The Evil Partner [Part 4]

***

Review

“Setelah satu minggu berlalu, apa kau akan pulang?” tanya Jaemi, saat mereka masih duduk di bangku taman. Beruntung taman itu sudah sangat sepi, hingga Kyuhyun dan Jaemi bisa berbicara dengan leluasa.

Kyuhyun menundukkan kepalanya, menatap sepatunya sendiri sambil berpikir-pikir. “Entahlah. Aku tidak tahu.” katanya.

“Kalau kau masih belum siap untuk pulang, kau bisa tinggal lebih lama.” Jaemi tersenyum pada Kyuhyun, menyatakan kalau memang pintu rumahnya akan selalu terbuka. “Kau tahu? Aku sangat senang ketika seseorang mempercayaiku untuk berbagi masalah. Karena aku akan merasa sukses menjadi seorang teman.”

Teman? Kyuhyun baru sadar, dari sekedar partner kerja kelompok, ternyata mereka benar-benar sudah menjadi teman. Tapi mengingat debaran yang sering ia rasakan, benarkah Kyuhyun hanya menganggap Jaemi sebagai temannya?

***

Author POV

“Tidak ada banyak waktu lagi. Kita harus menyelesaikannya.” Kyuhyun berkata sambil menaiki tangga menuju lantai dua.

Jaemi mengikuti langkah Kyuhyun dari belakang, yang kemungkinan besar menuju ke kamarnya.

Mengingat Kyuhyun yang baru saja menangis dan menceritakan segala permasalahannya, Jaemi cukup heran bagaimana bisa orang ini bertingkah seperti tak ada masalah apapun? Bahkan jika dibandingkan dengan masalah keluarganya, prestasinya sungguh luar biasa. Jaemi yang setidaknya masih memiliki Ayah dan Ibu yang ‘normal’, ia malah menyia-nyiakannya dan tak pernah mempersembahkan sesuatu untuk dibanggakan.

“Yaa! Kau dengar tidak?!” sentak Kyuhyun tiba-tiba.

“Aish, iya, aku dengar!”

“Jam berapa sekarang?” Kyuhyun mencari-cari jam dinding di kamar Jaemi.

“Jam delapan malam.” sahut Jaemi, setelah sebelumnya melongok ke meja belajarnya tempat sebuah jam kecil diletakkan.

Kyuhyun mengusap matanya, sepertinya ia mengantuk.

“Nah, lihat. Kau sendiri telihat mengantuk seperti itu. Lebih baik kita kembali ke kamar masing-masing, memakai piyama, lalu naik ke tempat tidur dan segera terlelap.” saran Jaemi.

“Yaish, jika kau berkata seperti itu sekali lagi, akan ku hapus namamu dari laporan pengerjaan tugas itu.” tegas Kyuhyun. Ia menguap, entah kenapa saat ini matanya terasa berat untuk terbuka sepenuhnya.

“Ah, terserah kau saja. Bukankah aku hanya perlu menonton saja?” Jaemi mengangkat bahunya, berkata dengan ringannya. “Aku akan mengambil beberapa makanan ringan di bawah.” katanya, lalu ia keluar dari kamar.

Kyuhyun mendekati meja tempat rangkaian yang belum rampung itu diletakkan. Ia mengambilnya, meletakkannya di lantai dan ikut duduk bersamanya.

Ia menyandarkan punggungnya pada dinding. Kamar ini cukup bisa membuatnya merasa nyaman. Ia memejamkan matanya, berniat mengistirahatkan matanya sebentar saja.

Jaemi kembali ke kamar dengan dua botol kecil jus dan kue. Alisnya berkerut heran melihat Kyuhyun yang tertidur dalam posisi bersandar pada dinding. Ia sempat ragu apakah Kyuhyun benar-benar tertidur, tapi setelah ia menepuk pelan bahunya dan tak mendapat respon, ia akhirnya menyimpulkan kalau Kyuhyun benar-benar sudah tidur.

Jaemi pernah mengalami sesuatu sewaktu kecil. Ia selalu tertidur setelah menangis hebat. Sore tadi, Kyuhyun menangis. Mungkin hal yang sama sedang terjadi padanya.

Ia sama sekali tidak tega membangunkan Kyuhyun. Kalau Kyuhyun terbangun, ia pasti akan memaksa untuk mengerjakan tugas dibanding mengikuti kemauan matanya untuk terus terpejam. Sedangkan Jaemi ingin, laki-laki itu mengistirahatkan pikirannya terlebih dulu.

