Morning Flower

Morning Flower

***

BUGH

Seorang laki-laki jatuh tersungkur ke tanah. Dengan tendangan memutar, dua orang lagi terpental. Mereka semua langsung berlari pergi sambil memegangi perut atau bagian tubuh lainnya yang terasa sakit.

Gadis itu merapikan pakaiannya, juga rambutnya. Ia menyingkirkan debu yang mengotori rok nya, lalu berbalik dan berjalan dengan santai menuju sebuah sekolah.

***

BRAK

Pak Kepala Sekolah memukul meja kerjanya keras-keras tepat dihadapan seorang gadis yang sedang menunduk.

“Sudah berapa kali Bapak bilang, jangan pernah berkelahi dengan anak-anak berandalan itu lagi, Park Hyera!!” bentaknya kencang.

Gadis yang dipanggil Hyera itu hanya menunduk. Bukan untuk merenungi kesalahannya, tapi ia sedang menyusun strategi-strategi jitu untuk melawan teman-teman para anggota geng motor itu.

“Jawab Bapak!”

“Tujuh puluh tujuh kali, Pak!” jawab Hyera asal. Ia merasa benar-benar membuang waktu duduk didepan orang tua gemuk itu.

“Yak! Saya serius!!” Pak Kepala Sekolah memukul meja sekali lagi.

Bel masuk berbunyi, tanda istirahat sudah berakhir. Dari 30 menit istirahat, sepenuhnya digunakan untuk duduk didalam Ruang Kepala Sekolah. Benar-benar gila.

“Sudah waktunya masuk kelas. Saya pergi dulu, Pak!” Hyera langsung melesat keluar dari ruangan tersebut.

“Yaaaakk!!”

Hyera tak memperdulikan Pak Kepala Sekolah yang terus memangggil-manggil namanya, ia terus berlari sampai ke kelasnya.

Hyera duduk dikursinya, terengah-engah sambil mengeluarkan buku novel dari dalam tasnya. Setelah cukup tenang untuk membaca, Hyera membuka bukunya dan mulai membacanya.

“Kabur lagi?” tanya seorang anak laki-laki yang duduk didepan Hyera.

“Seperti biasa..” jawab Hyera santai.

Cho Kyuhyun hanya tersenyum simpul. Teman satu klub nya itu memang sudah terkenal nakalnya. Tapi walau begitu, kemampuan akademiknya juga tak bisa diremehkan. Bahkan tanpa mengikuti pelajaran selama dua minggu, Hyera bisa mendapat nilai sempurna untuk ujian. Tak jauh beda juga dengan dirinya, Hyera sering berkelahi secara fisik.

Guru mata pelajaran sudah masuk dan memulai pelajaran. Seperti biasanya juga, Hyera sama sekali tidak mempedulikan penjelasan ini-itu yang diberikan Guru didepan kelas, ia terus berkonsentrasi pada buku novelnya.

Tak ada guru yang pernah mencoba menegur Hyera lagi selain Kepala Sekolah. Mereka sudah bosan diacuhkan oleh gadis berperawakan lelaki itu.

Park Hyera. Gadis setengah laki-laki—adalah sebutan untuknya. Setiap hari datang ke sekolah dengan penampilan yang berantakan—walaupun menurutnya sudah rapi.

Cho Kyuhyun. Laki-laki dingin yang hanya ingin berteman dengan orang-orang yang setara dengannya. Jago berkelahi, namun tetap berprestasi. Karena itulah ia hanya berteman dengan Hyera.

***

Hyera menghentikan langkah kakinya didepan sebuah toko bunga. Bunga-bunga berbagai warna terlihat melalui kaca etalase. Dia tersenyum melihat warna-warni cantik dari bunga-bunga itu.

Mau tidak mau Kyuhyun ikut berhenti. “Bunga lagi? Aku heran padamu. Suka berkelahi, tak pernah memperhatikan penampilan, suka melawan, tapi menyukai bunga. Makhluk jenis apa sebenarnya dirimu?” tanya Kyuhyun sambil menatap risih bunga-bunga tak menarik itu.

