The Evil Partner [Part 3]

***

Review

“Apa katamu? Mengerjakan tugas lagi? Oh, ya ampun, sebodoh-bodohnya diriku ini, aku bukannya tidak ada kerjaan, tahu!” sahut Jaemi kesal. Ia tak akan membiarkan laki-laki itu menghancurkan rencana ‘pesta’nya.

Kyuhyun memutar bola matanya, “Memangnya sepenting apa pekerjaanmu itu? Kau pikir aku mengerjakan tugas ini untuk diriku sendiri? Ini tugas kelompok, Nona. Ini nilai untuk kita berdua.” katanya.

“Aku tidak mau. Pokoknya aku tidak mau. Kalau mau mengerjakan tugas, jangan hari ini.” tegas Jaemi, kemudian ia langsung pergi meninggalkan Kyuhyun yang sedang besusah payah menahan kekesalannya.

***

Author POV

Apa yang dilakukan Kyuhyun selanjutnya? Tentu ia tidak menyetujui begitu saja keputusan Jaemi untuk mengabaikan tugas mereka. Kyuhyun mendatangi rumah Jaemi setelah mengganti seragamnya dirumah.

Ia bisa dengan mudah membujuk Ibu Jaemi untuk mengizinkannya menunggu Jaemi—yang entah pergi kemana—di kamarnya.

Kyuhyun masuk ke kamar Jaemi. Meski ini bukan pertama kalinya ia memasuki ruangan itu, namun ia belum pernah memperhatikan kamar itu dan seisinya.

Banyak poster-poster berisi puisi di dinding kamar Jaemi, dan setumpuk kertas diatas meja belajarnya—entahlah, mungkin bukan meja belajar, karena Jaemi tak pernah benar-benar belajar—yang sepertinya juga berisi puisi-puisi.

Kyuhyun mengambil beberapa dari kertas tersebut, lalu membacanya.
Cukup bagus, pikirnya. Ia cukup terkesan saat menyadari seluruh puisi indah dalam tumpukan itu merupakan karya Jaemi.

Ia mengambil salah satu kertas yang tadi berada paling atas. Kalimat terakhir dalam puisi itu berbentuk pertanyaan, yang membuat Kyuhyun perlu sedikit berpikir apa maknanya.

“….Jika salah satu kelopak layu itu terjatuh, dapatkah aku memilikinya?”

Kyuhyun mengambil pulpen yang tergeletak diatas meja itu, dan mulai menulis di bawah tulisan tangan Jaemi. Ia menulis—entahlah, mungkin semacam sebuah kalimat balasan untuk kalimat terakhir di puisi itu.

~

Tak lama setelahnya, pintu kamar itu terbuka. Kyuhyun tengah berdiri di belakang pintu itu sambil menyilangkan kedua tangannya.

Bruk.

Kantung plastik yang Jaemi bawa jatuh begitu saja. “Ap-apa.. apa-apaan..!”

Kyuhyun menatap kantung plastik besar yang baru saja jatuh itu. Beberapa kaleng minuman soda, dan berbungkus-bungkus snack kemasan besar.

“Oh, jadi kau sibuk membeli camilan?” tanya Kyuhyun, bemaksud memojokkan Jaemi.

Seolah tak mendengar perkataan Kyuhyun, Jaemi justru masih memasang wajah kagetnya. “Mau apa.. k-kau.. kesini?”

“Aku?” Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri. “Aku.. ingin memergoki seorang gadis pembohong yang katanya punya kesibukan.”

Jaemi menggaruk-garuk keningnya dengan kikuk. Kali ini, ia bingung ingin melontarkan pembantahan seperti apa.

“Sudahlah. Lupakan saja. Sekarang mari kita mulai.”

“Mulai apa?” Jaemi bertanya polos, begitu polos hingga membuat Kyuhyun merasa ingin sekali melempar gadis itu keluar jendela.

“Menjual pakaian dalam! Tentu saja melanjutkan tugas kita, bodoh!” seru Kyuhyun sambil meletakkan jari telunjuknya ditengah dahi Jaemi.

Kyuhyun mengeluarkan beberapa peralatan dari dalam tas yang dibawanya. Sedangkan Jaemi hanya menatap Kyuhyun tanpa melakukan apapun. Ia kemudian duduk dihadapan Kyuhyun sambil memeluk kedua lututnya.

“Kenapa repot-repot datang kesini?” tanya Jaemi tiba-tiba.

Kyuhyun langsung mengangkat kepalanya, sebelum kembali lagi pada perkerjaan rumit yang ada ditangannya. “Tentu agar pekerjaan ini segera selesai.” katanya ringan.

Jaemi menelengkan kepalanya, “Tapi aku tidak melakukan apapun, untuk apa kita harus terus mengerjakannya ditempat yang sama?” tanyanya.