“Mana aku kuat menggendong tubuhnya itu ke kamarnya?” gumam Jaemi. Ia berpikir-pikir, bolehkah ia membiarkan Kyuhyun tidur di kamarnya malam ini?

Jaemi mengiyakan sendiri pertanyaannya. Ia segera menggelar kasur lipat tepat di samping Kyuhyun yang sudah tertidur pulas. Dengan hati-hati dan sekuat tenaga, ia sebisa mungkin menempatkan tubuh Kyuhyun di atas kasur itu.

Memang sepertinya tidur dengan seragam sekolah kurang nyaman, tapi lebih tidak nyaman lagi jika ia harus membuka seragam Kyuhyun.

Setelah dirasanya cukup, ia menyelimuti Kyuhyun. Aigoo, posisi meringkuknya itu sungguh menggemaskan. Belakangan ini Jaemi melihat banyak sisi yang berbeda pada diri laki-laki ini.
Sepertinya setiap Kyuhyun ada di kamarnya untuk mengerjakan tugas atau apapun itu, predikat ‘suram’ untuk kamarnya hilang dengan sendirinya.

Perlahan Jaemi menggeser rangkaian yang lagi-lagi terlantar itu. Ia sempat tersenyum sebelum berganti pakaian di kamar mandi kemudian naik ke tempat tidurnya dan mulai menulis sesuatu.

‘Perlahan, kurasakan sesuatu yang berbeda. Mungkinkah ini rasa kesayangan? Atau justru yang lain?’

***

Kyuhyun mengerang pelan. Ia mengubah posisi tidurnya, seraya merapatkan selimutnya.

Kesadarannya langsung muncul kala otaknya mengingat dengan jelas hal terakhir yang dilakukannya, yang jelas bukan tidur nyaman dengan sebuah selimut hangat. Ia ingat persis posisi terakhirnya. Hanya duduk sambil bersandar.

Akhirnya Kyuhyun membuka matanya. Refleks, ia menyibakkan selimut yang menghangatkan tubuhnya tadi, begitu menyadari tempat ia berada sekarang. Masih di ruangan yang sama dengan yang ia tempati terakhir kali semalam.

Jam masih menunjuk ke angka 2, dan langit di luar sana masih gelap. Sambil memandang aneh pada gadis yang sedang tertidur pulas di atas kasur dalam kamar itu, Kyuhyun berpikir keras bagaimana dirinya bisa tidur dengan kasur lipat serta selimut yang hangat?

“Ckckck.. Gadis itu.” Kyuhyun berdecak membayangkan jika Jaemi yang telah memperbaiki posisi dan tempatnya tidur.

Kyuhyun melipat kembali kasur itu, lalu meletakkannya di sudut kamar itu. Ia sudah hampir melangkah menuju pintu, tapi ada sesuatu yang mendorongnya untuk kembali dan berdiri di sisi tempat tidur Jaemi.
Ia hanya berdiri diam disana, menyilangkan kedua tangannya sambil menatap wajah Jaemi yang terlihat damai dalam tidurnya.

“Kau membuatku bingung. Kau membuatku sungguh bingung dengan apa yang kurasakan padamu.” lirihnya.

Kyuhyun mengacak pelan rambut Jaemi. Setelahnya ia keluar bersama rangkaian–tugas mereka, menuju kamarnya di lantai dasar.

Dengan serius Kyuhyun menyelesaikan rangkaian itu. Sebenarnya ia lebih senang jika gadis itu ada di hadapannya dan menemaninya sampai ia bilang cukup.

Tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin memberikan sedikit kejutan pada gadis itu.

Mendadak ia merasakan sesuatu bergetar di sakunya. Ada panggilan masuk di ponselnya. Lagi-lagi kakaknya menelepon. Ada apa lagi?

Kyuhyun menekan tombol hijau, walau sebenarnya ia sungguh malas jikalau kakaknya itu akan mengingatkannya tentang orang tuanya.

“Ada apa?”

“Kyu.. Ayah… Dia sakit..” Kakaknya sedikit terbata saat mengatakannya.

Ada sesuatu yang Kyuhyun rasakan saat mendengarnya. Ia tidak tahu apa itu, tapi yang pasti bukanlah sesuatu yang baik. Ia benci, namun ia tetap seorang anak.

