari dalamnya. Ia tersenyum pada Hyukjae, sudah terbiasa melihat laki-laki itu datang kesini sekedar untuk menyapanya.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada ahjussi yang ada disana–yang Hyukjae tebak karena telah menjaga pintu–, Ririn mulai berjalan, bersama Hyukjae di sisinya.

“Sore ini.. aku dan Sora akan pergi menonton drama musikal sekaligus makan malam di luar. Kau.. mau ikut bersama kami?” tanya Hyukjae, masih dengan senyum malu-malu yang rasanya tak bisa hilang jika ia sudah berada di dekat gadis ini.

“Ne? Mmm.. jam berapa makan malamnya?” tanya Ririn.

Sebenarnya Hyukjae heran kenapa gadis ini selalu lebih dulu menanyakan waktu dibanding hal lainnya.

“Jam tujuh malam.” jawabnya.

Dahi Ririn nampak berkerut sejenak, lalu menghela nafas setelah ia seperti bertemu suatu hal dalam pikirannya sebagai jawaban.

“Maaf, mungkin lain kali.” jawab Ririn, yang seketika membuat Hyukjae seperti kehilangan harapan. Kalau begini, ia hanya akan pergi dengan sepupunya. Dan itu akan terasa terlalu membosankan jika dibandingkan ada gadis ini bersamanya.

“O.. oh.. Tidak bisa, ya? Baiklah kalau begitu, aku.. pergi dulu. Sampai jumpa.” Hyukjae melambaikan tangannya sekilas dan langsung pergi.

“Maafkan aku..” gumam Ririn, sambil menatap punggung Hyukjae yang semakin menjauh.

***

Matahari masih bersinar terik, semakin membuat suasana terasa panas di bulan Juli ini.

“Panas sekali hari ini. Kita beli es krim saja, bagaimana?” kata Hyukjae. Ia mengipas-ngipasi wajahnya, sambil melirik kafe yang khusus menjual es krim yang ada di pinggir jalan.

“Ide bagus!” sahut Sora. Ia segera menggeret Ririn bersamanya menuju tempat es krim tersebut.

“Aku pesan tiga es krim stroberi.” kata Hyukjae pada si penjual.

“Dua saja.” potong Ririn segera.

Akhirnya hanya Hyukjae dan Sora yang makan es krim.

“Kenapa kau tidak pesan?” tanya Hyukjae–yang entah sudah berapa kali ia melontarkan pertanyaan sejenis pada Ririn.

“Aku.. sedang diet es krim.” jawab Ririn sambil tersenyum canggung, seolah telah mengeluarkan pernyataan yang aneh.

“Uhuk.. Uhuk..” Tiba-tiba Sora terbatuk, “Oh iya, aku lupa.” katanya.

Hyukjae menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya gadis ini sangat menjaga pola makannya, pikirnya.

Dering ponsel memecah keheningan. Sora yang merasa ponselnya bergetar segera mengeluarkannya dan menerima panggilan masuk itu.

Beberapa saat setelah berbicara di telepon, wajah Sora berubah panik.

“Aku harus segera kembali ke asrama. Nanti aku kembali lagi.” Sora buru-buru berdiri, hendak pergi dari tempat itu.

Ririn cukup kaget mendengarnya. Itu berarti ia akan ditinggal berdua bersama Hyukjae. “Aku ikut.” kata Ririn.

“Tidak. Kau tunggu saja disini. Aku tidak akan lama, Rin-ah. Dan aku tak akan membiarkanmu berlari di tengah musim panas begini hanya untuk menemaniku.” ujar Sora, kemudian ia berlari pergi dari sana.

Beberapa waktu setelah Sora pergi, masih belum ada percakapan di antara mereka. Ririn hanya duduk memandangi meja, dan Hyukjae sangat sibuk memandangi wajah Ririn sampai ia menelantarkan es krimnya.

“Ada apa?” tanya Ririn saat ia menyadari Hyukjae memperhatikannya. Ia meraba-raba wajahnya, takut mungkin saja ada sesuatu yang membuatnya terlihat aneh.

“Ti.. tidak ada apa-apa. Hehehe..” Hyukjae menggaruk-garuk tengkuknya.

Hampir hening kembali, namun Hyukjae kembali bersuara, “Rin-ah..” panggilnya.

Ririn langsung mendongak begitu mendengar Hyukjae memanggilnya dengan panggilan tersebut, panggilan akrab yang biasanya hanya terdengar dari orang-orang terdekatnya.

“Ne? A.. apa?” jawab Ririn gugup. Ia sendiri bingung darimana rasa gugup ini berasal.

“Kau.. menganggapku sebagai apa?” tanya Hyukjae, sama sekali tak menghilangkan senyum tipis di bibirnya.