Kyuhyun tersenyum tipis, sangat tipis sampai sulit rasanya menganggapnya sebagai senyuman. “Setidaknya hanya dengan menemaniku mengerjakan semua ini, bisa dibilang kita mengerjakannya secara berpasangan.” katanya lagi. Juga karena aku ingin bersamamu lebih lama, tambahnya dalam hati.

Kyuhyun sendiri tak bisa menyangkalnya. Ia mulai merasakan sesuatu terhadap gadis ini. Si Gadis Bodoh yang pandai membuat puisi. Ternyata karena ia sering merangkai kata-kata, ia jadi selalu bisa menanggapi debatanku, pikir Kyuhyun.

Selama beberapa waktu yang cukup lama, Kyuhyun mulai berbicara, “Aku baru tahu kau pandai membuat puisi.”

Jaemi langsung terkejut. Dan ia berseru dengan suara nyaring, “Apa saja yang sudah kau lihat disini?!”

Kyuhyun menghentikan pekerjaannya sementara. “Omo, memangnya kenapa? Kau ini berlebihan sekali.”

“Kau telah mencuri privasiku!” sungut Jaemi.

“Hey, barusan itu aku memujimu, tahu! Tidakkah kau merasa tersanjung setelah menerima pujian dari seorang Cho Kyuhyun?”

“Cih, tersanjung apanya. Bagaimanapun, kau telah mencuri.” kata Jaemi.

Kyuhyun menghela nafas. Gadis ini memang pandai berdebat. “Aku akan menyelesaikan ini malam ini juga. Jadi aku akan terus disini sampai nanti malam. Kau juga harus terus menemaniku, tapi pergi ganti dulu seragammu itu.” katanya, mirip seperti komandan yang memberi perintah.

Jaemi langsung menurut. Hey, sejak kapan ia jadi sebegini penurutnya?

~

Setelah berganti baju di dalam kamar mandi, Jaemi kembali duduk dihadapan Kyuhyun. Ia mengeluarkan makanan dan minuman yang tadi ia beli, dan menjejerkannya di sekitar mereka.

“Minum dulu.” Jaemi mengulurkan tangannya yang memegang sekaleng minuman soda kepada Kyuhyun.

Kyuhyun langsung menerimanya, karena memang ia sangat lelah. Tapi ini lebih baik daripada harus pulang ke rumah. Berada dekat dengan gadis itu, dan Ibu nya yang cerewet. Ini cukup menyenangkan.

~

Kriuk. Kriuk. Kriukk.

Suara kunyahan keripik kentang dari mulut Jaemi membuyarkan konsentrasi Kyuhyun.

“Yak, kenapa suara kunyahanmu itu berisik sekali?!”

Jaemi hanya menghentikan kegiatannya sekilas, lalu kembali mengunyah. “Kau mau?” tawarnya pada Kyuhyun.

“Tidak. Aku tidak mengonsumsi makanan kemasan.” tolak Kyuhyun dengan wajah innocent-nya.

Jaemi langsung meletakkan snack keripik kentangnya. “Kau mau makan nasi? Akan kuambilkan. Sekarang sudah malam, kau pasti lapar.”

“Tidak. Tidak perlu.” tolak Kyuhyun lagi.

“Kau ini! Setidaknya biarkan aku melakukan sesuatu untukmu!” Setelah berkata demikian, tanpa mau mendengarkan penolakan Kyuhyun, Jaemi langsung keluar dari kamarnya menuju dapur.

Jaemi masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi mangkuk dengan nasi hangat, beberapa macam sayuran, dan juga lauk.

Kyuhyun heran melihat nampan besar itu. “Cish, kau ini.”

“Kau harus makan.” Jaemi duduk kembali, mengambil sesendok nasi dan mengarahkannya ke mulut Kyuhyun. “Ayo.”

Kyuhyun terdiam sebentar. Lalu akhirnya ia berkata, “Baiklah. Tapi aku bisa makan sendiri.”

Akhirnya mereka berdua sibuk dengan makanan mereka masing-masing.

~

“Sudahlah. Kau terlalu memaksakan diri. Kita bisa melanjutkannya besok.” kata Jaemi.

Meski ia sama sekali tidak melihat ekspresi kelelahan di wajah Kyuhyun, tapi Jaemi pun tak tega melihat Kyuhyun terus bekerja bersama alat-alat yang tampak mengerikan itu.

“Baiklah. Kali ini aku setuju denganmu. Aku akan meninggalkan tugas ini di kamarmu. Tapi jangan sentuh sedikitpun, kau mengerti?”

Jaemi mengangguk patuh. Ia langsung membantu Kyuhyun merapikan peralatannya, dan mengantar Kyuhyun sampai ke mobilnya.