Ahra tak menunggu jawaban Kyuhyun. Ia menambahkan, “Ayah terkena stroke. Ini bukan stroke ringan, Kyu. Ini berbahaya..”

Suaranya semakin bergetar, menandakan Ahra sedang menangis di ujung sana.

Kyuhyun belum bersuara, ia masih terdiam bersama hatinya yang terasa mencelos.

“Dan hari ini, keadaan Ibu memburuk secara drastis. Ia mulai memberontak, menghancurkan barang-barang dirumah. Karena itu.. aku terpaksa membawanya ke rumah sakit jiwa..” Ahra berbicara semakin gamang, seolah gadis itu hampir kehilangan kesadarannya. “Orang tua kita ada di rumah sakit, Kyu. Orang tua kita…” Tangisnya terdengar semakin jelas, ia pun tak sanggup berbicara lagi.

Berbeda dengan jantungnya yang berpacu semakin cepat, wajah Kyuhyun tak menunjukkan reaksi apapun. Wajahnya semakin datar, dan ia mematikan ponselnya begitu saja.

Mungkin ia bisa digolongkan sebagai anak durhaka, tapi perasaannya pun pernah terluka. Ia belum bisa memaafkan siapapun. Meski kedua orang itu tetap berstatus orang tuanya, Kyuhyun telah dilukai. Sekali lagi, ia sudah terluka. Ia akan menutup mata dan telinganya untuk semua yang berhubungan dengan orang tuanya.

***

“Hey, apa yang kau lakukan? Harusnya kau pulang beberapa menit setelah aku meninggalkan sekolah!” Jaemi bersungut-sungut saat melihat Kyuhyun malah berjalan di sampingnya padahal banyak orang di sekitar mereka.

“Hari ini kita pulang bersama. Kita akan lembur malam ini karena tugas itu harus dikumpulkan besok.” Kyuhyun berkata datar. Ia bahkan sama sekali tak mempedulikan siswa-siswi yang mulai mengekor di belakang.

“Aish, kau tidak lihat orang-orang itu? Bagaimana kalau semuanya terbongkar?!” bisik Jaemi, sambil mulai menjaga jarak.

“Kita tinggal mengatakan kalau kita akan mengerjakan tugas. Kenapa pusing-pusing?”

Jaemi menyerah, toh Kyuhyun sudah menyiapkan alasan. “Baiklaaahh..”

~

“Kau sedang apa? Kau bilang akan melanjutkan tugas?” Jaemi bertanya pada Kyuhyun, yang sejak tadi hanya memandangi layar ponselnya tanpa menyentuh sedikitpun rangkaian di hadapan mereka saat ini.

Kening Jaemi berkerut, merasa aneh dengan Kyuhyun yang tidak meresponnya. Laki-laki itu seperti melupakan keberadaan dirinya.

“Yak, kau ini kenapa? Hey, hey! YAK!”

Seketika Kyuhyun terlonjak, baru saja ia sadar dari lamunannya.

“Eh? Apa? Kau ini mengagetkanku saja…” lirih Kyuhyun, dengan pikiran yang masih melayang kemana-mana.

Jaemi merampas ponsel Kyuhyun dari tangannya, dan melihat apa yang sejak tadi membuat Kyuhyun melamun.

Pesan dari Cho Ahra.

“Kyu..”

“Hmm?” Kyuhyun menyahut enggan, menyadari bahwa Jaemi sudah membaca isi pesan itu.

“Kau pikir.. kau sedang apa sekarang ini, hah? Seharusnya kau pergi ke rumah sakit..” ucap Jaemi pelan, di tengah keterkejutannya.

Kyuhyun mendengus. “Untuk apa? Untuk menonton pertunjukan drama tak berguna yang membosankan? Kemudian melihat monitor memperlihatkan garis lurus dan menangis histeris?–”

“Dasar iblis!”

“Mwo?”

“Drama apa yang kau maksud? Dan.. astaga, jangan bilang kau berharap Ayah-mu mati?” Mata Jaemi membulat dan berkilat marah–entah untuk apa. Mungkin semua ini bukan urusannya, tapi sungguh, laki-laki ini nampak menyebalkan saat ini.

Rahang Kyuhyun mengeras, dan ia merasa tertohok. Hatinya bimbang, antara bertahan bersama egonya, atau membenarkan apa yang akan Jaemi sampaikan.