“Entahlah. Aku tidak tahu kenapa. Bunga-bunga itu nampak indah, walaupun aku sendiri tak bisa memahami keindahan. Apalagi bunga mawar—meski aku sedikit takut terluka karena duri-durinya.” jawab Hyera sambil lalu. Ia terlalu sibuk memperhatikan bunga-bunga itu.

“Sudahlah. Aku muak melihat wajah takjubmu terhadap bunga-bunga jelek itu. Mau pulang atau terus disini? Aku mau cepat-cepat tidur.” kata Kyuhyun, menguap.

Setelah untuk terakhir kali di hari ini ia memberikan senyuman untuk bunga-bunga itu, Hyera kembali berjalan. “Aku suka bunga.” katanya pada diri sendiri.

“Aku benci bunga.” Kyuhyun menyahut.

Hyera menatap kesal laki-laki disampingnya. “Sebenarnya kenapa kau membenci bunga?” tanyanya.

“Bukannya sudah pernah kukatakan? Bunga-bunga itu aneh. Orang bilang mereka cantik, padahal tidak disiram sehari saja sudah layu. Lalu bunga mawar, harum tapi bisa melukai. Yang jelas aku benci mereka.”

“Cih, alasan yang aneh.” cibir Hyera.

Mereka terus berdebat tentang bunga sampai didepan gerbang rumah masing-masing, perdebatan yang hampir setiap hari mereka lakukan. Mereka berpisah tanpa mengucapkan salam. Hyera masuk  melalui gerbang disebelah kiri jalan, dan Kyuhyun masuk melalui gerbang dikanan jalan.

***

Hari sudah malam, tapi Hyera masih duduk dihadapan meja belajarnya. Ia hanya melamun sejak 2 jam yang lalu. Tangan kanannya menggenggam sebuah pensil diatas kertas kosong.

Bayangan tentang masa depan tiba-tiba menghantui pikirannya. Sekarang ia tak punya teman laki-laki selain Kyuhyun, dan sepertinya tidak ada yang tertarik padanya. Jadi apakah di masa depan ia akan mempunyai pasangan?

Hyera memandang kertas kosong dihadapannya. Ia mulai menggoreskan pensilnya keatas kertas membentuk garis-garis lengkung yang saling berdekatan.

5 menit berlalu dan Hyera berhenti menggerakkan pensilnya, ia memandangi gambar diatas kertas itu dengan bingung. Kenapa ia bisa menggambar bunga seperti itu? Ia pun tak sadar kalau sejak tadi ia menggambar sebuah bunga. Mirip bunga mawar, tapi tak berduri.

Perkataan Kyuhyun tentang bunga mawar tiba-tiba melintas dibenaknya.

‘..Lalu bunga mawar, harum tapi bisa melukai..’

Hyera memandang gambar bunganya.

Tidak ada duri. Berarti tak akan melukai, pikirnya.

Jam di meja kecil samping tempat tidur Hyera menunjukkan pukul setengah duabelas malam. Hyera meletakkan pensilnya dan membiarkan kertas dengan gambar bunga itu tergeletak begitu saja diatas meja belajarnya, lalu ia naik ke tempat tidur, berbaring, dan memejamkan mata. Segera setelah memejamkan mata, Hyera langsung tertidur nyenyak.

~

Kyuhyun mengintip rumah yang ada diseberang rumahnya melalui celah tirai jendela. Lampu di lantai dua tempat kamar Hyera masih menyala.

Kenapa dia belum tidur?

Ia melirik sekilas setangkai bunga lili berpita diatas meja belajarnya. Ia meraihnya, lalu pergi keluar dari kamarnya.

***

“Cepat bangun, Hyera. Hari sudah beranjak siang.” Ibu Hyera membuka tirai jendela kamar Hyera, hingga sinar matahari masuk dan membuat Hyera langsung terbangun.

Dengan malas Hyera bangun dari tempat tidurnya lalu meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.