~

Jaemi masuk ke dalam kamarnya, setelah sebelumnya melewati Ibunya yang tertidur di depan televisi. Ayahnya belum juga pulang walaupun sudah selarut ini. Ia pasti sibuk sekali.
Jaemi melirik ke meja yang biasa ia tempati untuk menulis. Dan ia menyadari perubahan itu. 

Di kertas paling atas dan di bawah tulisannya, terdapat rentetan kalimat yang baru, yang jelas bukan tulisan tangannya.

‘Takkan kubiarkan kau memungutnya. Akan kuberikan seribu bunga dengan kelopak segar nan indah, khusus untukmu.’

***

Kyuhyun sudah sampai di rumahnya. Ia enggan menatap sekitar. Ia hanya masuk, menaiki tangga, lalu memasuki kamarnya. Ia sama sekali tidak ingin melihat apa yang sedang terjadi di rumah itu.

Ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Belakangan ini, ia jadi punya kesibukan lebih, terutama kesibukan diluar rumah. Setidaknya, berada diluar rumah lebih lama membuatnya bisa melupakan keluarganya untuk sementara.

Sebenarnya Kyuhyun pun enggan menyebut orang-orang dirumah ini sebagai keluarganya. Ia tak pernah sekalipun merasakan suasana hangat antar-anggota-keluarga lagi di rumah itu. Ia sungguh merasa asing. Dan.. kalau bisa, ia lebih memilih untuk tinggal dirumah gadis itu.

Kyuhyun melirik jam dinding di kamarnya. Pukul setengah duabelas malam. Tiga puluh menit dan satu detik lagi, hari akan berganti menjadi hari ulang tahunnya. Tapi toh tak akan ada perayaan apapun dirumahnya. Ia pun yakin kedua orang tuanya tak akan mengingat hari itu sama sekali.

Seandainya saja.. ia bisa meminta apapun di hari ulang tahunnya, ia ingin mendapatkan keluarga yang lebih baik.

***

“Saengil Chukhahaeyo.” Tiba-tiba saja, Eunhwa sudah berdiri dihadapan Kyuhyun sambil menyodorkan sebuah kotak kecil berlapiskan kertas berwarna biru langit.

Kyuhyun agak terkejut menanggapinya, dan begitu pula Jaemi yang berada disampingnya.

“Untukku?” tanya Kyuhyun pada Eunhwa.

Gadis berkacamata itu menganggukkan kepalanya gugup.

Kyuhyun menerima kotak itu, lalu mengucapkan terima kasih.

Setelah Eunhwa pergi meninggalkan meja Kyuhyun, Jaemi langsung bertanya, “Hari ini hari ulang tahunmu?”

Setelah meletakkan kotak pemberian Eunhwa di laci mejanya, Kyuhyun menoleh pada Jaemi. “Ya.” jawabnya singkat.

Jaemi menelengkan kepalanya, memikirkan sesuatu. Dan ia tak berhenti berpikir sampai bel istirahat berbunyi, juga ditengah jam pelajaran, hingga bel pulang berbunyi.

~

Sambil berjalan beriringan bersama Kyuhyun, Jaemi kembali menanyakan tentang pengerjaan tugas mereka. “Apa nanti kau akan datang ke rumahku lagi untuk mengerjakan tugas itu?”

“Ya, tentu saja. Aku akan pulang ke rumah terlebih dulu. Setelah itu aku akan langsung datang ke rumahmu.” kata Kyuhyun.

“Baiklah. Aku akan menunggumu.” kata Jaemi sambil tersenyum penuh arti. Kemudian ia berjalan lebih dulu, meninggalkan Kyuhyun.

Setelah sempat merasakan debaran yang cukup hebat karena senyum gadis itu, Kyuhyun buru-buru menenangkan perasaannya, lalu berjalan menuju mobilnya.

~

Jaemi berusaha membuka pintu rumahnya dengan susah payah. Tiga kantung plastik ditangannya lah yang menyulitkannya.

Begitu Jaemi berhasil masuk, wajah terkejut Ibu tirinya langsung menyambut.

“Omo! Apa saja yang kau beli itu?” tanya Ibunya dengan suara nyaring.

Jaemi menjawab dengan malas, “Peralatan kejutan ulang tahun.” katanya jujur. Ia pikir, mungkin akan lebih baik kalau Ibu yang sikapnya mulai berubah itu ia ikutsertakan dalam pesta perayaan kecil-kecilan yang akan ia buat.

“Kejutan? Ya ampun, tanggal berapa, ya, sekarang? Ini ulang tahun ayahmu?”

“Bu-bukan..”

“Lalu siapa?”

“K-kyu.. kyuh—“

“KYUHYUN?!!? HARI INI HARI ULANG TAHUNNYA??!!”

Mendengar teriakan Ibunya, Jaemi rasa gendang telinganya hampir saja pecah. “I-iya.”

