The Evil Partner [Part 2]

***

Review

Perkataan Jaemi membuat Kyuhyun menggertakan giginya. Yeoja ini cukup menyebalkan untuk berdebat denganku,pikirnya.

Setelah menunduk untuk menenangkan dirinya agar tidak mengomel lagi, Kyuhyun mendekatkan tangannya ke jejeran komponen diantara mereka, sambil mengatakan “Baik,baik. Kita akan memakai idemu. Kau puas?”

“Ya.” jawab Jaemi langsung. Ia mengeluarkan tepukan tangan kecil tanda kemenangannya.

Kyuhyun mengeluarkan bor dari tasnya—yang terlihat berat sekali, untuk membuat lubang-lubang diatas papan PCB yang cukup besar.

Dan pekerjaan dimulai tanpa ada campur tangan dari Jaemi sama sekali.

***

Jaemi POV

“Ambil itu!” Aku langsung mengambil benda kecil seperti silinder yang memiliki dua kaki dan ada tanda panahnya. Aku lupa apa namanya. Yang penting aku tidak disuruh menyebutkan namanya kan?

Kyuhyun masih sibuk dengan komponen-komponen ditangannya sementara aku sejak tadi hanya memperhatikan dan terkadang mengambilkan komponen yang Kyuhyun perlukan.

Rasanya aneh sekali kalau seperti ini. Kalau dipikir-pikir,baru dua atau tiga hari lalu aku dan dia benar-benar kenal satu sama lain. Dan sekarang laki-laki itu sedang duduk bersila dihadapanku, berkonsentrasi dengan benda-benda kecil dan rumit tanpa merasa terganggu dengan apapun yang ada disekitarnya.
Beruntung aku berpasangan dengannya. Bagaimana kalau tidak? Bisa-bisa aku tak akan mengerjakan apapun karena aku tidak mengerti.

~

Sudah 2 jam berlalu tapi Kyuhyun masih berkutat dengan rangkaian kami. Yah,mungkin bukan rangkaian kami, tapi rangkaiannya. Aku bahkan belum menyentuh papan berlubang-lubang itu.

“Kau tidak lelah?” tanyaku.Keningnya sudah basah oleh keringat tapi daritadi dia tak melepaskan perhatiannnya dari rangkaian itu.

Bukannya menjawab, dia malah menatapku datar, “Mendekat kesini,” perintahnya.

Aku menurut saja,mungkin aku bisa melakukan sesuatu untuk membantunya.

“Pegang ini,” Kyuhyun menyuruhku menahan pinggiran papan sementara dia sudah siap dengan sesuatu yang seperti pensil raksasa yang sudah dialiri listrik.

“OMO! Tanganku!!” Aku tak bisa tidak berteriak ketika merasakan aliran listrik menyambar tanganku. Oh,rasanya menyebalkan sekali berurusan dengan listrik.

“Yak! Apa-apaan kau ini?! Kau merusak konsentrasiku!” omelnya. Huh,dasar. Kalau wanita itu mendengarnya bisa mati kutu dia.

“Apanya yang merusak konsentrasi?! Tanganku tersetrum!” balasku. Kesal juga lama-lama dibentak terus olehnya.

“Cuma setruman kecil,kan?! Kau tidak sampai pingsan juga,kan?!”
Cish, aku malas membalasnya. Biar saja dia mengomel sampai mulutnya berbusa.

Akhirnya karena aku tidak mendebat perkataannya lagi, Kyuhyun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dan kenapa alisnya masih berkerut? Kesal? Hey, memangnya ini sepenuhnya salahku? Salahkan listrik itu juga!

“Apa tidak sebaiknya diteruskan besok saja?” aku bertanya lagi.

“Diam.” tegasnya.

Ck, ternyata seperti ini Cho Kyuhyun yang asli. Bagaimana kalau ini dijadikan gosip?

“Ehem. Ckckck.. Kau ternyata pintar sekali berakting, ya?” tanyaku dengan senyum manis.

Kyuhyun mendongak dari pekerjaannya dan menatapku risih.

“Awalnya kukira kau ini adalah orang yang tidak banyak bicara, menghormati orang lain, yang jelas hal-hal baik lainnya yang membuatmu jadi siswa favorit..” aku menyeringai.

“Ya, memang benar.” sahutnya bangga. Jangan besar kepala dulu, Cho Kyuhyun.

“Tapi mungkin hari ini kau bersikap sebaliknya. Cerewet, suka memarahi orang, juga sedikit sombong. Dan ini akan menjadi head-line di mading sekolah.”