Begitu Hyera masuk dan menutup pintu, Ibu Hyera sudah tak bisa menahan senyum. Ia keluar dari kamar Hyera setelah sebelumnya membenahi letak setangkai bunga lili yang ada diatas tas Hyera.

~

Gerakan tangan Hyera terhenti ketika melihat sebuah bunga tergeletak diatas tasnya. Ia mengangkatnya—ingin mencari tahu siapa yang menaruhnya disitu, tapi ia harus segera berangkat ke sekolah sebelum ia terlambat dan dianggap berkelahi dengan siswa sekolah sebelah lagi.

Akhirnya, Hyera menaruh bunga itu didalam sebuah tempat berisi air, dan meletakkannya diatas meja belajar. Ia memutuskan untuk bertanya pada orang tuanya nanti.

***

“Dua nilai sempurna. Cho Kyuhyun dan Park Hyera.” Guru didepan kelas berkata. Yang namanya disebut hanya diam tanpa merasa bangga atau apapun. Mereka hanya menekuni terus kegiatannya masing-masing—tak peduli dengan apa yang baru saja diumumkan.

Materi pelajaran berikutnya tengah disampaikan, tapi Hyera dan Kyuhyun sama sekali tak mencoba memandang Guru yang berdiri didepan kelas mereka.

Kyuhyun memutar badannya menghadap Hyera, “Kau tidak merasa risih?” tanyanya.

Hyera mengangkat kepalanya, sejenak menghentikan kegiatan rutinnya—membaca novel. “Kenapa?”

“Tatapan. Tatapan yang seperti mengatakan ‘Bagaimana mungkin orang seperti dia..?’ itu..” Kyuhyun memutar bola matanya ke seluruh isi kelas, lalu kembali menatap Hyera.

Hyera mengikuti arah pandangan Kyuhyun, lalu menjawab sambil lalu, “Aku tidak peduli.”

Sebelum Kyuhyun kembali ke posisi duduk menghadap depan, Hyera menghentikannya.

“Tunggu. Tadi pagi, ada setangkai bunga lili diatas tas ranselku. Apa kau juga menerimanya?” tanya Hyera hati-hati. Ia hanya merasa sedang menanyakan pertanyaan yang bodoh.

Dengan santai Kyuhyun menjawab, “Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Kupikir.. mungkin ada semacam.. program ‘Sejuta Bunga untuk Remaja’?” kata Hyera sambil menahan tawa karena merasa perkataannya benar-benar bodoh kali ini.

Kyuhyun hanya tersenyum miring, lalu kembali mengahadap ke depan.

~

Sepanjang jam pelajaran sampai pulang ke rumah, Hyera terus memikirkan bunga misterius itu. Mungkinkah….. Tidak mungkin! Laki-laki itu benci bunga, tak mungkin ia yang melakukannya.

Dijalan menuju rumah, Kyuhyun dan Hyera berjalan beriringan seperti biasa. Banyak yang mengira mereka berpacaran, tapi toh tidak begitu dikenyataannya.

Hyera menoleh ke kiri, ingin melihat wajah Kyuhyun—untuk memastikan dengan sangat pasti bahwa tidak mungkin pria ini pelakunya.

Hyera mendapati Kyuhyun bukan sedang memandang kedepan apalagi melihatnya, tapi justru menoleh ke kiri, ke seberang jalan tempat sebuah toko bunga berada. Hyera mengerutkan alisnya, berpikir keras apa sebenarnya yang diperhatikan laki-laki ini.

“Ada apa?” tegur Hyera pada akhirnya.

“Apa?” Kyuhyun terkaget.

“Apa yang kaulihat?” tanya Hyera penuh selidik.

“Aku? Aku melihat.. melihat apa, ya? Tidak melihat apa-apa..” jawabnya.

Tak pernah sebelumnya Hyera mendengar Kyuhyun menjawab dengan sebegitu kikuknya. Tapi Hyera memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut dan memilih untuk kembali memikirkan asal-usul bunga itu.