Ibu Jaemi langsung mengambil semua kantung plastik dari tangan Jaemi. “Ayo cepat. Bantu aku merapikan ruangan ini.”

Kemudian, kedua perempuan itu sibuk melakukan ini dan itu. Hari ini, mereka berdua benar-benar telah menciptakan hubungan Ibu-anak yang sesungguhnya.

~

Kyuhyun baru saja mematikan mesin mobilnya saat ponselnya berbunyi tanda masuknya sebuah SMS.

From : Han Jaemi

Kalau sudah sampai, langsung buka pintunya dan masuk saja, ya.

Kyuhyun keluar dari mobilnya, dan berjalan menuju pintu masuk rumah Jaemi. Seperti pesan dari Jaemi tadi, ia langsung membuka pintu dan masuk.

“SELAMAT ULANG TAHUUNN!!!” Terompet ditiupkan tepat setelah dua suara yang nyaring menyerukan ucapan selamat ulang tahun.

Jaemi berlari menuju Kyuhyun yang berdiri terbengong-bengong di dekat pintu, lalu memasangkan sebuah topi kerucut yang sama dengan yang dipakainya ke kepala Kyuhyun. “Ayo kesini.” Ia menggandeng tangan Kyuhyun mendekati meja ruang tamu itu.

Ibu Jaemi yang juga memakai topi kerucut terus meniupkan terompet, membuat Kyuhyun mau tidak mau tersenyum melihat kelakuan wanita itu.

“Tiup lilinnya.” kata Jaemi.

Kyuhyun menatap kue tart yang cukup besar dan sederet hidangan istimewa dihadapannya. Ia sangat terkejut. Padahal ia bukan siapa-siapa di keluarga Jaemi, tapi mengapa kedua orang itu begitu baik membuatkannya perayaan ulang tahun?

Kyuhyun berdoa dalam hati, kemudian ia meniup lilin diatas kue tersebut sambil terus tersenyum. Inikah perasaan bahagia yang selalu ia dambakan?

Jaemi dan Ibunya bertepuk tangan dan kembali meniup terompet. Kyuhyun terkekeh. Ia merasa sangat bahagia.

“Sekarang potong kuenya..” kata Ibu Jaemi. Ia memberikan pisau pemotong kue pada Kyuhyun.

Kyuhyun memberikan potongan kue pertamanya untuk Ibu Jaemi seraya berkata, “Ini untuk wanita tercantik dirumah ini.”

Jaemi tertawa geli mendengarnya. Meski sadar Jaemi tengah menertawakannya, Ibu Jaemi tidak merasa kesal seperti biasanya. Ia masih tersanjung dengan pujian Kyuhyun.

Kyuhyun memotong potongan kue selanjutnya. “Dan.. ini untukmu.” kata Kyuhyun sambil memberikan potongan kue tersebut pada Jaemi. Debaran itu muncul lagi.

Perayaan sederhana yang hanya dihadiri dua orang beserta Kyuhyun itu adalah perayaan teristimewa bagi Kyuhyun. Dengan adanya pesta kejutan ini, ia merasa memiliki orang-orang yang disebut keluarga.

Jaemi berdeham, “Ehem. Sebelumnya aku ingin menyampaikan permintaan maaf karena tidak menyiapkan hadiah untukmu.. karena aku tidak tahu apa yang kau suka. Jadi, apa ada sesuatu yang kau inginkan? Selain barang, tentunya.”

“Bukankah kejutan ini sudah bisa dibilang hadiah? Aku sudah merasa cukup senang dengan ini semua.” Kyuhyun tersenyum.

“Ayolah.. Kita bisa melakukan hal yang kau suka. Kau bisa katakan sesuatu. Jalan-jalan? Nonton film? Atau naik komidi putar?” Ibu Jaemi ikut bertanya.

Jaemi langsung menyahut, “Yang benar saja!”

Meski agak ragu mengatakan keinginannya, tapi Kyuhyun memberanikan diri untuk mengutarakan hal yang diinginkannya. “Aku.. ingin.. Ah, kau yakin bisa memenuhinya?” tanya Kyuhyun pada Jaemi. Yang ditanya langsung mengangguk pasti.

“Mmm.. Bisakah….. aku menginap disini selama satu minggu?”

“APAA?!!?!!!” Rasanya Jaemi tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Kyuhyun.

Berbeda dengan Jaemi yang nampak sangat terkejut sampai hampir pingsan, Ibunya justru langsung berbinar-binar. “Oh, ya ampun tentu saja boleh. Boleeehh sekali. Aku akan bicara pada suamiku.”

“K-kau.. Permintaan macam apa itu??” Jaemi bertanya dengan nada sumbang. Ia benar-benar terkejut. Ia serius, itu permintaan yang sangat konyol.

“A-ah.. K-kalau begitu tidak jadi.” Kyuhyun buru-buru menarik kembali permintaannya.

