Anything for You

Anything for You2

Cast : Super Junior Kyuhyun, Han Jaemi (OC)

Notes : ff ini sejujur-jujur-jujurnya mau di post pas ultah Kyu kemaren, tapi ngeliat ada ffwc di sujuff, jadinya aku kirim kesana dulu._. Jadi yaahh karna baru di post, disinipun baru bisa di post sekarang. Dan maaf alurnya lompat-lompat, karna ada batasannya-___- let’s go to the story ^w^

***

Author POV

“Huaaaaa….”

“Ya Tuhaaann..”

“Tidak mungkiinnn…”

“Aku juga mau!!”

Jaemi menutup telinganya erat-erat. Berisik sekali gadis-gadis itu.

Ia baru saja kembali dari perpustakaan saat ia melihat gadis-gadis di sekolahnya berkumpul di koridor depan kelasnya. Mereka semua berteriak histeris, benar-benar histeris sampai Jaemi merasa mereka semua sudah gila.

Jaemi sempat mengintip sebenarnya apa yang sedang terjadi disana. Tapi setelah melihatnya, Jaemi langsung kehilangan antusiasmenya. Tiba-tiba, mood nya berubah buruk begitu melihat kejadian yang seharusnya tidak pantas dilakukan di sekolah.

Ia langsung mengepalkan tangannya erat-erat untuk menahan kekesalannya. Sayang ia bukan seperti gadis-gadis diluar sana. Kalau iya, pasti ia tidak duduk diam di dalam kelas seperti sekarang ini.

“Apa-apaan orang itu? Apa dia tidak merasa malu? Aku tahu dia putra konglomerat yang terkenal, tapi apa dengan begitu dia bebas melakukan apapun? Yaish!” Jaemi mengumpat tidak jelas, sambil mencoret-coret bukunya dengan kata-kata makian.

“Harusnya dia menyimpan bibirnya untuk orang yang benar-benar dicintainya!” Jaemi terus mengomel, walau bukan di depan orangnya langsung.

“Perverter! Menjijikkan sekali! Menyebalkaaann!!” Jaemi membanting pulpennya ke atas meja, sampai pulpen itu melompat dan jatuh jauuuhh sekali dari tempat duduknya.

Tiba-tiba tawa seorang gadis meledak, tepat setelah pulpen Jaemi terjatuh.

Jaemi menatap kesal pada Eunhwa, sahabatnya yang memiliki tawa paling menyebalkan.

“Hahaha.. Jaemi-ya.. kau marah pada siapa?” Eunhwa berjalan menuju tempat duduk Jaemi. Kelas memang sedang kosong karena semua orang berkumpul di koridor, jadi tak ada yang perlu merasa terganggu dengan tawa Eunhwa. Kecuali Jaemi tentunya.

“Berisik! Tawamu itu membuatku semakin kesal saja!” seru Jaemi.

Eunhwa duduk di hadapan Jaemi. “Mau mengomel sampai bibirmu itu lepas pun Kyuhyun tak akan berhenti ‘bermain’ dan mendekat padamu! Hahaha…”

“Berhenti bicara atau kutusuk matamu dengan ini!” Jaemi mengacungkan pulpennya tepat ke depan wajah Eunhwa, membuatnya mundur beberapa centi.

Meski sudah diancam, Eunhwa masih tertawa geli melihat wajah sahabatnya merah karena marah.

Setelah tawanya mereda, baru Eunhwa bersuara lagi. “Mungkin lebih baik kau berhenti. Bisa gila kalau setiap hari seperti ini. Kau tahu banyak sekali gadis yang menyukai Cho Kyuhyun itu. Dan Kyuhyun sendiri, jelas sekali dia bukan laki-laki yang baik. Jangan menyiksa perasaanmu sendiri.”

Dengan perasaan yang campur aduk, Jaemi memalingkan wajahnya. Ia tak mampu membalas tatapan Eunhwa jika cara bicara sahabatnya itu mulai serius seperti ini.