Pagi disaat ia baru saja bangun tidur, bunga itu sudah berada diatas tasnya. Kalau begitu tak ada kemungkinan lain selain orang tuanya-lah yang meletakkan bunga itu. Tapi.. untuk apa? Ulang tahunnya sudah lewat, ulang tahun pernikahan? Kalau memang begitu, harusnya bukan ia yang diberi bunga. Lagipula orang tuanya tak pernah tahu kalau dirinya menyukai bunga. Jadi.. tak ada alasan apapun bagi orang tuanya untuk memberinya bunga.

Saking sibuknya dengan pikirannya sendiri, ia tidak sadar kalau dirinya sudah sampai dirumah, bahkan sedang duduk dipinggir tempat tidur sambil memandangi bunga itu.

Kira-kira apakah ada kemungkinan lain selain orang tuanya?

***

“Cepat bangun, Hyera. Hari sudah beranjak siang.” Ibu Hyera membuka tirai jendela kamar Hyera, hingga sinar matahari masuk dan membuat Hyera langsung terbangun—tepat seperti kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi.

Hyera menyibakkan selimutnya sendiri dengan kesal. Ia bosan tiap pagi dibangunkan dengan kata-kata yang sama, apalagi selalu disaat ia benar-benar sedang menikmati tidurnya.

Ia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.

~

Lagi-lagi. Setangkai bunga. Tapi kali ini bunga matahari.

Setangkai bunga matahari, tanpa plastik pembungkus, tanpa pita. Hanya setangkai bunga cerah yang membuat tasnya terlihat cantik.

Walau merasa bingung, Hyera buru-buru mengambil bunga itu dan memasukkannya di tempat yang sama dengan bunga lili diatas meja belajarnya. Ia takut bunga itu akan layu jika tak mendapat air.

~

Hari ini Hyera memutuskan untuk membatalkan rencana penyerangan seorang dirinya terhadap berandalan dari sekolah tetangga. Lagi-lagi ia memilih memikirkan bunga-bunga itu. Dan dari hasil pemikiran kerasnya, muncul sebuah ide. Ia akan menunggu esok hari, jika muncul bunga diatas tasnya lagi, ia akan melakukan interogasi empat mata dadakan dengan Ibunya.

Waktu berjalan lebih cepat dari yang biasa Hyera lewati. Tapi pikirannya tidak berlalu begitu saja soal bunga-bunga misterius. Ia tak tahu mengapa bunga-bunga yang muncul tiba-tiba dua hari belakangan itu langsung menyita perhatiannya. Sampai rasanya ia ingin lompat ke jurang jika tak kunjung mengetahui siapa yang melakukan hal itu.

Ia memandangi punggung Kyuhyun dari tempatnya duduk—entah untuk apa. Tapi serbuk kuning yang terlihat mengotori seragam Kyuhyun membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan karena penasaran.

Begitu melihat serbuk kuning yang ia tak tahu pasti itu apa, ia jadi teringat serbuk berwarna kuning yang jatuh ke tangannya sendiri saat ingin meletakkan bunga matahari tadi pagi ke dalam vas.

Hyera mulai berpikir, bagaimana jika memang benar kalau Kyuhyun-lah yang memberinya bunga. Tapi bukankah seorang Cho Kyuhyun akan terasa terlalu memaksa jika bisa seromantis itu dengan mengirimkan bunga tiap pagi?

Kyuhyun temannya dengan hobi berkelahi seperti dirinya dan orang misterius yang memberinya bunga. Apa dua orang itu adalah orang yang sama?

***

Pagi ini, Hyera bangun satu jam lebih awal dari biasanya. Dan apa yang ia dapat? Setangkai bunga mawar tanpa duri disisi bantal tidurnya.

Hyera semakin bertanya-tanya, bagaimana semua ini bisa terjadi. Ia pikir mawar tanpa duri hanya ada didalam gambar buatannya saja. Ternyata memang benar-benar ada—setidaknya itulah yang ia lihat.

Setelah meletakkan bunga ketiga itu kedalam vas bunga bersama dua bunga lainnya, Hyera berjalan cepat menuju dapur untuk menemui Ibunya.

“Oh? Putriku sudah bangun? Tumben sekali..” kata Ibunya.