“Ehh.. Tidak. Kami tidak keberatan sama sekali. Akan kusiapkan sebuah kamar untukmu. Oh Tuhan, kebahagiaan macam apa ini..” Ibu Jaemi mulai berbicara tidak jelas. “Sekarang kita makan dulu. Makanan disini sudah hampir dingin.” Ia langsung menyuruh Kyuhyun dan Jaemi duduk.

Kyuhyun makan dengan lahap, sambil sesekali menanggapi obrolan dari Ibu Jaemi dengan riang. Sedangkan Jaemi, ia bahkan tak bisa merasakan rasa makanan yang sejak tadi ia kunyah. Ini berarti, ia akan tinggal di rumah yang sama dengan Kyuhyun selama satu minggu? Yang benar saja!!

~

Malam itu, Kyuhyun kembali ke rumah untuk mengambil beberapa keperluannya selama tinggal di rumah Jaemi. Ia akan mulai menginap malam itu juga.

Ia meninggalkan sebuah pesan singkat di meja ruang tamu di rumahnya, yang menerangkan kalau ia akan menginap di rumah temannya selama satu minggu. Ia tahu pasti hanya kakaknya yang akan membaca pesan itu. Orang tuanya tak akan peduli bahkan jika ia pindah sekalipun.

Kyuhyun mencoba melupakan tentang segala rasa sakit hatinya terhadap kedua orang tuanya, dan kembali lagi ke rumah Jaemi dengan perasaan bahagia.

~

“Kau yakin mau tinggal disini?” tanya Jaemi sambil merapikan tempat tidur yang akan Kyuhyun tempati selama seminggu.

“Memangnya kenapa?” Alih-alih menjawab, Kyuhyun bertanya dingin.
Mendengar suara dingin itu, entah kenapa membuat Jaemi merasa sedikit bersalah. “Eee.. Tidak apa-apa.”

Tiba-tiba Kyuhyun bersuara, “Kalau kau menjadi diriku, aku yakin kau akan melakukan hal yang sama.”
Jaemi menatap Kyuhyun lekat-lekat, sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa ia mengatakan hal seperti itu.

“Tidak usah terlalu rapi. Kau keluar saja.” Kyuhyun berkata pada Jaemi.

Dengan bingung Jaemi keluar dari kamar tamu itu. Hatinya bertanya-tanya mengapa rasanya Kyuhyun terasa sedikit berbeda.

***

Hari ini Jaemi bangun jauh lebih pagi, karena Ibunya bilang ia harus membantu menyiapkan sarapan. Ibunya itu begitu senang dengam keberadaan Kyuhyun sampai begitu sibuk menyiapkan sarapan.

Ayahnya sudah berangkat. Ibunya bilang, Ayahnya tak keberatan jika Kyuhyun menginap disana selama statusnya masih sebagai teman Jaemi.

Tok tok tok.

Jaemi mengetuk pintu kamar tamu tempat Kyuhyun tidur beberapa kali.
Kemudian pintu terbuka, dan saat itu juga Jaemi merasa akan pingsan di tempat.

Dengan celana training, kaus putih, kulit putih pucat, rambut berantakan, dan dengan polosnya Kyuhyun mengucak-ucak mata mengantuknya. Siapa yang tidak ingin pingsan melihat pemandangan seperti itu pagi-pagi seperti ini?!

“N-neo.. K-ken.. kenapa.. bel-um.. ma-mandi??”

“Hmm? Memangnya sekarang jam berapa? Hoaaamm…” Kyuhyun menolehkan kepalanya kearah jam dinding. Dan, “Omo! Ya Tuhan, kenapa jam itu cepat sekali!!” Ia berlari mengambil handuk dan melesat ke kamar mandi di kamar itu.

Jaemi segera menyandarkan dirinya pada dinding, sebelum kakinya tak mampu lagi berdiri. Ia menyentuh dada kirinya, tempat jantungnya yang sedang berdegup kencang berada. Ia tak tahu mengapa jantungnya tiba-tiba saja berdetak jauh lebih kencang. Tidak, tidak mungkin ini karena Kyuhyun, kan?

Hari pertama, dan Jaemi mendapat perubahan yang begitu drastis dengan perasaannya.

~

“Kyuhyun dan Jaemi tinggal bersama?!”

“Apa?!! Itu tidak mungkin!!”

Jaemi langsung menghentikan langkahnya, buru-buru mencari tempat persembunyian. Ah, Jaemi tak sempat memikirkan kemungkinan seperti ini. Seharusnya ia tidak perlu berangkat bersama Kyuhyun hari ini.

Kyuhyun yang juga mendengar hal pembicaraan itu justru terlihat tak peduli. Ia teris melangkah menuju kelasnya.

