Stop

***

Berhenti. Berhenti panggil namaku. Kau tidak sadar, disaat kau melakukan hal yang membuatku sakit hati, dengan memanggil namaku, kau akan semakin membuatku marah. Tidakkah kau tahu, kau telah membuatku sangat marah dengan melakukan hal itu. Karena itu, berhentilah.

Berhenti tatap mataku. Aku tak tahu apakah kau tahu bagaimana perasaanku, tapi tatapanmu selalu membuat pikiranku melayang kemana-mana dan melupakan sekitarku. Dan begitu aku sadar bahwa kau tak akan melihat perasaanku, aku merasa terhempas. Karena itu, berhentilah.

Berhenti katakan aku tidak peduli lagi. Jika aku bertanya padamu, apakah kau akan mempedulikan perasaanku, memangnya apa yang akan kau katakan? Bukannya tidak peduli, tapi aku hanya takut. Aku takut, jika aku semakin mempedulikanmu, rasa ini akan semakin dalam, dan hati ini akan terluka semakin dalam. Karena itu, berhentilah.

Berhenti muncul kehadapanku selama kau masih bersamanya. Lama aku bertahan agar tetap bias melihatmu meski dari jauh. Tapi, entah kau sengaja atau tidak, kau selalu mengacuhkan perasaanku. Apakah kau tidak penasaran mengapa kau selalu menangkap basah aku ketika menatapmu? Apakah kau tidak penasaran mengapa aku tak pernah menyapamu lagi setelah kejadian itu? Tidakkah?

Berhenti acuhkan aku. Sekali saja, cobalah untuk mengetahui perasaanku. Setidaknya dengan begitu aku tahu, bahwa kau selalu menganggapku ada.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s