“Ibu, siapa yang meletakkan bunga-bunga itu didalam kamarku?” tanya Hyera tidak sabar. Ia ingin mengetahuinya secepatnya.

“Bunga? Bunga apa?” Ibunya bertanya bingung.

Hyera mencermati mimik wajah Ibunya—memeriksa apakah ada sesuatu yang janggal yang mengindikasikan kalau Ibunya sedang berbohong. Tapi Hyera tak menangkap kejanggalan apapun.

“Ah, yasudah. Kalau begitu dimana Ayah?” Hyera menyilangkan kedua tangannya.

“Ayahmu berangkat lebih pagi hari ini. Lima belas menit yang lalu baru saja berangkat.” jawab Ibunya sambil mengeluarkan selai dari lemari dapur.

Karena tidak bisa mendapat jawaban dari Ibunya dan tak bisa bertanya pada Ayahnya, Hyera berjalan kembali ke kamarnya.

Di kamar, Hyera duduk dihadapan vas bunga berisi tiga tangkai bunga. Otaknya sibuk mengumpulkan berbagai kemungkinan.

Ibunya tidak tahu. Kyuhyun tidak mungkin bisa masuk ke kamarnya. Bertanya pada Ayahnya pun tak bisa. Apa jangan-jangan ada leluhur bunga yang datang ke kamarnya setiap malam?

Hyera memukul kepalanya sendiri. Pikiran bodoh macam apa itu? Mana ada leluhur bunga?!

Ia pergi mandi untuk menenangkan pikirannya yang mulai melayang kemana-mana. Dan terpikir olehnya untuk melupakan misteri bunga dipagi hari itu. Mungkin tak akan masalah kalau ia melupakannya, kecuali kamarnya yang akan berubah jadi taman bunga.

~

Kyuhyun sibuk membalut jari tangannya satu per satu dengan plester luka. Sesekali ia mengumpat kesakitan ketika luka-luka itu terkena hembusan nafasnya sendiri.

“Yaish. Sudah kukorbankan jari-jariku demi gadis itu.” umpatnya.

***

“Ada apa dengan jarimu?” tanya Hyera sambil menatap penuh penasaran jari-jari Kyuhyun yang penuh balutan plester luka.

Kyuhyun buru-buru menyembunyikan jari-jarinya—tidak ingin Hyera melihatnya. “Hanya.. terkena pecahan kaca. Ya, pecahan kaca.” jawabnya.

“Aneh. Padahal sebelumnya kau tidak pernah terluka sampai sepuluh jari begitu.” Hyera menatap curiga pada Kyuhyun.

“Apa masalahmu?” tanya Kyuhyun ketus.

“Aku hanya bertanya. Masih baik aku mengkhawatirkanmu.” Hyera mengerucutkan bibirnya.

“Tidak perlu pedulikan aku.”

Mendengar jawaban Kyuhyun yang seperti itu, Hyera refleks menjitak kepala Kyuhyun.

“Yak! Apa yang kaulakukan?!”

“Memukul kepalamu.” jawab Hyera santai.

“Maksudku untuk apa?! Bukannya aku tidak melakukan apapun padamu?!” seru Kyuhyun kesal.

“Kau bilang aku tidak perlu mempedulikanmu. Tentu saja itu membuatku marah!” balas Hyera.

“Kenapa harus marah? Toh aku hanya sebatas temanmu saja.” kata Kyuhyun dengan nada tinggi.

“Kau bukan hanya temanku, kau itu.. kau itu..” perkataan Hyera terhenti. Ia tak mengerti mengapa mulutnya seakan berbicara sendiri sampai ia bingung apa yang sebenarnya sedang ia katakan.

Kyuhyun tidak menyahut lagi. Kalau boleh jujur, ia ingin tahu apa yang akan dikatakan Hyera selanjutnya.

“Aish, lupakan saja. Membuatku kesal saja.” Hyera mengerutkan dahinya—marah.

Sadar kalau sejak tadi tangannya menenteng sebuah tas kecil, Hyera teringat pesan Ibunya pagi tadi, sebelum ia berangkat.