Melihat Jaemi pura-pura tidak mendengarnya, Eunhwa kesal. “Yaakk.. Kau ini selalu saja menghindar. Memangnya setelah melihat kelakuan laki-laki seperti dia, apa yang membuatmu tak pernah sekalipun berniat untuk berhenti menyukainya? Jangan-jangan karena dia anak orang kaya?”

“Berhenti menggodakuuuuuu!!”Jaemi melempar buku tulisnya, yang dapat dengan mudah dihindari oleh Eunhwa.

“Ya, ya, ya. Aku tahu kau bukan gadis matre seperti itu..”

Eunhwa kembali tertawa.”Ngomong-ngomong, apa kau tidak tertarik dengan pertunjukan di depan koridor kelas kita?” tanyanya.

“Tidak, terima kasih. Aku tidak punya tiket.” sahut Jaemi ketus.

LagI-lagi Eunhwa tertawa. Lelucon yang aneh.

Tapi setelah Eunhwa meninggalkan mejanya dan berjalan keluar kelas, Jaemi jadi mulai penasaran, mengapa anak-anak belum masuk juga? Mungkinkah ada adegan ‘kissing’ se-lama ini?

Jadi Jaemi mulai beranjak, sambil mempersiapkan kekebalan hatinya untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar.

Oh, sudah bubar ternyata..

Kyuhyun sudah tidak ada disana, juga gadis yang baru saja jatuh ke pelukannya itu. Hanya tersisa anak-anak yang lain yang tentunya sedang membicarakan kejadian ‘ciuman di koridor’ tadi.

“Hahahah…. ternyata kau penasaran juga?”

Jaemi berjengit kaget. Lagi, tawa Eunhwa mengejutkannya.

“Sekali lagi kau tertawa, akan kubuat botak kepalamu itu!”

“Hahahahah….”

“Yaaaakk!!”

***

“Kalau begitu aku akan bekerja paruh waktu untuk membantu Ibu.” putus Jaemi seketika.

“Tidak boleh. Kau tidak tahu hal itu bisa membuatmu kehilangan konsentrasi untuk pelajaran di sekolah. Bagaimanapun kesulitan Ibu, kau tidak perlu turun tangan.” tegas Ibunya.

“Tapi hutang sebesar itu.. bagaimana mungkin..?”

“Dengarkan Ibu. Kau hanya perlu belajar dengan serius. Ibu bisa mengatasinya.”

Jaemi meremas tangannya erat. Ia tidak bisa membiarkan Ibunya kesulitan seperti ini. Tapi ia pun tak bisa melawan Ibunya, jadi apa yang harus ia lakukan?

“Kalau begitu aku pergi ke kamar dulu.” katanya, kemudian ia masuk ke kamarnya sambil terus berpikir-pikir.

Ketika sebuah ide yang mungkin bisa membantu muncul, Jaemi tersenyum sambil bergumam, “Baiklah, aku tidak akan membantu melunasi hutang. Tapi Ibu tak bisa melarangku untuk mencari uang jajanku sendiri.”

Ia mengambil jaketnya, kemudian keluar lagi dari dalam kamar. Setelah minta izin pada Ibunya untuk pergi ke minimarket, Jaemi pergi dari rumah, memulai pencariannya.

“Uang saku, uang sekolah, buku pelajaran, dan yang lain. Aku tak akan menyusahkan Ibu lagi untuk itu semua.”gumamnya. “Mungkin sulit, tapi aku akan berusaha.”

Jaemi masih menyusuri jalan sambil mengedarkan pandangannya, mencari-cari lowongan pekerjaan yang mungkin dipasang di kaca-kaca toko atau semacamnya.

Ia melewati sebuah stan surat kabar. Diambilnya koran yang terbit pagi tadi, dan membelinya. Tanpa menghiraukan berita-berita lainnya, Jaemi langsung masuk ke halaman yang memuat iklan lowongan pekerjaan.