“Aku yakin kau masih punya rasa manusiawi. Rasa sayang terhadap orang tuamu. Dan.. rasa sayang terhadap dirimu sendiri. Dengan menolak mati-matian apa yang sesungguhnya kau rasakan, bisa berdampak pada kondisi mentalmu. Kau bisa benar-benar menjadi manusia dingin, tak berperasaan. Tapi seperti yang sudah kubilang, aku yakin kau masih memilikinya. Rasa sayang..”

Kyuhyun memalingkan wajahnya, berusaha tidak mendengarkan apapun yang dikatakan gadis itu.

“Jangan banyak bicara. Apa urusanmu? Biarkan aku menjadi apa yang kuinginkan. Sekali lagi, ini bukan urusanmu.” tutur Kyuhyun datar. Matanya menggelap, dan bersinar dingin.

Ia menyentuh rangkaian yang sejak tadi dianggurkan, memulai pekerjaannya seakan tak ada apapun yang baru saja terjadi.

Jaemi menggigit bibir menanggapi perkataan Kyuhyun, ia kesal, sekaligus prihatin. Kira-kira apa yang bisa ia lakukan?

Duk.

“YAK!”
Kyuhyun menyahut keras, setelah sebuah benda keras membentur kepalanya. Ia mendongak, mendapati Jaemi menatapnya gusar dengan solder di tangannya, yang ternyata barusan digunakannya untuk memukul kepala Kyuhyun.

Gadis ini benar-benar..

“Singkirkan rangkaian itu! Sekarang!”

“Neo.. Kau pikir siapa dirimu yang bisa memerintahku seenaknya?! HAH?!” bentak Kyuhyun, tanpa sadar meluapkan emosi yang sejak tadi ditahannya.

Jaemi berdiri dengan cepat, dan menarik tangan Kyuhyun agar ikut berdiri bersamanya dengan sama cepatnya.

“Apa yang kau lakukan?!!”

“Jangan bodoh–walaupun di kenyataan aku lebih bodoh–, kau tahu kemana seharusnya kau pergi. Kita ke rumah sakit sekarang.”

***

“Kyuhyun-ah..” Ahra berlari, menghambur ke pelukan adik tersayangnya itu.

Kyuhyun hanya diam, seperti manusia tak berperasaan.

Jaemi–seperti orang bodoh–hanya berdiri beberapa meter dari kakak-beradik itu tanpa melakukan apapun.
“Hey, gadis bodoh. Setelah sampai disini, apa yang akan kita lakukan?” Kyuhyun menoleh ke arah Jaemi, dengan tatapannya yang tak terbaca.

Jaemi menggertakkan giginya, tidak habis pikir dengan tingkah laki-laki itu. “Gadis bodoh? Kau yang bodoh! Ayah-mu sedang ada di masa kritis, bodoh! Kau pikir apa yang akan dilakukan seorang anak? Bodoh bodoh bodoohh!!” teriak Jaemi emosi.
Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berkata lagi, “Doakan keselamatannya, dasar bodoh. Aku tahu kau sudah melakukannya di dalam hatimu, tapi doa-mu harus lebih tulus..”

“Siapa yang kau bilang berdoa dalam hati? Aku berharap orang itu mati saja.” sangkal Kyuhyun.

Jaemi menghela nafas, hampir kehabisan ide untuk meluluhkan es yang ada di depannya saat ini.
“Hmm.. Ahra-ssi, bisa aku bicara sebentar?” tanya Jaemi, menatap Ahra penuh harap sekaligus memberi suatu tanda.

“Ne?” Ahra menghapus air matanya kilat, kemudian mengangguk dan mendekati Jaemi, lalu pergi menjauh untuk mencari tempat yang lebih privasi.

Lagi-lagi Kyuhyun hanya diam. Ia menatap sepatunya, berdiri tepat di depan pintu kamar rawat Ayahnya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Cklek.

Tanpa sadar, ia sudah memutar kenop pintu, dan melangkah masuk perlahan-lahan.

Perasaannya campur aduk saat melihat pria tua yang telah lama jauh darinya, kini hanya terbaring seperti sosok tak berdaya.

Di ruangan ini, hanya ada mereka berdua. Karena itu.. Kyuhyun bebas meluapkan segalanya, termasuk menangis seperti sekarang ini.

“Ayah.. Apa.. k-kau ak.. akan meninggalkanku??” Kyuhyun terisak, berdiri di atas lututnya.