“Oh iya, Ibuku menitipkan sesuatu untuk Ibumu. Apa Ibumu ada dirumah hari ini?” tanya Hyera pada Kyuhyun, tanpa nada kekesalan sedikitpun, seolah mereka tak pernah bertengkar sebelumnya.

“Ya. Kalau begitu berikan saja padaku.” Kyuhyun membuka telapak tangannya kehadapan Hyera untuk meminta titipan yang dimaksud.

“Tidak bisa. Titipan ini harus langsung sampai ketangan Ibumu—begitu kata Ibuku. Karena itu aku akan berkunjung kerumahmu nanti.” kata Hyera.

“Terserah saja.”

~

“Tunggu di kamarku saja. Sebentar lagi Ibuku sampai.” kata Kyuhyun sembari berjalan ke dapur untuk mengambil minum—hal yang hanya ia lakukan untuk orang-orang terdekatnya.

“Baiklah.” Hyera berjalan menuju tangga dan naik ke lantai 2.

Hyera sudah sering masuk ke kamar Kyuhyun. Tapi tidak demikian sebaliknya. Kyuhyun tak pernah masuk ke kamarnya walau sudah berkali-kali Hyera bilang tidak apa-apa. Mungkin karena laki-laki itu menghormatinya sebagai wanita. Itu salah satu ciri Kyuhyun.

~

Bungkusan berantakan yang ada diatas meja belajar Kyuhyun menarik perhatian Hyera. Ia mengambilnya lalu duduk dipinggiran tempat tidur Kyuhyun. Begitu ia membukanya, ia langsung menjerit ketika sesuatu yang tajam melukai jari telunjuknya.

Langkah kaki yang sangat cepat terdengar dari luar kamar dan Kyuhyun langsung membuka pintu kamarnya. Dengan cepat ia menghampiri Hyera dan menghisap jari telunjuknya begitu melihat ada darah yang keluar.

Hyera terdiam dengan hal itu. Bukan karena teriakan spontannya yang tidak biasa, tapi karena sikap Kyuhyun yang mengejutkan. Laki-laki itu bisa dengan cepat lari keatas dan membalut lukanya dengan plester yang sama dengan yang ada dijari laki-laki itu.

“Itu duri darimana?”  tanya Hyera sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat. Duri-duri tanpa inang itu mengingatkannya pada bunga mawar tanpa duri yang ia terima tadi pagi.

Kyuhyun menyingkirkan duri-duri itu dalam diam. Ia belum menjawab pertanyaan Hyera, dan sama sekali tidak menatap gadis itu.

“Bukan apa-apa. Maaf karena duri ini telah melukaimu. Aku benar-benar lupa membuangnya.” kata Kyuhyun.

Hyera terdiam sejenak. Ia memperhatikan Kyuhyun yang sejak tadi tidak berani menatapnya. Dan sebuah kesimpulan muncul ke permukaan, “Kau yang mengirimiku bunga tiga hari belakangan ini?”

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti. Hanya sejenak, setelah itu ia membuang satu duri yang tersisa dilantai, lalu menatap Hyera. “Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Aku melihat serbuk kuning yang sama di jas seragam sekolahmu dengan yang ada di bunga matahari. Lalu hari ini, bunga tanpa duri. Jarimu terluka dan ada banyak duri dikamarmu. Bukankah terlalu kebetulan kalau semua ini terjadi diluar kesengajaan?”

“Jangan bodoh, Hyera. Serbuk kuning apa? Sudah kubilang jariku hanya terkena pecahan kaca.” jawab Kyuhyun.

“Kaca apa?”

“Itu tidak penting.” Kyuhyun pergi keluar kamarnya, menutup pintu.

Hyera keluar dari kamar itu, dan tidak melihat sosok Kyuhyun lagi.

***

“Ibu, tolong jawab yang sesungguhnya. Darimana bunga-bunga itu berasal?” tanya Hyera untuk kesekian kalinya dalam lima belas menit terakhir.