Bukannya terkejut atau apalah, dia malah mengangkat sebelah alisnya sambil memiringkan kepalanya menatapku.

“Aku tidak percaya anak seperti dirimu bisa menyebarkan gosip..” katanya. Mwo? Dia pikir aku seterbelakang itu?!

“Huh, terserah saja. Lihat saja nanti. Begini-begini aku juga punya kenalan diantara para penggosip di sekolah~” cibirku.

“Paling-paling hanya jadi angin lalu kalau kau yang mengatakan gosip semacam itu.” kata Kyuhyun dengan santainya. Aish, dasar laki-laki kepala batu!

“Berhenti mengajakku bicara. Biarkan aku selesaikan ini semua, dan aku tidak perlu datang kesini lagi.” kata Kyuhyun, kembali menekuni kegiatannya sebelumnya.

“Memangnya siapa yang mengusulkan untuk bekerja disini?” tantangku.

“Ck! Kubilang berhenti mengajakku bicara!”

“Ish!”

Kesal sekali rasanya-____- Apa orang tuanya tidak kesulitan mengurus anak seperti dia?
Lihat saja nanti. Pasti akan menjadi hot news. Dan bukankah teman-teman dikelas sudah melihat bagaimana Kyuhyun meneriakiku dikelas kemarin?

***

Author POV

“Kau sudah lihat artikel baru di mading?”

“Sudah.Menurutmu apa berita itu sungguhan?”

“Aku tidak yakin. Penulis artikel itu bilang, ia mendapatkan info itu dari partner sekelompok Kyuhyun, Han Jaemi. Tapi apa berita dari seorang Han Jaemi bisa dipercaya?”

“Seharusnya tidak. Masa anak bodoh seperti dia mau dipercaya?”

“Tapi.. Beberapa anak yang sekelas dengan Kyuhyun dan Jaemi mengaku pernah memergoki Kyuhyun meneriaki Jaemi. Kalau sudah begitu menurutmu bagaimana?”

“Ahh.. Aku jadi bingung..”

Kyuhyun menghentikan langkahnya. Percakapan itu membuatnya bingung. Apa yeoja itu serius dengan perkataannya kemarin? Ia mulai naik darah memikirkan jika itu benar.

Kyuhyun berlari menghampiri mading yang dipajang disamping ruang osis. Seketika kesabarannya telah mencapai puncak.

“Han Jaemi… Apa-apaan ini?!” Kyuhyun menggeram.

~

Jaemi kelabakan menanggapi perlakuan Kyuhyun terhadapnya. Tangannya dicengkram sangat erat dan tubuhnya ditarik sampai ia harus belari-lari kecil untuk menyamakan langkah dengan Kyuhyun yang sejak tadi hanya menariknya tanpa berbicara sepatah katapun.

“Yaaaakkk!! Lepaskan aku!!” Jaemi berteriak nyaring. Ia tak mendapat tanggapan dari Kyuhyun.

Barulah ketika sampai dilorong antara UKS dan Laboratorium Biologi yang jarang terjangkau oleh para siswa, Kyuhyun menyentakkan tangan Jaemi.

Wajah Kyuhyun memerah menahan amarah. Ia menggertakkan giginya untuk mencegah dirinya sendiri memukul seorang yeoja.

“Mwo?” Jaemi berkacak pinggang.

“Apanya yang apa? Hah? Sudah menyebarkan berita buruk tentang orang lain masih berani berkacak pinggang dihadapanku?!” tanya Kyuhyun tajam.

Jaemi mengerjap,mencari kata-kata yang tepat. Ia tak menyangka Kyuhyun akan semarah ini. ”Mmm,, itu.. M,maaf.Aku hanya bercanda.”

“BERCANDA?! KAU SEBUT INI BERCANDA?! KAU SUDAH MEMBUATKU MERASA TERINTIMIDASI KARENA SETIAP MURID DI SEKOLAH INI MEMBIACARAKANKU!!” Kyuhyun akhirnya sudah tidak tahan untuk tidak membentak yeoja yang menurutnya idiot ini.

Kedua tangan Jaemi terkepal menahan rasa takut. Bentakan Kyuhyun kali ini terasa seribu kali lebih menakutkan dari yang sebelum-sebelumnya.

Kaki Jaemi juga terpaksa terus melangkah mundur karena Kyuhyun semakin mendekatinya. Sial,Jaemi mengumpat ketika tubuhnya membentur tembok dan tak bisa melarikan diri kemana-mana karena Kyuhyun juga sudah menguncinya dengan kedua tangannya.

“M,maaf..” Jaemi tak tahu lagi apa yang harus ia katakan selain kata maaf. Ia juga tidak berani mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk.