~

“Sudah kubilang, dia hanya tak terbiasa mengumbar perasaan yang sedang dirasakannya. Aku percaya, Kyuhyun adalah anak yang baik.” Jaemi tersenyum–setengah menangis, sembari memgamati Kyuhyun dari sela-sela pintu bersama Ahra.

Ahra tidak bisa berhenti menangis. Kyuhyun.. anak itu.. menangis karena mengkhawatirkan Ayahnya..

Jaemi masih terpaku menatap Kyuhyun. Sungguh takjub dengan apa yang ia lihat saat ini.

Kyuhyun-ah.. ini sudah kesekian kalinya kau menggetarkan hatiku..

***

“Ini semua salahmu.” Kyuhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Jaemi datar.

“Apa? Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena telah memaksamu pergi menemui Ayahmu!” tukas Jaemi sengit.

“Tapi gara-gara itu juga, rangkaian ini belum sempat kuselesaikan gadis bodoh!!” Kyuhyun mendorong dahi Jaemi dengan jari telunjuknya.

Jaemi menghembuskan nafas kasar. “Jadi, sekarang yang bodoh itu kau atau aku? Aku sudah punya cara agar tugas itu bisa di kumpulkan hari ini juga.”

“Bagaimana?” sahut Kyuhyun cepat.
“Pelajaran Seonsaeng Kim baru dimulai setelah jam istirahat. Jadi..”

~

“Cih, inilah resiko yang kuhadapi karena telah bergaul dengan seorang gadis bodoh. Sepanjang sejarah kehidupanku, aku tidak pernah melakukan ini.” Kyuhyun mengomel tidak jelas sambil mengerjakan rangkaiannya.

Mereka ada di perpustakaan saat ini, menyelesaikan rangkaian yang harus dikumpulkan nanti. Sejak bel masuk berbunyi, mereka sudah berada disana, tidak mengikuti pelajaran.

“Masih baik aku punya ide. Daripada kau yang terus mengomel, ide ini lebih baik.” kata Jaemi yang sedang duduk sambil menopang dagunya.

Selang beberapa waktu..

“Hmm..” Kyuhyun bergumam. Ia menekan tombol di sisi ujung papan rangkaian, kemudian di tempat yang remang-remang itu, tiba-tiba diterangi oleh cahaya berwarna merah hati.

Jaemi melongo takjub. “Indah sekali…” gumamnya.

Lampu-lampu itu bersinar bergilir–seperti cahaya yang berjalan dari ujung huruf I sampai huruf U. Selama beberapa detik, Jaemi masih memandangi tulisan itu dengan takjub. Matanya berbinar-binar, tanda ia sangat menyukai karya itu.

“I love you.”

Jaemi mendongak, setelah mendengar Kyuhyun menyuarakan tiga kata itu. “Apa?”

“Eh? Apanya?” Kyuhyun bertanya balik, baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. “A.. aku hanya.. memastikan tidak ada hu-huruf yang kurang..” katanya terbata.

Jaemi tidak ambil pusing, ia masih terkagum-kagum dengan apa yang ada di hadapannya.

“Mmm.. ba-bagaimana menurutmu?” tanya Kyuhyun, menanyakan pendapat Jaemi tentang tugas yang baru saja selesai itu.

“Ckckck.. apa perlu ditanya lagi? Ini bagus, menurutku. Aku dibuat terpesona, hahaha.. Hebat juga kau ini!” Jaemi tertawa gembira sembari menepuk-nepuk bahu Kyuhyun, seperti Ibu yang bangga dengan prestasi anaknya. “Haahh.. andai seseorang membuatkan ini untukku..”

“Kau ini, terlalu banyak mengkhayal.” Kyuhyun bangkit dari duduknya. “Angkat rangkaian itu, kita kembali ke kelas.”

“Baik!” ujar Jaemi semangat. Setelah melihat benda indah seperti itu, mood nya membaik secara drastis.

***

“Untuk merayakan kesuksesan tugas kita, mari kita membeli es krim!! Yeaayy!!” teriak Jaemi sambil mengangkat kepalan tangannya ke udara.

“Ya Tuhan.. tingkahmu sungguh mengerikan.” komentar Kyuhyun.

Hari sudah hampir senja. Langit mulai bersemburat oranye dan orang-orang memadati jalanan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Jaemi menarik Kyuhyun ke kedai es krim pinggir jalan, dan memaksa Kyuhyun membelikan es krim untuk mereka berdua.