“Ap-apa? Lowongan pengasuh rumah tangga, bayaran tiga kali gaji pegawai pemerintah? Terdengar seperti penipuan..” gumamnya tak jelas.

Walau masih belum percaya, namun Jaemi menyimpan nomor yang bisa dihubungi untuk pekerjaan itu. Siapa tahu berguna, pikirnya.

Setelah merasa cukup informasi yang ia dapat, Jaemi kembali menuju rumahnya. Sudah ia putuskan, ia akan bekerja secepatnya.

***

“Selamat siang…”sapa Jaemi pelan pada seseorang di balik pintu. Seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum ramah menyambutnya begitu ia masuk.

“Silahkan duduk.”

Jaemi mengikuti perintah tersebut dengan canggung. Siapapun pasti akan bertingkah sama kalau yang ada di hadapannya adalah istri dari pemilik sekaligus pengelola Joyoung Group, konglomerat ternama di Korea Selatan.

Sungguh, Jaemi sama sekali tak mengira bahwa lowongan pekerjaan yang ia lihat di koran adalah dari keluarga ini.

Kenapa repot-repot memasang iklan di koran? Bukankah keluarga kaya seperti mereka cukup memerintahkan seorang asisten untuk mencari apapun yang dibutuhkan? Dan… untuk apa mereka membutuhkan seorang pengasuh? Tak ada anak kecil dari semua anak di keluarga mereka.

“Berapa umurmu?” tanya wanita itu, mengagetkan Jaemi.

“Tu.. tujuh belas t-tahun..” jawabnya gelagapan.

Wanita itu tertawa ramah, “Tidak perlu gugup seperti itu. Umurmu tujuh belas tahun? Untuk apa kau bekerja?”

Jaemi menelan ludah, setidaknya untuk sedikit mengurangi rasa gugupnya. “Aku hanya ingin meringankan beban Ibuku. Terlebih dengan jam kerja yang sesuai dengan jam pulang sekolah, pekerjaan ini cukup cocok denganku.” jelasnya.

Wanita di hadapannya mengangguk-angguk sambil tersenyum memandangi wajah Jaemi. “Kau cantik. Kau tidak keberatan bukan, jika yang harus kau asuh adalah anak bungsu keluarga kami?” tanyanya.

“Ap-apaa??!”

“Ada apa? Oh, tenang saja. Pekerjaanmu hanya seputar kebutuhannya. Yah, semacam asisten pribadi, bukan seperti seorang pengasuh bayi.” katanya.

“A.. asisten.. p-pribadi??” Jaemi gelagapan.

“Iya, bagaimana?Sepertinya memang agak sulit menghadapi remaja seperti dia, tapi kau mau, kan, menjadi asisten Kyuhyun?”

Rasanya, Jaemi ingin pingsan di tempat.

***

“Apa-apaan…!”

“A.. aku hanya seorang pesuruh. Silahkan perintahi aku sesukamu.” kata Jaemi, mencoba menjelaskan.

Kyuhyun masih memandang Jaemi tak suka. Gadis ini pasti ada maunya.

“Ibu yang memintanya untuk bekerja disini. Bukankah ini bagus karena kau punya asisten sendiri?” Ibu Kyuhyun tersenyum.

“Tapi kenapa harus dia?” tanya Kyuhyun, masih dengan nada kesal.

“Hanya dia yang melamar. Ibu memang sengaja tak mencantumkan nama keluarga kita di koran agar tak ada orang-orang yang memiliki niat tertentu.” jelas Ibunya, tapi Kyuhyun masih tak terima.

Setelah lama memandangi Jaemi dari atas ke bawah, Kyuhyun berkata, “Baiklah… Sekarang kau ikut aku.” Ia langsung meraih tangan Jaemi dan menariknya dengan kasar.

Mereka berhenti di ujung lorong rumah besar keluarga Kyuhyun.

“Apa maksudmu melamar kerja disini?” tanya Kyuhyun dingin.