Jaemi tersentak kaget saat Kyuhyun memukul tembok dan menimbulkan suara yang cukup keras ditelinganya. Ia tidak menyangka akibat dari perbuatannya akan semenyeramkan ini. Tatapan Kyuhyun bahkan lebih menakutkan daripada tatapan guru paling mengerikan disekolahnya.

“B,b,bi-bisa kau menyingkir da-dari hadapanku? I,ini te-terlalu de-dekat..” Jaemi merasakan jantungnya berdetak sangat cepat dan makin cepat. Ia tidak biasa berada sedekat ini dengan seorang laki-laki.

Kyuhyun terus menatap Jaemi tanpa berkedip. Kilatan marah masih tergambar jelas walau sepertinya tak sedahsyat yang tadi. Ia masih tak berbicara sepatah katapun.

“B,ba-bagaimana kalau kau memberikan hukuman padaku? Ja-jadi j,jangan ma,marah lagi..” tawar Jaemi pelan.

“Kau yakin?” tanya Kyuhyun disertai seringaian jahil.

Jaemi mengangguk ragu walau jelas-jelas seringaian Kyuhyun barusan yang ia lihat sekilas saja sudah menegaskan bahwa ini sama sekali bukan pertanda baik.

Sebelum mengatakan apa hukuman yang ingin ia berikan pada Jaemi, Kyuhyun terlebih dulu menjauhkan wajahnya dari wajah Jaemi sesuai permintaan Jaemi.

“Ikut aku.” Setelahnya Kyuhyun berjalan duluan dengan Jaemi dibelakangnya.

~

“Maksudmu?” Jaemi mengerutkan kening ketika Kyuhyun meletakkan selembar undangan resmi ke hadapannya.

“Temani aku pergi acara itu.” kata Kyuhyun singkat,dan sukses membuat mulut Jaemi menganga.

Apa dia tidak salah dengar? Apa ia benar-benar harus datang ke acara yang sepertinya hanya akan dihadiri oleh kalangan atas itu? Terlebih lagi ia akan datang bersama Kyuhyun? Tidak mungkin!

“Tidak mau! Berikan hukuman yang lain!” Jaemi berkeras.

“Yak! Mana ada orang yang menolak hukuman yang memang sudah seharusnya ia terima?!” bentak Kyuhyun.

“Tapi aku tidak pernah datang ke acara semacam itu! Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri dengan menyuruhku menemanimu pergi kesana!” ujar Jaemi.

Kyuhyun memutar bola matanya.”Akan kupastikan kau tidak akan mempermalukanku.”

***

Seseorang membunyikan bel pintu depan rumah keluarga Jaemi.Ibu Jaemi yang ada diruang tamu,yang jelas-jelas jauh lebih dekat untuk menjangkau pintu depan justru berteriak memanggil Jaemi untuk membukakan pintu.”Jaemi…!! Cepat turun dan buka pintunya!”

Dengan langkah yang dihentak-hentakkan karena kesal acara santainya harus terganggu,Jaemi menuruni tangga dan menghampiri pintu depan.

Cklek.

Pintu terbuka dan seorang laki-laki dengan stelan casual berdiri didepan pintu sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

Jaemi terbelalak melihat laki-laki itu.
“M-mau ap-apa k,kau ke,ke-sini?” tanya Jaemi gelagapan.

Kyuhyun hanya memasang tampang datarnya yang biasa,lalu menarik tangan Jaemi sampai ia berada diluar pintu.

“Siapa?” Ibu Jaemi keluar dan senyum sumringah genit khasnya itu keluar lagi begitu melihat Kyuhyun.

“Annyeonghaseyo noona..” sapa Kyuhyun.Ia sengaja memanggil Ibu Jaemi dengan sebutan ‘noona’ yang sesungguhnya sangat tidak pantas agar bisa menyenangkan hatinya dan bisa dengan mudah membawa Jaemi pergi.”Boleh aku meminjam Jaemi untuk hari ini?” tanyanya lagi.

Mendengar sebutan noona yang ditujukan untuknya,Ibu Jaemi langsung tersenyum senang.Ini berarti perawatan kulitnya selama ini membuahkan hasil.

“Boleh.Tentu saja boleh.Memangnya kalian akan pergi kemana?” tanya Ibu Jaemi lengkap dengan senyum manis.

“Ah.. Itu rahasia,noona.. Kami pergi dulu,ya?” Kyuhyun mengeluarkan senyum termanisnya.