Jaemi baru berani memasuki kelas mendekati bel masuk. Ia masuk lewat pintu belakang kelas sambil mengendap-endap. Ia hanya takut diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan oleh anak-anak di kelasnya.

Setelah berhasil menduduki tempat duduknya, Jaemi menghela nafas lega.

“Kenapa mengendap-endap seperti itu?” tanya Kyuhyun.

“Cish, kau ini. Bukankah kau juga mendengar pembicaraan tadi? Ya Tuhan, bagaimana bisa kabar seperti itu bisa menyebar secepat ini?”

Kyuhyun hanya terdiam. Ia tak berniat memberikan penyangkalan terhadap kabar itu, tapi tidak mungkin ia membiarkan kabar-kabar berikutnya yang mungkin akan membongkar kehidupan pribadinya terus bermunculan mengikuti kabar itu.

“Begini saja, kau pulang lebih dulu dariku beberapa menit, dan aku akan berangkat lebih dulu setiap pagi.” kata Kyuhyun sedikit berbisik.

Jaemi mengangguk mengerti, kemudian bergumam, “Kupikir kau akan pulang dari rumahku hari ini juga karena tak menyukai beredarnya kabar seperti ini..”

“Lebih baik diam-diam tinggal di rumahmu daripada aku harus pulang kerumah.”

“Apa? Kau bilang apa tadi?”

“Ti.. tidak. Aku tidak mengatakan apapun.”

~

“Oh, uri Kyuhyun sudah pulang..” Ibu Jaemi menyambut kepulangan Kyuhyun dengan riang.

“Uhuk, uhuk..” Jaemi langsung terbatuk-batuk tersedak air liurnya sendiri saat mendengar panggilan yang diberikan Ibunya untuk Kyuhyun. Uri Kyuhyun? Panggilan macam apa itu? Ibunya benar-benar berubah drastis.

“Aku akan menyiapkan makan malam. Kalian bisa bersantai atau mungkin mengerjakan tugas.” kata Ibu Jaemi, kemudian berjalan memasuki dapur meninggalkan Jaemi bersama Kyuhyun di ruang tamu.

Jaemi melihat Kyuhyun memberikan isyarat untuk mengikutinya, ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan mengikuti Kyuhyun.

“Ada apa?” tanya Jaemi setelah mereka sampai ditujuan, kamar Kyuhyun.

“Ck, kenapa kau selalu selalu bertanya? Kita masih dalam tahap pengerjaan tugas. Sekarang bawa rangkaian itu dari kamarmu kesini.” pinta Kyuhyun.

“Tapi kau bilang aku tak boleh menyentuhnya? Bagaimana aku bisa membawanya kesini tanpa menyentuhnya?” tanya Jaemi yang–sekali lagi–membuat Kyuhyun ingin melemparnya dari lantai 13.

“Bawa saja kesini.” perintah Kyuhyun sekali lagi, setengah menggeram.

“E.. B-baiklah..” Jaemi langsung melesat ke kamarnya.

Baru saja Jaemi keluar dari kamarnya, ponsel Kyuhyun berdering. Sebuah panggilan masuk, dari kakaknya. Setelah berpikir sebentar, barulah Kyuhyun menekan tombol jawab.

“Yeob..”

“Kyu, kau harus pulang sekarang, sebelum Ayah marah besar..” Suara kakaknya terdengar gelisah dan tergesa-gesa, kemudian diiringi suara-suara tidak jelas, dan..

“Pergi. Pergi saja semaumu. Jangan pernah pulang kesini lagi!” teriak sebuah suara berat, yang Kyuhyun tahu sebagai suara Ayahnya sendiri.

Telepon langsung terputus.

Kyuhyun terdiam. Perlahan, ia menurunkan tangannya, menjauhkan ponselnya dari telinganya.

Tangan Kyuhyun mulai gemetar, bersamaan dengan jatuhnya satu demi satu tetes air dari matanya. Bahunya mulai berguncang, dan wajahnya memerah menahan tangis.

Suara Ayahnya telah membuatnya sakit. Bagaimanapun, ia masih punya keinginan untuk mendapat perlakuan layaknya seorang anak dari Ayahnya. Tapi apa salah dirinya hingga sebelum menjelaskan pun Ayahnya sudah mengusirnya?

Tangannya yang makin gemetar masih memegang ponsel, mencengkramnya dengan kuat sebagai tanda bahwa hatinya sungguh merasa sakit.

~

Jaemi hampir melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga pertama, tapi ia teringat sesuatu, dan bermaksud menanyakannya pada Kyuhyun. Ia berbalik, hendak kembali ke kamar Kyuhyun.

Saat Jaemi sampai di pintu, ia melihat Kyuhyun sedang meletakkan ponselnya di telinga. Tapi.. saat ia melihat Kyuhyun perlahan menurunkan tangannya yang tadi terangkat untuk memegang ponsel, Jaemi merasa ada sesuatu yang aneh.