“Su-sudah kubilang aku tak tahu kalau keluarga ini yang menyediakan lowongan itu..” jawab Jaemi pelan. Kenapa laki-laki ini nampak menyeramkan?

“Cih, dasar orang miskin. Susah sekali untuk jujur.”

“Ap-apa? Orang miskin? Hey, siapa yang kau sebut orang miskin?” Emosi Jaemi mulai tersulut. “Memangnya hanya orang miskin yang butuh pekerjaan? Yaish, kau itu kaya karena orang tuamu, bukan dengan usahamu sendiri! Kau dengar itu?” Jaemi menekankan kata demi kata.

“Ah.. Sekarang kau berani mencelaku? Lalu bagaimana aku bisa menerimamu bekerja disini?” Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya.

“Aku tidak peduli kau senang atau tidak dengan keberadaanku, karena aku akan tetap bekerja disini, sebagai a-sis-ten-mu. Camkan itu baik-baik. Aku yakin aku bisa menghadapi orang menyebalkan sepertimu sekalipun.”

“Ooo.. Kalau begitu, selamat datang kepada pembantu baruku.” ucap Kyuhyun, jelas terdengar sebagai ejekan.

***

“Kau.. apa yang kau lakukan di kamarku?!” sentak Kyuhyun. Tangannya masih menggandeng tangan seorang gadis, gadis yang berbeda dari yang terakhir kali Jaemi lihat bersama Kyuhyun.

Jaemi memutar bola matanya. Meski kesal melihat dengan mudahnya laki-laki itu membawa seorang gadis ke kamarnya, namun sebisa mungkin ia menyembunyikannya.

“Saya? Saya sedang mengerjakan tugas. Saya ini kan pem.ban.tu Anda.”

Jaemi bisa melihat dengan jelas sinar mata meremehkan dari gadis yang berada di samping Kyuhyun. Kira-kira karena apa? Apa karena ia bekerja sebagai pembantu disini? Ah, sesungguhnya Jaemi tak terlalu peduli dengan tatapan itu.

“Keluar.” pinta Kyuhyun.

“Baik tuan muda~” sahut Jaemi pura-pura riang. Ia segera keluar bersama sapunya, kemudian berdiri di depan pintu kamar yang telah tertutup.

“Mungkin hal ini bagus untuk melatihku. Melatih diriku untuk merelakannya.” Jaemi tersenyum sendiri, kemudian ia pergi ke dapur untuk mengambil minum.

Sebenarnya ia tidak terlalu mengerti dengan jenis pekerjaannya sekarang ini, tapi toh lambat laun ia akan terbiasa. Terbiasa melakukan pekerjaan pembantu, dan terbiasa melihat Kyuhyun.

Jika memang Jaemi tak pernah bisa memilikinya, setidaknya Jaemi bisa berada di dekatnya, walau hanya dalam posisi ini.

~

“Makan malam..” Jaemi membuka pintu kamar Kyuhyun perlahan. Tangan kanannya ia paksakan untuk membawa nampan besar, karena tak mungkin ia mendorong pintu berukir indah itu dengan kakinya.

Ia masuk, meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja di samping sofa tempat Kyuhyun duduk.

“Kalau ada yang di perlukan silahkan panggil saya.”

Jaemi tidak menunggu respon apapun, karena ia tahu Kyuhyun tak pernah menganggapnya ada.

“Melihat gadis sepertimu yang notabene-nya sekolah di sekolah yang sama denganku, apakah tidak aneh jika tidak ada maksud tersembunyi?”

Perkataan Kyuhyun membuat Jaemi otomatis menghentikan langkahnya. Niat awalnya untuk bersikap lebih sopan langsung hancur. Ia berbalik, dan sambil menahan amarahnya, ia berkata dengan cukup lantang,

“Sudah berapa kali harus kubilang kalau aku tidak tahu apapun tentang keluarga ini? Niatku hanya ingin membantu Ibuku dengan bekerja dan membiayai diri sendiri, tak ada niat buruk sama sekali. Kalau kau tidak suka dengan keberadaanku, kenapa tidak dari awal saja kau memecatku?!–”

“Keurom, kau ingin aku memecatmu?” potong Kyuhyun, membuat Jaemi diam seketika.