“Ten.. tentu saja, aku menganggapmu sebagai temanku. Kecuali.. kalau kau semakin bisa dipercaya, levelnya naik menjadi sahabat. Hahaha..” jawab Ririn beserta tawa renyahnya. Kegugupannya langsung menghilang begitu saja.

Hyukjae tertawa kecil. Lagi-lagi, ia mengajukan pertanyaan, “Kalau aku sudah naik level, apa masih ada level diatasnya lagi?”

“Maksudmu?”

“Teman, sahabat, lalu apa? Apa aku bisa menjadi lebih spesial dengan level yang lebih tinggi untukmu?”

Dengan kata-kata itu, Ririn langsung terdiam. Sebenarnya apa maksud laki-laki ini?

Seakan tersadar, Hyukjae mengerjap. Ia tidak sadar sudah mengeluarkan pernyataan-cinta-secara-tidak-langsung nya.

“U.. uh. Maaf. Lupakan saja perkataanku. Aish, aku ini bicara apa sih.” Hyukjae memukul kepalanya sendiri.

Masih dengan bingung, Ririn menatap Hyukjae. Tak lama, ia tertawa melihat Hyukjae tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri.

“Kepalamu bisa sakit kalau dipukuli seperti itu..” kata Ririn di sela tawanya.

Hyukjae hanya tertawa seperti orang bodoh.

“Lucu.” ucap Ririn, masih setengah tertawa.

“Eh?” Hyukjae menatap Ririn yang masih tertawa kecil. Hyukjae mengusap tengkuknya canggung. Walaupun mungkin ia terlihat bodoh di hadapan Ririn, hatinya terasa senang bisa membuat gadis itu tertawa.

***

Ririn datang menghampiri Hyukjae di bangku taman. Ia duduk di ujung kanan, sedang Hyukjae di ujung kiri.

“Ada apa?” tanya Ririn sambil tersenyum sopan. Ia menyernyit melihat Hyukjae masih menunduk, meremas-remas telapak tangannya sambil sesekali mencuri pandang menatap Ririn. “Hyukjae-ssi?”

“Rin-ah, kau ingat pertanyaanku beberapa hari yang lalu?” tanya Hyukjae, kali ini dengan mata yang menatap lurus pada mata Ririn.

“Pertanyaan apa?” Ririn menelengkan kepalanya.

“Teman, sahabat, dan level di atasnya.”

“Oh? Ne, aku.. mengingatnya. Tapi.. aku belum bisa menangkap maksudmu.” Kini justru Ririn yang menundukkan kepalanya dan meremasi tangannya dengan gelisah.

“Aku..” Hyukjae melayangkan pandangannya ke langit, “ingin menjadi orang yang spesial untukmu.”

“…………………….”

“Aku menyukaimu.” ucap Hyukjae. “Bisa aku tahu bagaimana perasaanmu padaku?”

Hening. Sementara Hyukjae menunggu dengan sangat cemas, Ririn belum bersuara.

“Aku juga menyukaimu, tentu saja. Kau baik dan sopan–setidaknya padaku.” Ririn terkekeh.

Hyukjae menghela nafas, “Bukan. Bukan itu. Aku tahu kau mengerti, Rin-ah.” ucapnya pelan. Tak lama Hyukjae terdiam, kembali ia berbicara, pelan namun penuh keyakinan. “Jadilah milikku.”

Ririn tertegun. Karena sesuatu, hatinya terasa mencelos dan air matanya hampir saja menetes.

“Hyukjae-ssi..” panggilnya lirih. “Aku pun menyukaimu, sungguh..” katanya, nyaris seperti bisikan. “Tapi aku tidak bisa. Maafkan aku.”

Mendadak Ririn berdiri, hampir saja berjalan pergi jika saja Hyukjae tak secara reflek menahan tangannya.

Tapi Ririn langsung menepisnya, “Maaf, jangan sentuh aku.”

“Berikan satu alasan.” kata Hyukjae. Suaranya rendah dan rahangnya mengeras seketika. “Berkali-kali kau menolak ajakanku, atau apapun yang kutawarkan. Dan aku tak bertanya apa alasannya. Aku menghargai privasimu, karena itu aku tak menanyakan apapun lagi. Tapi tolong, untuk kali ini saja, beritahu satu saja alasanmu menolak.” Sorot mata Hyukjae melembut, menyiratkan sesuatu. Hatinya.. terasa sakit.

Tanpa bisa ditahan lagi, setetes air mata jatuh dari mata kiri Ririn. Ia buru-buru memalingkan wajahnya, dan sekali lagi, ia berkata, “Maafkan aku.” Dan ia pergi begitu saja.