Jaemi bisa melihat perubahan itu. Tangan yang makin lama makin terlihat jelas bergetar, juga bahu yang berguncang hebat.

Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk berlari menghampiri Kyuhyun dan bertanya ‘ada apa’, jadi Jaemi hanya mendekatinya dengan begitu perlahan, mengangkat lengan dan merangkulnya, dan membawanya duduk diatas tempat tidur.

Hanya dengan mengikuti instingnya, Jaemi mulai menepuk-nepuk pelan punggung laki-laki yang kini tampak rapuh itu.

Kyuhyun masih terus menangis. Jaemi yang melihat itu pun langsung tahu, Kyuhyun punya masalah, yang jelas sekali bukan masalah ringan.

Jaemi mengangkat sebelah tangannya yang bebas. Dengan ibu jarinya, ia menghapus air mata yang membasahi pipi Kyuhyun.

Jaemi terus menepuk-nepuk pelan punggung Kyuhyun, mencoba memberi ketenangan pada laki-laki itu. Ternyata seorang Cho Kyuhyun bisa menangis seperti ini, batin Jaemi.

Kyuhyun menolehkan wajahnya ke samping kanan, memandang gadis yang duduk disampingnya dengan pandangannya yang masih buram karena air mata. Gadis itu masih menepuk-nepuk punggungnya, sambil menatap ke depan dan menyenandungkan beberapa nada.

“Kau ini. Laki-laki sepertimu mana boleh menangis seperti ini.” Jaemi mendengus seraya tersenyum. Ia tak menatap Kyuhyun, tapi perkataannya memang ditujukan pada laki-laki itu.

Kyuhyun menyusut hidungnya yang mulai berair. Dia baru ingat sejak tadi ia telah menangis begitu hebat disamping Jaemi.

“Cuci wajah merahmu itu. Ibuku bisa bertanya yang macam-macam melihat wajah seperti itu.” kata Jaemi. Ia tersenyum pada Kyuhyun, lalu beranjak dari tempat tidur.

“Tugasnya besok saja. Kau bisa istirahat hari ini.” tambah Jaemi, dan ia pun mulai berjalan menuju pintu untuk keluar.

“Kau.. Mengapa.. kau tidak bertanya mengapa aku menangis?” Tiba-tiba saja Kyuhyun bersuara, membuat Jaemi berhenti melangkah.

Tanpa membalikkan tubuhnya, Jaemi berkata, “Karena aku tak tahu apakah kau ingin mengatakannya. Tapi jika kau ingin berbagi, aku siap mendengarkan kapanpun kau mau.”

Diam-diam Kyuhyun mulai tersenyum. Gadis itu jauh lebih dewasa dari yang ia kira.

***

Kyuhyun sedang berjalan menuju mobilnya, ketika ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan melihat nama si pengirim pesan. Ahra Noona.

Setelah dibacanya isi pesan itu, Kyuhyun berbelok, menuju taman belakang sekolahnya.

Ia melihat kakaknya sedang duduk disana. Dengan enggan Kyuhyun mendekati kakaknya.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun langsung.
Cho Ahra menoleh, dan mendapati Kyuhyun sudah berdiri di dekatnya, wajahnya langsung sumringah. Ia langsung berdiri dari duduknya.

“Kyu..” Ahra tersenyum. Ia mendongak menatap Kyuhyun dengan mata sayunya. “Kau tetap akan pulang kan?” tanya Ahra.

“Aku sudah diusir.” jawab Kyuhyun langsung.

“Kyu..”

“Ayah sendiri yang mengusirku. Bagaimana aku bisa pulang?” tanya Kyuhyun. Ia mengalihkan pandangannya pada pohon-pohon di taman, mencegah air matanya mengalir lagi. Ia terlalu sensitif untuk hal yang berkaitan dengan Ayahnya.

“Ayah sedang emosi saat itu, Kyu. Ia tidak mungkin benar-benar mengusirmu.” kakaknya mencoba membujuk Kyuhyun.

“Tidak. Aku tahu Ayah memang membenciku. Aku tidak mau pulang ke rumah itu lagi.”

“Kyu..”

“Kubilang aku tidak mau!! Kau tidak mengerti perasaanku! Aku tak pernah merasakan lagi kasih sayang seorang Ayah, padahal aku masih membutuhkannya. Orang itu bahkan sering memakiku, dan ia baru saja mengusirku. Bagaimana aku bisa tetap menganggapnya Ayahku sendiri?!” Kyuhyun berteriak dihadapan kakaknya, membuat wanita cantik itu diam membisu.

“Pergi. Anggap saja aku bukan adikmu lagi.” kata Kyuhyun datar.