Jaemi menghela nafas jengah. Ia berusaha mengingatkan dirinya akan posisinya saat ini. Dirinya sebagai pesuruh, dan Kyuhyun sebagai majikannya. Karena itu, ia lebih memilih bungkam.

“Kau menyukaiku, kan?”

Entah kenapa setelah mendengar pertanyaan itu, kaki Jaemi melemas, hingga ia harus mundur satu langkah untuk bersandar pada pintu.

“Aku tahu itu. Karena itulah aku mempertanyakan tentang niatmu bekerja disini. Aku tidak peduli kau berkata kalau kau tidak berniat buruk. Mulut bisa saja berbohong, tapi status mengatakan segalanya. Apa perlu ku ambilkan cermin paling besar di rumah ini agar kau bisa melihat dengan jelas bagaimana penampilanmu dari atas sampai bawah?—“

“Cukup. Saya tahu derajat Anda lebih tinggi dibanding saya. Tapi saya punya harga diri. Tak pernah sekalipun saya berbuat sesuatu yang merugikan Anda, bukan? Disini, saya hanya seorang pembantu, bukan seorang gadis pelajar yang bersekolah di sekolah yang sama dengan Anda. Saya cukup mengerti bagaimana mengesampingkan perasaan pribadi. Anda tidak perlu menyuruh saya untuk bercermin.”

Suara Jaemi bergetar. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menambahkan, “Saya permisi keluar.”

Hari ini, Jaemi belajar satu hal. Bahwa tak selamanya yang kita sukai adalah yang terbaik.

***

Jaemi mengangkat keranjang besar berisi baju-baju kotor. Hanya pakaian Kyuhyun, tentu saja. Ia membawanya ke kamar mandi, hendak melakukan tugasnya.

Sudah dua bulan ia bekerja disini, non-stop. Meski melalui perdebatan yang cukup sulit dengan Ibunya yang tidak setuju, namun akhirnya Ibunya itu menghargai keputusan putrinya.

Dua bulan menjadi ‘asisten’ Kyuhyun, membuat Jaemi terbiasa dengan sikapnya. Walau ia sering direndahkan, tapi hal itu membuatnya belajar bersikap sopan dan sabar. Setidaknya ada sesuatu yang bisa ia pelajari disini. Dan untungnya lagi, Nyonya Cho sangat ramah kepadanya.

“Jaemi-ya, kau lihat dimana Kyuhyun?” Tiba-tiba Nyonya Cho muncul dan bertanya padanya.

Jaemi menghentikan pekerjaannya sejenak dan menoleh pada Nyonya Cho. “Ia belum pulang, Nyonya.” jawabnya seadanya.

Nyonya Cho berjalan mondar-mandir, entah kenapa kali ini perasaannya sedang tidak baik. Ini bukan pertama kalinya Kyuhyun pulang malam, tapi ia merasa ada sesuatu yang berbeda kali ini.

“Kau sudah menghubunginya?”

“Tidak. Terakhir kali aku menghubunginya, ia marah-marah karena tidak suka.”

“Ya ampun, bagaimana ini? Mengapa perasaanku jadi tidak enak begini?”

“Nyonya.” Seorang asisten yang biasa mengurus keperluan Nyonya Cho tiba-tiba datang menghampiri.

“Ada apa?” tanya Nyonya Cho buru-buru, seolah merasakan sesuatu yang akan disampaikan adalah sesuatu yang mendesak.

“Ya ampun!” Lengan Jaemi tiba-tiba tergores pinggiran meja pajangan, meninggalkan luka berdarah disana.

Nyonya Cho baru saja ingin bertanya apakah Jaemi baik-baik saja, tapi asisten mengatakan,

“Tuan muda, Nyonya.”