Hyukjae memandang udara kosong di hadapannya, seakan berharap gadis itu masih berdiri disana dan tersenyum padanya. Meski tahu gadis itu tak akan pergi jauh, Hyukjae tetap merasa kehilangan.

***

~3 weeks later~

Hyukjae melajukan mobilnya dengan kecepatan jauh di atas rata-rata, melewati jembatan yang menghubungkan Incheon dengan Seoul.

Entah apa yang membawanya menuju Seoul. Ia hanya ingin menemui gadis itu, walaupun baru dua hari yang lalu mereka bertemu.

Walaupun Sora berkata bahwa Ririn akan segera kembali, Hyukjae tak mengurungkan niatnya sama sekali untuk pergi menyusul ke Seoul. Mungkin.. karena ia merasa akan bertemu sesuatu yang baru. Entah apa itu.

~

Kini ia sampai di daerah distrik Yongsan, Seoul. Dan ia baru menyadari satu hal : betapa bodoh dirinya karena tak bertanya sama sekali tentang tempat Ririn menginap di daerah ini.

Hyukjae mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana caranya ia menemukan seorang gadis di tempat seperti ini?

Ia coba menghubungi Sora dan apa yang ia dapat? Sepupunya itu menolak mentah-mentah untuk memberi tahu tempat Ririn tinggal di Seoul.

Untuk lebih bisa berkonsentrasi memikirkan cara yang tepat untuk menemukan gadis itu, Hyukjae segera memarkirkan mobilnya lalu turun. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sini.

Di Hannnam-dong yang merupakan bagian dari distrik Yongsan tersebut, Hyukjae bisa menemukan deretan penjual makanan dan pakaian yang sepertinya bukan penduduk asli Korea.

Semakin ia berjalan, semakin ia terjebak dalam keramaian. Hyukjae cukup heran mengapa tempat ini sangat ramai.

Hyukjae terpaku di tempatnya. Bahkan di tengah keramaian seperti ini, ia bisa melihatnya. Gadis itu, baru saja keluar dari sebuah bangunan megah yang nampak ramai.

Dengan kain yang menutupi sebagian rambutnya, gadis yang Hyukjae yakini adalah Ririn itu menuruni tangga megah bangunan itu.

Hyukjae akhirnya sadar, ia berada di hadapan sebuah bangunan megah yang terkenal dengan arsitekturnya yang menakjubkan, dengan tulisan asing yang terukir indah di pintu utamanya. Gedung tempat Hyukjae melihat Ririn itu ternyata.. Seoul Central Mosque.

~

“Kau sudah mendapatkan jawabannya sekarang.” Ririn tersenyum kecil, sambil menunduk memandangi jalanan.

“Jadi.. ini alasannya, ya?” gumam Hyukjae. Senyum yang biasa menghiasi wajahnya sama sekali tak terlihat. Mungkin karena ia masih shock. “Kau menolakku karena kepercayaan kita berbeda.”

“Hmm..” gumam Ririn mengiyakan. “Maafkan aku karena terlalu sering menolak ajakan makan darimu, karena aku sedang berpuasa..”

“Aku merindukanmu.” kata Hyukjae pelan, tidak peduli dengan penjelasan Ririn. Ia terlalu merindukannya. Senyumnya mulai muncul begitu ia memandang wajah cantik itu.

Ririn ikut tersenyum, tanpa membalas kata-kata Hyukjae.

“Rin-ah.. Benarkah.. kita tak bisa bersama?” Hyukjae bertanya dengan suara lemah, pertama kalinya ia terlihat begitu rapuh.

Ririn masih saja tersenyum. Ia menggeleng, sembari melirik Hyukjae sekilas. “Maaf..”

Hanya butuh beberapa detik, senyum penuh kesedihan Hyukjae segera menghilang, tergantikan oleh senyum ceria khas dirinya. “Baiklah. Karena tidak ada jalan keluar, mau tak mau aku menerimanya. Setelah tujuanku untuk menemuimu sudah terpenuhi, setidaknya aku merasa cukup puas.”

Ririn memandang laki-laki di hadapannya. Mengapa takdir harus mempertemukan mereka? Ia tidak suka menjadi alasan seseorang untuk merasakan patah hati.

“Kutunggu kau setelah Hari Raya-mu. Sampai jumpa.. temanku.” senyum Hyukjae.

“Sampai jumpa..” balas Ririn dengan melambaikan tangannya.

Mereka berjalan ke arah berlawanan, tepat seperti kisah mereka yang mengalir berlawanan dengan keinginan mereka sendiri.

Mau bagaimana lagi? Semuanya hanya sampai disini. Hanya sebatas ini.

END

Advertisements

One thought on “There is A Reason

  1. FF nya lucu…nama lain dari lee hyukjae di FF ini,itu lucu banget,sukses bikin gue ketawa ngakak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s