“E-eh,tunggu dulu.. Jaemi,tidak sopan kalau kau pergi dengan menggunakan pakaian seperti itu.Ayo ganti dulu~”

“Tidak perlu.Dia sudah cukup cantik dengan pakaian rumahnya.Kami pamit pergi,noona..” setelah mengeluarkan kata-kata palsunya,Kyuhyun menggiring Jaemi masuk ke dalam mobilnya.

“Apa-apaan barusan itu?! Apa maksudmu aku sudah cukup cantik dengan pakaian rumahku?! Dan apa itu tadi? Noona? Memangnya kau pikir berapa umur nenek sihir itu?!” Jaemi mengoceh begitu Kyuhyun memaksanya masuk kedalam mobil.

“Jangan banyak bicara.Itu salah satu cara agar aku bisa membawamu pergi.Para pekerja salon itu sudah menunggumu.” kata Kyuhyun sembari melajukan mobilnya.

“APA?! KAU BILANG APA BARUSAN?! PEKERJA SALON? CEPAT KATAKAN APA TUJUANMU MEMBAWAKU PERGI!!” teriak Jaemi.Cukup keras untuk mengharuskan Kyuhyun menutup telinga dengan sebelah tangannya.

“Yak!! Bukannya kau sudah setuju untuk menerima hukuman dariku? Acara itu akan diadakan hari ini! Aku tidak mau kau berpenampilan tidak sesuai dengan acara itu! Kau mengerti?!”

Jaemi merengut sekaligus merutuki kebodohannya.Padahal tadi ia bisa saja langsung berlari ke kamarnya lagi dan mengunci pintu untuk menghindari Kyuhyun.Benar-benar bodoh karena waktu itu Jaemi tidak memperhatikan tanggal berapa acara itu akan dilaksanakan.

Seringaian jahil Kyuhyun muncul lagi.Ia yakin rencana kali ini akan sukses.Dan rencananya ini tidak main-main.

***

“YAAAAAAAKKK!!!! APA-APAAN INI??!!!!” Jaemi berteriak histeris ketika melihat pantulan wajahnya dicermin.

“Diamlah! Kenapa kau berlebihan sekali?” Kyuhyun menutup buku yang ia baca begitu mendengar teriakan Jaemi yang masih duduk dikursi rias.

Jaemi terbelalak melihat wajahnya yang sekarang. Bedak,lipstick—walau hanya warna bibir—,eye-shadow,blush-on,maskara,membuatnya merasa seperti badut,walau sebenarnya riasan itu tetaplah riasan ala anak muda biasanya dan berwarna natural.

“Tetap saja.. Memangnya harus seperti ini untuk datang menghadiri acara itu?” tanya Jaemi ragu.

Kyuhyun tersenyum samar, “Ya, kalau tidak untuk apa aku membawamu ke salon dan menyiapkan gaun khusus?”

“Gaun khusus?! Maksudmu.. Aku akan memakai gaun?! Gaun? G-a-u-n? Kau gila! Aku tidak pernah mau memakai baju yang disebut gaun itu!” Jaemi tak henti-hentinya memprotes.

“Berhenti protes atau aku akan memaksamu memakai bikini! Bagaimana,hah?!” ancam Kyuhyun.

Akhirnya Jaemi berhenti bersuara setelah mendengarnya. Apa jadinya kalau itu benar-benar terjadi?

Karena itu Jaemi memilih untuk diam. Mungkin untuk sekali ini saja tidak apa-apa.

Kyuhyun menutup bukunya. Ia berdiri, dan sekilas memperhatikan gadis yang masih merengut itu. Cantik. Sedetik berikutnya Kyuhyun langsung tersadar. Apa? Pasti yang tadi itu bisikan setan. Gadis bodoh seperti ini cantik darimananya!

“Aku berangkat duluan. Nanti akan ada yang menjemputmu dan mengantarmu kesana. Aku akan menunggumu.” kata Kyuhyun, yang jelas-jelas sebenarnya kalimat terakhir itu hanya gurauan. Lalu ia keluar dari salon mewah itu, mengendarai mobilnya menuju tempat acara.

Hanya tipuan ringan, tapi aku yakin aku menang telak. Cih, gadis bodoh itu. Hanya dengan sedikit manipulasi surat undangan, ia langsung mengiyakan. Hahaha.. ini pasti sukses besar!

***

Jaemi berjalan terseok-seok dengan sepatu high heels yang ia pakai. Gaun panjang warna putih dengan banyak sekali renda itu juga membuatnya risih dan sulit berjalan. Benar-benar pekerja salon itu. Sudah mendandaninya seperti badut, memaksanya untuk memakai sepatu ber-hak tinggi, masih menyuruhnya pakai gaun ini juga. Lagipula Jaemi tak menyangka hukuman itu jadi seperti ini.