Ahra tahu ia tak bisa membujuk Kyuhyun lebih jauh dari ini. Ia sungguh mengerti adiknya yang masih muda itu sedang kesakitan. Hatinya sedang sakit. Ahra mulai berjalan, meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri disana sendirian.

Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya diatas kursi taman. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Butiran-butiran air menetes dari sela-sela jarinya. Cho Kyuhyun menangis lagi.

Tidak hanya Kyuhyun yang sedang menangis, Jaemi pun ikut meneteskan air mata.

Jaemi mendengar semuanya. Sekarang ia tahu masalah Kyuhyun ada pada keluarganya.

Bukan ia bermaksud menguping, ia hanya secara kebetulan juga berada di taman itu.

Buru-buru Jaemi mengendalikan dirinya. Ia menghapus air mata yang sempat menetes ke pipinya. Mendengar Kyuhyun membentak kakaknya kemudian menangis sendirian, Jaemi mengerti Kyuhyun membutuhkan teman.

Jaemi keluar dari tempat persembunyiannya. Ia duduk disamping Kyuhyun tanpa membuat Kyuhyun menyadari keberadaannya.

Kali ini, Jaemi tidak bisa hanya menepuk-nepuk punggungnya atau mengatakan ‘jangan menangis’, ia ingin melakukan hal yang lebih untuk laki-laki ini. Iblis pun bisa menjadi rapuh seperti ini, Jaemi membatin.

Jaemi melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Kyuhyun, memeluknya. Ia mengelus pelan bahu Kyuhyun, memberikan ketenangan.

Saat sepasang lengan melingkar di tubuhnya, Kyuhyun tersentak. Ia langsung mengusap wajahnya yang sudah basah. Dan ketika ia menoleh ke samping, dilihatnya lagi Jaemi yang sedang memeluknya dari samping. Sambil bersenandung, Jaemi mengelus pundaknya, mirip seperti yang dilakukannya kemarin.

“Maaf ya, aku telah mendengar semuanya.” kata Jaemi tiba-tiba.

Kyuhyun yang masih canggung dengan perlakuan Jaemi bukan mempermasalahkan itu, tapi ia mulai berpikir, gadis ini seperti malaikat.
Kyuhyun melepaskan pelukan Jaemi, dan menggantikannya dengan pelukan dari dirinya.

Jaemi terkejut ketika Kyuhyun balik memeluknya. Tapi ia berpikir, kalau dengan memeluknya bisa membuat Kyuhyun lebih tenang, ia akan membiarkan Kyuhyun memeluknya setiap saat.

“Tidak apa-apa. Aku senang kau tahu.” kata Kyuhyun.

~

Jaemi sudah mendengar segalanya. Tentang hubungan kedua orang tuanya yang jauh dari kata baik, kelakuan Ayahnya yang sering membawa wanita pulang ke rumah seolah tak memiliki istri, dan Ibunya yang terpuruk hingga sedikit kehilangan kewarasannya.

Kekesalanku pada Ibu tak beralasan. Toh ia sudah mulai berubah. Seharusnya Kyuhyun-lah yang bisa menyebut rumahnya sebagai neraka. Ya, neraka bagi mentalnya.

Jaemi jadi terpikir, Kyuhyun mungkin merasa lebih baik tinggal dirumahnya, maka dari itu Kyuhyun mengatakan ingin tinggal disana.

“Setelah satu minggu berlalu, apa kau akan pulang?” tanya Jaemi, saat mereka masih duduk di bangku taman. Beruntung taman itu sudah sangat sepi, hingga Kyuhyun dan Jaemi bisa berbicara dengan leluasa.

Kyuhyun menundukkan kepalanya, menatap sepatunya sendiri sambil berpikir-pikir. “Entahlah. Aku tidak tahu.” katanya.

“Kalau kau masih belum siap untuk pulang, kau bisa tinggal lebih lama.” Jaemi tersenyum pada Kyuhyun, menyatakan kalau memang pintu rumahnya akan selalu terbuka. “Kau tahu? Aku sangat senang ketika seseorang mempercayaiku untuk berbagi masalah. Karena aku akan merasa sukses menjadi seorang teman.”

Teman? Kyuhyun baru sadar, dari sekedar partner kerja kelompok, ternyata mereka benar-benar sudah menjadi teman. Tapi mengingat debaran yang sering ia rasakan, benarkah Kyuhyun hanya menganggap Jaemi sebagai temannya?

TBC

Advertisements

6 thoughts on “The Evil Partner [Part 3]

  1. tidak
    kyu tidak menganggap jaemi temannya tapi seseorang yg dia cintai
    kyaaaaaaaaaa
    jaemi juga gtu
    aaaaah ayolah bersatu
    astaga uri cho-ssi uljimaaaa T____T

    kasian Kyu
    aaah dia uda lebih terbuka kpada jaemi dibandingkan dulu
    hmmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s