“Kenapa harus aku yang membayar??” protes Kyuhyun. Dahinya berkerut dalam, dan kedua tangannya disilangkan di depan dada.

“Aku tidak membawa uang.” jawab Jaemi polos. Kemudian ia langsung tersenyum gembira saat Kyuhyun memesan dua buah es krim.

“Silahkan es krimnya..” kata Penjual kepada mereka berdua. “Apa kalian sepasang kekasih? Kami menjual dua buah es krim seharga satu  buah es krim untuk pasangan kekasih.” tambah Penjual itu, sembari tersenyum ramah.

“Ya, dia kekasihku.” Kyuhyun merangkul bahu Jaemi sambil tersenyum miring, membuat gadis itu membulatkan matanya.

“Ah.. Kalau begitu ini kembaliannya. Selamat menikmati..”

Mereka berjalan kembali. Jaemi menjilati es krim vanila-nya dengan wajah masam.

“Menyebalkan. Kau mengatakan kalau kita sepasang kekasih untuk mendapatkan es krim gratis.” dumal Jaemi.

“Itu dinamakan trik. Hahaha…” Kyuhyun tertawa lepas, membuat Jaemi terpana.

“Dasar iblis.” gumam Jaemi kesal, lalu ia melahap seluruh es krimnya sampai habis.

~

“Jaemi.” panggil Kyuhyun, saat Jaemi hendak naik ke atas menuju kamarnya.

Jaemi berbalik menanggapinya.
Kyuhyun tengah berdiri di ambang pintu kamarnya, menatap Jaemi tanpa ekspresi, namun entah kenapa menyiratkan misteri.

Tiba-tiba Kyuhyun menyunggingkan senyum miring, “Aku sudah menyelesaikan tugas itu dengan baik, bukan? Dan tadi aku yang membayar untuk es krim itu. Sekarang, aku menuntut balasan.” Senyum miringnya makin menjadi, membuat Jaemi bergidik ngeri.

“Eo? Balas-an? B.. baiklah.. Kau menginginkan apa sebagai balasan? Aku juga merasa tidak enak hati karena telah menyusahkan tanpa membantu. Katakan.” kata Jaemi.

Kyuhyun berjalan mendekat, mengganti senyum miringnya dengan sebuah senyum tipis yang terlihat tulus. “Aku ingin ini.”

Chup.

Bibir lembut milik Kyuhyun menyentuh pipi kiri Jaemi, yang seketika terasa seperti membakar wajah Jaemi. Hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat kakinya lemas.
Setelah membelalakkan matanya karena terlalu terkejut, semburat merah mulai menghiasi wajah Jaemi.
Kyuhyun tersenyum, yang–sungguh, membuat Jaemi ingin pingsan di tempat.

“Selamat malam.”

***

Suara langkah kaki tidak beraturan memenuhi koridor rumah sakit. Dua orang yang sedang berlari itu merasakan hal yang sama, khawatir.

Kyuhyun tampak sangat berbeda. Matanya memancarkan ketakutan, wajahnya pucat, menggambarkan perasaannya saat ini.

Jaemi yang berlari di depan, melihat ruangan yang mereka tuju. Disana, Ahra terduduk lemas di atas kursi tunggu dengan telapak tangan yang menutupi wajahnya.

“Eonni..” Jaemi memanggil Ahra.

“Jaemi-ya..” Ahra menangis histeris di pelukan Jaemi.

Kyuhyun, ia langsung menjatuhkan dirinya keatas kursi, meremas rambutnya sendiri.

“Apa yang terjadi sebenarnya..” lirihnya. Air matanya menetes lagi.

Ayahnya sekarat. Ahra bilang, tadi ia melihat gelombang di monitor semakin lemah, hampir menjadi satu garis lurus.

Ditengah keheningan yang tercipta sejak beberapa menit yang lalu, suara pintu yang dibuka mengejutkan mereka. Kyuhyun yang pertama kali berdiri.

Kyuhyun bertanya tanpa basa-basi, dan segera ia mengerti jawabannya saat Dokter menggelengkan kepalanya.

Ahra jatuh pingsan. Dan sungguh, Jaemi ingin menangis melihat Kyuhyun jatuh terduduk seakan tak memiliki tenaga lagi untuk berdiri.

Ya Tuhan.. Apa yang bisa kulakukan untuk mengembalikan senyumnya seperti hari kemarin?

TBC

Advertisements

One thought on “The Evil Partner [Part 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s