Sepertinya acara itu diadakan di taman, dilihat dari lampu-lampu dan suara musik yang keras. Jaemi berjalan menuju taman yang jaraknya tinggal sepuluh kaki dari tempatnya berdiri itu. Walaupun sedikit gugup, setidaknya ia sudah mengenakan sedikit riasan. Mungkin tak akan jauh beda dengan orang-orang disana. Biasanya orang kaya memang suka berdandan menor, kan?

Jaemi yang sibuk memikirkan kemungkinan ini dan itu, tak menyadari tatapan-tatapan bingung dari para tamu lain yang memandangnya.

Akhirnya karena merasakan aura aneh yang membuat perasaannya tidak nyaman, Jaemi tersadar. Semua orang memperhatikannya. Ia memang baru berdiri di batasan yang bisa disebut pintu, tapi semua mata langsung tertuju padanya. Tentu saja karena warna gaunnya terlihat paling bersinar diantara warna-warna lain yang ada disana.
Rok mini, kaus tanpa lengan, celana panjang, jaket casual. Tak ada gaun. Hanya dirinya.

Jantung Jaemi serasa sudah tak berada ditempatnya lagi, hilang entah kemana. Dadanya terasa kosong, dan tubuhnya seperti dilempar ke dalam jurang penuh lahar yang membuat emosinya memuncak. Tapi ia tak bisa marah, rasa malunya jauh lebih besar dari api yang baru saja tersulut dalam dirinya.

Beberapa orang tertawa. Ada yang hanya menatap dengan bingungnya, atau berusaha untuk tidak tertawa seperti beberapa orang lainnya.

“Nuguya? Mianhamnida, ini bukan tempat pementasan drama, Nona.” Suara seorang laki-laki terdengar oleh semua telinga. Kyuhyun berdiri dengan ekspresi sok polosnya sambil menggenggam gelas wine-nya.

Orang-orang disekitarnya langsung tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang lucu.

Wajah Jaemi benar-benar merah sekarang. Sudah tak ada bedanya antara blush-on atau warna kulit aslinya.

Tapi Jaemi tak selemah itu. Ia tak akan pergi begitu saja tanpa memergoki orang itu terlebih dulu.

Jaemi melepas dengan kasar sepatunya, berjalan dengan telanjang kaki menuju seorang laki-laki yang berdiri disamping meja panjang penuh hidangan.

Plak.

Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Kyuhyun, meninggalkan bekas kemerahan.

Tamparan keras itu menghentikan tawa Kyuhyun, namun tak menghilangkan sinar mata meremehkan yang ditujukan untuk Jaemi.

“Lucu? Lucu, ya?” tanya Jaemi sinis. Salah satu sudut bibirnya melengkung keatas, membentuk senyuman yang mengerikan.

Orang-orang disana terdiam, memperhatikan dengan seksama. Tak ada yang berbicara, termasuk Kyuhyun.

Plak.

Jaemi menampar Kyuhyun lagi. “Itu untuk kebohongan konyolmu.”

Plak.

“Itu untuk menyuruhku memakai gaun menjijikkan ini.”

Plak.

“Untuk memaksaku memakai sepatu hak tinggi hingga kakiku terasa sakit.”

Plak.

“Dan yang ini, untuk menyadarkan dirimu, bahwa tak ada yang lucu dalam tipuan konyolmu ini. Tak ada gunanya mempermalukan gadis yang setiap hari menerima hinaan karena kebodohannya.”

Jaemi melengos pergi, tanpa menatap siapapun lagi.

Kyuhyun menyentuh pipinya yang terasa perih. Ia pun bingung mengapa tadi ia hanya diam saat tamparan-tamparan keras itu menghujani wajahnya. Ia benar-benar tidak mengerti apa pengaruh tatapan dan senyum gadis itu.

***

Jaemi berjalan dengan lesu. Ia tak tahu harus pulang dengan apa. Ia sama sekali tak mengenali daerah disekelilingnya, jadi bagaimana dia bisa pulang? Belum lagi apa kata orang kalau ada gadis dengan gaun panjang naik bus umum? Norak sekali.

Kalau di dongeng-dongeng, biasanya tokoh utama selalu mendapat pertolongan disaat-saat seperti ini. Entah dijemput temannya yang kebetulan lewat, atau ada lelaki tampan yang baik yang bersedia mengantarkan sampai ke rumah. Tapi Jaemi bisa apa? Dia tak punya teman disekolah maupun dirumah. Bahkan satu-satunya anak dari kelasnya yang pernah berkunjung ke rumahnya sendirian hanya.. hanya.. Jaemi memukul kepalanya. Kenapa pikirannya malah mengarah ke laki-laki menyebalkan itu?