“Apa? Ada apa dengan Kyuhyun? Cepat katakan!” Mendengar anaknya disebut-sebut, seketika Nyonya Cho bertambah panik.

“Tuan muda.. ada di rumah sakit.”

~

“Nyonya, tenanglah..”

“Kyuhyun-ah.. Bagaimana keadaannya sekarang?” Nyonya Cho meracau tidak jelas.

Kyuhyun masih ada di dalam ruang gawat darurat, dan mereka hanya bisa menunggu.

Jaemi terus mencoba menenangkan Nyonya Cho, tapi ia sendiri tak bisa memungkiri, dirinya pun sangat khawatir. Kalau ia tak benar-benar memaksakan dirinya untuk membantu Nyonya Cho berjalan, ia sendiri merasakan kakinya benar-benar lemas.

Ia tahu dari asisten Nyonya Cho, bahwa Kyuhyun mengalami kecelakaan setelah pulang dari sebuah bar.

Ingin sekali Jaemi menangis. Ia ingin menerobos pintu itu dan menemani Kyuhyun disana. Tapia pa daya, ia hanya bisa menunggu. Berdoa semoga kemungkinan terburuk tak akan terjadi.

Lama ia duduk disana bersama Nyonya Cho, sampai pintu perlahan terbuka dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.

“Bagaimana Dokter?”

“Apa yang terjadi pada anak saya, Dok??”

“Pendarahannya cukup banyak, tapi ini tidak parah. Kita hanya perlu menunggunya sadar baru kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.”

Dokter itu kemudian meninggalkan mereka.

Jaemi segera menyandarkan tubuhnya pada tembok, agar tubuhnya tak limbung dan jatuh.

Cho Kyuhyun, kau akan baik-baik saja, kan?

~

Sekarang, Dokter akan memberikan hasil pemeriksaan. Jaemi duduk di samping Nyonya Cho, menemaninya.

“Dia tidak apa-apa. Kecelakaannya tidak begitu parah. Tapi..”

“Tapi apa, Dok?”

“Kakinya.. lumpuh.”

Jaemi membulatkan matanya seketika. Nyonya Cho sudah hampir pingsan. Tapi Dokter segera menambahkan,

“Tenang, tenang, Nyonya. Ini hanya kelumpuhan sementara. Masih bisa disembuhkan dengan terapi rutin.”

“Benarkah hanya sementara?” tanya Jaemi, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Dokter tersenyum pada Jaemi, seolah memberitahu semuanya akan baik-baik saja.

***

Kyuhyun menepis tangan Jaemi. Ia menolak kalau yang akan membantunya adalah Jaemi. Akhirnya perawatlah yang membantunya naik ke kursi roda.

Tapi satu orang perawat ternyata belum cukup untuk membantu Kyuhyun. Jadi tanpa mempedulikan penolakan Kyuhyun, Jaemi langsung ikut membantu.

“Kubilang jangan sentuh aku!”

“Jangan seperti anak kecil! Kau sendiri tahu kau butuh bantuan!” gertak Jaemi. Ia tidak malu membentak Kyuhyun di depan Nyonya Cho, ia tahu Nyonya Cho akan mengerti hal itu harus dilakukan.

Kyuhyun sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ia akan menjalani rawat jalan setelah ini.

Di sekolah, tidak ada yang tahu tentang kecelakaan ini. Joyoung group sudah mengambil tindakan untuk menahan penyebaran berita tersebut sampai Kyuhyun keluar dari rumah sakit. Setidaknya untuk menghindari Kyuhyun menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat selama ia dirawat.

Nyonya Cho sudah bicara pada Jaemi. Ia menaruh kepercayaan besar pada Jaemi untuk merawat Kyuhyun dibanding membayar perawat secara khusus. Nyonya Cho meminta Jaemi untuk tinggal di kediaman keluarga Cho selama merawat Kyuhyun.

Jaemi pun sudah bicara pada Ibunya. Ibunya yang pada dasarnya sangat pengertian tak melarang. Selama itu untuk kebaikan, Ibu Jaemi tak melarang.

