Annual Syndrom

.
.
Aku ingin membencimu.

Tapi bagaimana aku, yang terlalu mencintaimu ini bisa melakukannya? Aku hampir gila.

Hidup ini bukan film ataupun drama. Ya, aku tahu itu. Tapi aku hanya ingin mencurahkan apa yang kurasakan, dengan caraku. Tolong jangan katakan aku berlebihan.

Kali ini, aku merasakannya lagi.
Dari tahun ke tahun, kukira segalanya akan membaik. Aku sudah mencoba sebisaku untuk belajar. Tapi mengapa aku tak dapat menghadapinya dengan baik? Rasa cemburu. Aku terbakar rasa cemburu.

Konyol sekali aku. Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku tak punya cukup alasan untuk cemburu.

Kecuali satu, karena aku terjebak dalam masalah paling rumit. Aku telah jatuh cinta padamu.

Rasanya aku tak peduli lagi meski orang-orang bilang aku berlebihan. Aku gila. Aku bodoh. Aku konyol. Aku tak peduli lagi. Ini kisahku, ini perasaanku, dan ini cinta milikku.

Meskipun kau tak pernah tahu–bahkan kau tak akan tahu aku ada sebagai orang yang jatuh cinta padamu, tapi aku bisa merasakan cinta ini begitu nyata. Aku bisa merasakan sesuatu dalam diriku telah terikat padamu.

Aku bingung. Aku benar-benar bingung. Berapa lama lagi waktu yang kubutuhkan untuk menerima segalanya? Aku takut kau tak memberiku cukup waktu untuk belajar. Aku takut kau mempublikasikan semuanya. Aku takut aku belum siap.

Mungkin aku terlalu banyak membaca kisah-kisah roman? Mungkin karena itu aku menjadi seperti ini?

Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu. Aku seperti orang bodoh. Aku tak tahu apa-apa, dan aku bingung tentang segalanya.

Aku mencintaimu. Aku hanya mencintaimu. Aku terlalu mencintaimu.

Kenapa air mataku terus mengalir? Kenapa aku selalu menangis karena dirimu? Sekali lagi kukatakan, aku bukan siapa-siapa. Jadi karena apa?

Setiap senyum yang kusunggingkan, setiap mimpi indah yang kualami, kaulah penyebabnya. Kau sumber kebahagiaanku. Tapi setiap tetes air mata, dan setiap mimpi burukku, kau juga penyebabnya. Kau sumber kesedihanku.

Aku tak bisa menyalahkanmu. Aku tahu, sungguh aku tahu, kau sama sekali tak bersalah atas segala yang kurasakan.

Oke, ini semua salahku. Aku telah memilihmu untuk kutempatkan di dalam hatiku. Dan aku pula yang menyebabkan rasa ini menjadi semakin dalam, sehingga aku sama sekali tak bisa melupakanmu.

Aku ingin kau bahagia. Aku sangat ingin kau memperoleh kebahagiaan. Tapi jika hatiku hancur, aku bisa apa? Meski seribu kali kukatakan aku tidak apa-apa, hati ini akan menolak, sampai kapanpun. Meski seribu kali kukatakan aku bisa menerimanya, hatiku akan kembali berteriak, kalau itu semua kebohongan besar.

Maafkan aku. Aku terlalu egois. Aku orang asing yang terlalu egois.

Tahun lalu, aku begitu yakin bahwa tahun-tahun berikutnya akan baik-baik saja. Kupikir aku sudah cukup belajar. Ternyata aku salah. Segalanya tak berlalu semudah itu.

Tapi tahun ini, aku kembali berharap. Harapan yang sama dengan yang selalu kupanjatkan.

Aku akan selalu belajar. Aku akan belajar untukmu. Untuk menerima segalanya.

Oppa, sekali saja, bisakah aku berteriak dengan gila, menyebutkan namamu dan mengatakan aku mencintaimu?

Aku tak bosan untuk mengatakan, aku hanya mencintaimu. Hanya itu.
.
.

Sungguh, aku.. mencintaimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s