Andai saja ponsel dan dompetnya tak tertinggal di dalam mobil yang mengantarnya tadi, ia bisa menelepon Ayahnya—setidaknya untuk minta diberitahu jalan. Ia tinggal menyebutkan apa saja yang dilihatnya disini, dan mungkin Ayahnya tahu. Atau ia tinggal mencari pos keamanan terdekat, menanyakan letak halte paling dekat dari situ, lalu naik bus.

“Yaish!” Jaemi menendang sebuah batu kerikil dengan kakinya yang telanjang. Apa gunanya memikirkan ini itu padahal apa yang ia pikirkan tak akan bisa terjadi. Tak ada dompet, tak ada ponsel. Mungkin Jaemi akan terdaftar dalam catatan orang hilang berikutnya.

Tin tin.

Jaemi tak memperdulikan bunyi klakson yang terdengar dari belakangnya. Mungkin hanya orang yang merasa terganggu dengan keberadaannya dipinggir jalanan sempit itu.

Ia terus berjalan saja tanpa menyadari mobil itu terus mengklakson walaupun ia sudah berjalan lebih kepinggir. Karena merasa kesal dengan bunyi klakson yang monoton dan berturut-turut, Jaemi menolehkan kepalanya untuk melihat sebenarnya apa yang membuat pengendara mobil itu terus membunyikan klakson. Ia menajamkan penglihatannya ditengah cahaya menyilaukan dari lampu mobil tersebut.

Seketika Jaemi langsung melongo. Apa-apaan orang itu?? Langkah Jaemi otomatis terhenti.

Mobil biru mengkilap itu berhenti tepat didepan Jaemi. Kaca bagian depan tempat si pengendara duduk terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki tanpa ekspresi yang menatap Jaemi. “Ayo naik.” katanya.
Jaemi hanya diam, belum bisa berkata-kata.

“Mau pulang atau tidak?” tanyanya.

Setelah bisa menguasai dirinya sendiri, barulah Jaemi menjawab, “Ap-apa? Ti-tidak akan. Aku tidak mau pulang bersamamu. Bisa-bisa kau membawaku ke kolong jembatan dan meninggalkanku disana. Sekarang berikan saja ponsel dan dompetku.”

Kyuhyun tersenyum sinis. “Ponsel? Dompet? Memangnya siapa yang dengan bodoh meninggalkannya di dalam mobil antar-jemput dan masuk begitu saja ke dalam pesta dengan sebuah gaun putih?” cecarnya, seolah-olah semua itu memang karena kebodohan Jaemi.

“Apa?! Sudah seperti ini kau masih menyalahkanku?!! Lalu siapa yang sejak awal sok membuat tipuan-tipuan konyol itu?!” Jaemi melangkah maju dan menendang pintu mobil Kyuhyun dengan keras.

“Yaakk!! Aku datang untuk menawarkan bantuan, tahu! Kalau tidak mau tidak usah merusak mobil orang lain! Masih untung aku datang menyusul kesini.” Kyuhyun memberengut.

“Cih, untuk apa? Untuk menarik perhatian orang lain? Sudahlah, kau tak perlu sampai seperti ini untuk mendapatkan kesan baik dari orang lain.” Jaemi mencibir sambil menyilangkan kedua tangannya.

Kyuhyun terlihat menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Sekarang, kau, mau, naik, atau, tidak? He?” tanya Kyuhyun dengan nada lembut yang dipaksakan.

Jaemi berpikir cukup lama. Melihat kakinya yang tidak beralaskan apapun, tangannya yang kosong tanpa uang sepeserpun, gaun panjang putih dengan rok menggembung, ditambah lagi jalanan yang tidak ia kenal, membuatnya merasa terpojok dengan argumen pikirannya sendiri.

Ia melirik Kyuhyun yang masih menunggu jawabannya dengan alis berkerut kesal. Sambil terus menimbang-nimbang, ia berkata dengan ragu, “A.. a-aku i-ikut..”, dan langsung masuk kedalam jok belakang mobil itu tanpa dipersilahkan.

Jaemi menunduk memikirkan tingkahnya barusan. Apakah ia terlihat bodoh? Apa ia terlihat murahan dengan menerima ajakan laki-laki ini?

Tapi saat menyadari mobil yang ia naiki tak kunjung mulai berjalan juga, pertanyaan-pertanyaan yang mengalir di pikirannya langsung terhenti.

“Kenapa tidak jalan?” tanya Jaemi langsung pada Kyuhyun.