Sudah pasti akan sangat sulit menghadapi Kyuhyun, tapi dengan keadaan seperti ini, laki-laki itu tak bisa menolak untuk menerima bantuan.

Walau enggan, Kyuhyun hanya diam selama Jaemi mendorong kursi rodanya keluar dari rumah sakit.

Dalam diamnya, Kyuhyun membatin, Siapa sebenarnya gadis ini?, dengan air mata yang hampir menetes.

***

Seisi sekolah gempar. Jaemi yang datang dengan mendorong kursi roda langsung menyita perhatian.

Kyuhyun masa bodoh. Ia mulai mengerti keburukan warga sekolahnya. Buktinya, tak ada seorangpun yang menanyai keadaannya, apalagi mendekatinya. Mungkin, sudah saatnya ia berhenti ‘bermain’.

Jaemi bukan merasa risih karena tatapan-tatapan itu, tapi ia mengkhawatirkan Kyuhyun. Apa ia baik-baik saja dengan keadaan seperti ini?

Nyonya Cho tak membiarkan Kyuhyun tetap di rumah. Daripada mendatangkan guru privat ke rumah, ia memerintahkan Kyuhyun untuk masuk sekolah. Dan lagi, ia melakukan itu karena ia percaya Jaemi akan menjaga anaknya.

Jaemi duduk di kelas yang berbeda dengan Kyuhyun, maka ia menyiapkan metode khusus untuk membantu Kyuhyun.

Begitu sampai di kelas Kyuhyun, Jaemi mengantar Kyuhyun sampai ke tempat duduknya. “Kalau butuh sesuatu atau sesuatu membuatmu tidak nyaman, langsung hubungi ponselku saja.” katanya disertai senyum.

Kyuhyun tak memberi respon, seperti biasanya.

Jaemi pergi menuju kelasnya setelah melambaikan tangan pada Kyuhyun.

Cih, gadis itu. Masih saja peduli.

~

Sudah lewat satu jam dari jam pulang sekolah, dan mereka sudah sampai di rumah.

Seperti biasa, Jaemi mengantar Kyuhyun ke kamarnya, melepaskan sepatunya, dan membantunya naik ke tempat tidur.

Kyuhyun yang awalnya sering menolak lama kelamaan lebih sering diam dan menerima bantuan Jaemi.

Setelah Kyuhyun sudah duduk di atas tempat tidur, Jaemi belum keluar. Ia masih menyiapkan baju ganti untuk Kyuhyun dan membenahi letak kursi roda.

Kyuhyun hampir selalu diam sejak kecelakaan itu, terutama di depan Jaemi. Tapi kali ini, Kyuhyun memaksa dirinya sendiri untuk bertanya,

“Kau.. tidak lelah?”

Jaemi langsung menghentikan aktivitasnya. Ia terkejut bukan main mendengar Kyuhyun berbicara padanya setelah sekian lama.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.

Kyuhyun kembali terdiam. Namun bukan sekadar diam, ia memutar kembali pembicaraannya dengan Ibunya tempo hari.

“Kyuhyun-ah, kau tahu? Gadis itu adalah gadis paling baik yang pernah Ibu temui. Dia terus bekerja, tapi, ia tidak mau menerima bayaran lagi. Dia bilang, kalau masih menerima bayaran, namanya bukan membantu. Ia tulus membantu dan menemanimu. Sampai Ibu berpikir ia sangat menyayangimu..”

“Sebenarnya untuk apa kau membantuku?” tanya Kyuhyun, suaranya terdengar tajam.

Jaemi tertegun. Ia tak pernah mengharapkan pertanyaan itu, tapi Kyuhyun sedang menanyakannya sekarang ini. Lalu apa yang harus ia jawab?

“Aku… hanya ingin membantu majikanku. Ya, hanya itu.” jawabnya, toh itu tak sepenuhnya kebohongan. Kyuhyun memang majikannya.

“Majikan? Aku bahkan tak membayarmu. Aku tak memintamu melakukan ini itu, aku tak memintamu menemaniku, aku tak pernah memintamu menjadi pembantu, pesuruh, asisten, atau apapun itu. Katakan yang sejujurnya.”

Jaemi mati kutu. Mungkinkah ia harus mengatakan, karena aku mencintaimu? Tidak mungkin. Lagipula tak penting, bukan, Jaemi mencintai Kyuhyun atau tidak?

“Apa karena perasaanmu kepadaku?”

Dan lagi, Jaemi tertegun. Ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan perasaannya dan hanya menjadi seorang pesuruh biasa, tapi justru Kyuhyun sendiri yang mengangkat sesuatu yang tersembunyi itu.

Tidak. Ia tak harus mengatakannya. Ia akan terus menjadi seorang pesuruh.

“Terkadang, dimana kita berdiri atau apa yang sedang kita lakukan, memang sudah ditakdirkan dan tak mempunyai alasan.” senyumnya, kemudian ia keluar dari kamar itu, meninggalkan Kyuhyun yang masih menatap dirinya bahkan setelah pintu tertutup.

Tapi sebelum pintu benar-benar tertutup, Jaemi sempat menambahkan dengan suara yang sangat pelan, “Ya, aku tak bisa menyangkalnya. Aku mencintaimu.”

***

(6 Months Later)

“Pelan.. Pelan..” Jaemi terus memberi instruksi, sementara Kyuhyun berkonsentrasi untuk menyeimbangkan langkah kakinya.

“Yaakk pegang yang benar!”

“Aishh,, makanya pelan-pelan saja! Dasar!”

“Sebentar. Aku mau istirahat.” kata Kyuhyun, mengarahkan telunjuknya ke arah bangku terdekat. “Ah, aku haus.”

“Tunggu sebentar.”Setelah mendudukkan Kyuhyun, Jaemi langsung berlari mengambil air minum.

Tanpa sadar, selama ia menuangkan air putih ke dalam gelas, Jaemi mulai tersenyum tipis. Sudah enam bulan berlalu, dan Kyuhyun menunjukkan banyak perkembangan. Secara fisik, juga sikapnya.

“Kau mau membuat rumah ini kebanjiran?”

Jaemi tersentak kaget.

“Ya Tuhan!” Air minum yang hendak ia tuang hanya untuk satu gelas tumpah kemana-mana.

Tapi sesaat setelah menyadari airnya tumpah, Jaemi langsung menyernyit heran. Heran sekali.

“Kau.. sudah bisa berjalan?” Jaemi menatap Kyuhyun yang sedang berdiri di ambang pintu dapur, berdiri dengan kokohnya.

“Cih, tentu saja. Sudah enam bulan dan aku selalu berlatih setiap saat. Kau ini bodoh ya, mudah sekali tertipu.”cibirnya.

“Yaaakk.. berarti.. kau hanya ingin mendapat perhatianku? Yaa… dasar kau ini! Kemari kau!” Jaemi mengejar Kyuhyun yang sudah berlari terlebih dulu.

Walau sudah bisa berlari-lari kecil, tapi Kyuhyun belum bisa mendahului Jaemi. Kyuhyun terjatuh di sofa, dan Jaemi yang tak sempat mengerem gerak kakinya pun ikut terjatuh.

Wajah mereka berhadap-hadapan. Dalam waktu singkat,

Chup.

Kecupan pertama itu mendarat juga. Jaemi mengerjap, apa-apaan…?!

“A.. e.. y-yaaakk k-kau iniii!!!”

Pletak.

Bukannya membalas dengan kecupan juga, Jaemi memukul kepala Kyuhyun. Kyuhyun sendiri, yah, ia hanya tertawa geli.

Satu lagi yang Jaemi dapat. Bahwa memang apa yang kita sukai tak selamanya adalah yang terbaik, tapi yang terburuk pun selalu bisa berubah menjadi lebih baik.

♥End♥

Advertisements

5 thoughts on “Anything for You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s