Kyuhyun memutar bola matanya kesal, dan berkata dengan nada jenuh, “Duduk didepan., aku bukan supir.”

Sekilas Jaemi membayangkan bagaimana suasana nanti jika ia duduk disamping laki-laki itu, didalam mobil yang hening, tanpa ada yang bicara. Membayangkannya saja sudah membuatnya gugup.

“Apa yang kau lakukan? Cepat pindah ke depan!” perintah Kyuhyun.
Mendengar terguran itu, akhirnya Jaemi setuju untuk pindah ke jok depan mobil, disamping Kyuhyun.

~

Cukup lama waktu yang digunakan dalam perjalanan pulang. Pemandangan bangunan juga kendaraan lain yang terlihat bergerak cepat membuat Jaemi mengantuk.

Ternyata jaraknya cukup jauh dari rumahku, pikir Jaemi sebelum benar-benar terlelap.

~

“Sudah sam-“ Kyuhyun tidak jadi mengeluarkan suara ketika menyadari Jaemi tengah tertidur. Entah kenapa ia tidak sampai hati mengganggu tidurnya.

Tangannya perlahan terulur, hendak menyingkirkan anak rambut yang jatuh ke wajah Jaemi.

Jarak sekitar tiga sentimeter lagi, gerakan tangannya terhenti. Seperti baru saja tersadar, dengan cepat ia menarik tangannya kembali. Dipandangnya dengan nanar tangannya sendiri, “Apa? Apa itu tadi? Apa yang kau lakukan?!” tanyanya pada tangannya sendiri.

Akhirnya setelah Kyuhyun cukup yakin kalau perbuatan tadi itu diluar kesadarannya, dan ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya seperti tadi, baru ia berniat membangunkan Jaemi.

“Yaa.. Cepat bangun, sudah sampai.” kata Kyuhyun. Melihat tak ada tanda-tanda Jaemi akan bangun, Kyuhyun mengguncang pelan bahunya lalu berkata lagi, “Sudah sampai, ayo bangun.”

Tak disangka reaksi Jaemi lebih cepat setelah disentuh. Ia terbangun, lalu kebingungan ketika menyadari tangan Kyuhyun yang sedang memegangi bahunya.

Kyuhyun berpikir sambil memandangi tangannya yang masih diposisi sebelumnya. Lagi-lagi seakan tersadar dari sesuatu, ia menarik tangannya dan dengan canggung berdeham pelan. Dalam hati ia mengomeli dirinya sendiri, bagaimana bisa tangannya masih ada disitu padahal Jaemi sudah terbangun. Sampai ia berpikir, mungkin tangannya harus diberi pelatihan agar tidak bertindak diluar kesadarannya lagi.

“S-su-sudah sampai.” kata Kyuhyun kikuk.

Jaemi bercelingak-celinguk memandang sekitarnya, dan bersyukur ternyata Kyuhyun benar-benar membawanya pulang, bukan menelantarkannya di kolong jembatan seperti perkiraannya.

“Te-terima kasih. Aku.. masuk dulu.” Jaemi bergegas membuka pintu mobil dan melangkahkan sebelah kakinya keluar. Tapi ia langsung berhenti begitu merasakan tangannya ditahan.

Kyuhyun langsung mengomel lagi dalam hati. Tubuhnya seperti sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Untuk apa tangannya itu menahan tangan Jaemi padahal tidak ada sama sekali yang ingin ia sampaikan?

Jaemi menoleh, dan Kyuhyun benar-benar kehabisan kata-kata. Ia memutar bolak-balik otaknya untuk mendapatkan kata-kata yang tepat, setidaknya untuk menunjukkan kalau ia menahan tangan Jaemi karena ingin mengatakan sesuatu.

Dan kata-kata yang keluar adalah, “Aku akan mengembalikan dompet dan ponselmu besok.”

Jaemi menghembuskan nafas lega. Ternyata hanya itu. Ia kira kejadiannya akan sama seperti di drama-drama romantis yang ada di TV.

“I-iya. Terima kasih.” kata Jaemi, dan ia langsung melesat menuju rumahnya, kamarnya, lalu tempat tidurnya hanya dalam beberapa detik, tanpa memperdulikan Ibunya yang berteriak menanyakan pakaian macam apa yang dikenakan Jaemi.

Diluar didalam mobilnya, Kyuhyun masih terdiam. Sama sekali belum menginjak gas. Ia hanya menatap kosong kedepan dengan mulut setengah menganga. Sebenarnya keanehan macam apa yang sedang terjadi? Pertama, ia memutuskan untuk menyusul Jaemi dan menawarkan diri untuk mengantanya pulang. Kedua, tangannya hampir saja bergerak merapikan rambut Jaemi. Ketiga, ia bahkan menahan tangan Jaemi tanpa maksud apapun. Dan sekarang, yang paling penting, mengapa detak jantungnya jadi bertambah cepat?

Beruntung pintu depan rumah Jaemi bergerak-gerak kemudian berangsur membuka, hingga menyadarkan Kyuhyun untuk tidak melamun lebih lama lagi.

Sebelum Ibu Jaemi sempat menyapa Kyuhyun dan bermaksud mengajaknya masuk, mobil Kyuhyun langsung melesat pergi meninggalkan rumah itu.

***

Apa? Untuk apa laki-laki itu masih duduk disampingku? Jaemi menutupi tiga per empat wajahnya dengan buku sambil terus memperhatikan gerak-gerik laki-laki yang baru saja duduk disampingnya.

Akhirnya Jaemi memiliki cukup keberanian untuk bertanya, “Kenapa kau masih duduk disini?”

Kyuhyun baru saja meletakkan tas nya, lalu menjawab dengan wajah tanpa ekspresi, “Tugas kita belum selesai, Nona.”

Mendengar kata ‘Nona’ yang baru saja diutarakan Kyuhyun, Jaemi teringat kejadian di pesta itu.

“Nuguya? Mianhamnida, ini bukan tempat pementasan drama, Nona.”

Mengingat kata-kata itu, membuat Jaemi kembali merasa kesal. Ia membanting buku yang ia pegang ke meja, membuat Kyuhyun sedikit terlonjak.

“Neo mwoya?!”

Jaemi terdiam mendengar teguran kasar itu. Tumben sekali laki-laki ini berani bertingkah seperti itu didepan teman-teman yang lain, pikirnya.

Jaemi mencermati gerak-gerik Kyuhyun. Dan benar saja, Kyuhyun pun terlihat terkejut dengan sikapnya sendiri. Mungkin karena sudah mulai terbiasa berbicara kasar pada Jaemi, Kyuhyun mulai sulit menutupi sifat aslinya.

Setelah cukup yakin sikapnya sudah kembali stabil, Kyuhyun mengambil sesuatu dari saku celananya, dan sesuatu lainnya dari saku jas seragamnya.

“Ini.”

Jaemi melihat sebuah ponsel dan dompet disodorkan ke hadapannya. Dan sinar matanya langsung berubah drastis seolah-olah baru saja menemukan belahan jiwanya. “Oh, kekasihku..!” serunya pada kedua benda itu.

Kyuhyun hanya menggeleng-geleng, karena dia sudah mulai terbiasa melihat tingkah bodoh gadis itu.

~

Jaemi melangkahkan kakinya dengan riang menuju pintu gerbang.

Hari ini ia memiliki beberapa rencana yang mungkin akan menyenangkan untuk dilakukan.

“Hey! Tu.. tunggu dulu! Yaish, kenapa langkahmu jadi begitu cepat?!” Suara tersebut membuat Jaemi sontak menolehkan kepalanya.

Ia melihat Kyuhyun yang dengan sibuk mengatur nafasnya, berdiri dihadapannya. Mau apalagi orang ini?

“Cih, begitu saja kau bilang cepat? Jangan-jangan kau ini bukan laki-laki sungguhan!?” cibir Jaemi. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menunggu laki-laki itu sampai ia cukup siap untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan. “Ada apa?” tanyanya.

“Ada apa? Kau pikir pekerjaan kita sudah selesai?! Karena ide gilamu untuk membuat tulisan ‘I Love You’, kita harus bekerja ekstra keras!” kata Kyuhyun berapi-api.

“Apa katamu? Mengerjakan tugas lagi? Oh, ya ampun, sebodoh-bodohnya diriku ini, aku bukannya tidak ada kerjaan, tahu!” sahut Jaemi kesal. Ia tak akan membiarkan laki-laki itu menghancurkan rencana ‘pesta’nya.

Kyuhyun memutar bola matanya, “Memangnya sepenting apa pekerjaanmu itu? Kau pikir aku mengerjakan tugas ini untuk diriku sendiri? Ini tugas kelompok, Nona. Ini nilai untuk kita berdua.” katanya.

“Aku tidak mau. Pokoknya aku tidak mau. Kalau mau mengerjakan tugas, jangan hari ini.” tegas Jaemi, kemudian ia langsung pergi meninggalkan Kyuhyun yang sedang besusah payah menahan kekesalannya.

TBC

Advertisements

2 thoughts on “The Evil Partner [Part 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s