Sejak limabelas menit yang lalu, Hyera menanyai Ibunya tentang bunga-bunga itu. Karena melihat Ibunya yang terlihat semakin salah tingkah, Hyera semakin gencar bertanya.

“Ibu..” Hyera memohon.

“Aahh.. Baiklah, baiklah. Kyuhyun. Dia minta tolong pada Ibu untuk menaruh bunga-bunga itu dikamarmu.” jawab Ibu Hyera tanpa menatap putrinya itu.

Hyera berlari keluar, meninggalkan Ibunya yang kebingungan dengan tingkah Hyera.

~

“Kyuhyun tidak ada dirumah. Dia belum pulang sejak sore tadi.”

Hyera berlari lagi, menuju sebuah tempat yang tak jauh dari sana.

~

Hyera melihat Kyuhyun disana, di taman kecil pinggir jalan. Sosok tinggi itu terlihat mengagumkan ditengah cahaya lampu mobil yang berlalu-lalang.

Matahari sudah terbenam lima menit yang lalu. Lampu taman sudah dinyalakan, walaupun tak ada orang lain selain laki-laki itu disana.

Hyera mendekat perlahan-lahan. Ia mendekat dari belakang—belakang punggung Kyuhyun.

“Bunga lili, bunga matahari, dan bunga mawar tanpa duri. Apa artinya?” tanya Hyera, tanpa mengharap jawaban apapun.

Bahu Kyuhyun mendadak kaku, terlebih saat menyadari Hyera sudah berdiri disampingnya. Hyera bisa melihat wajah Kyuhyun yang merona saat menjawab, “Tidak tahu.”

“Lalu mengapa kau memilih bunga-bunga itu?” tanya Hyera lagi.

Kyuhyun memalingkan wajahnya, walaupun Hyera masih bisa dengan jelas melihat semburat merah diwajahnya.

“Sudah kubilang tidak tahu. Aku tidak mengerti bunga.” jawabnya sok ketus.

“Kau tahu? Aku senang karena itu benar-benar kau. Walaupun sedikit gila membayangkan seorang Cho Kyuhyun bisa mengirimiku bunga setiap pagi.” Hyera terkekeh.

Kyuhyun masih memalingkan wajahnya. Apa-apaan gadis itu menyebutnya gila?

“Kau romantis, Kyu.” Dengan kalimat itu, Kyuhyun langsung menoleh. Dan ia langsung dikejutkan dengan tingkah Hyera. Hyera menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun, membuat Kyuhyun sedikit salah tingkah.

“Sejak kapan kau sudi menyebut kata romantis?” kata Kyuhyun, lagi-lagi dengan sok ketus.

“Karena itu kau.” jawab Hyera sambil tersenyum. Ia tidak mengerti dengan perasaan yang sedang menjalari hatinya, sejak kapan, karena apa, dan mengapa, ia tak tahu. “Aku juga menyukaimu.”

“Apa? Juga? Memangnya siapa yang menyukaimu?”

“Kau. Kubilang aku suka bunga. Dengan memberiku bunga padahal jelas-jelas kau benci bunga, itu sudah cukup menjelaskan fakta bahwa kau menyukaiku. Dan.. terima kasih sudah mengorbankan sepuluh jarimu untuk setangkai mawar tanpa duri.” kata Hyera percaya diri. Ia masih merasa nyaman bersandar di bahu Kyuhyun setelah kelelahan berlari menuju taman ini.

“Cih, kau terlalu percaya diri.” dengus Kyuhyun.

“Biar saja. Toh memang itu kenyataannya.”

Akhirnya Kyuhyun ikut tersenyum. Ia tak menyangka semudah ini gadis itu membongkar semua rahasianya. “Sama-sama. Lain kali kau juga harus mengorbankan sesuatu untukku.” katanya.

Hyera tertawa kecil mendengarnya. Akhirnya laki-laki ini mengaku juga, batinnya.

“Jangan beritahu siapapun soal ini.” kata Kyuhyun.

“Aku mengerti. Hahaha..” Hyera tertawa mendengar permintaan Kyuhyun.

“Jangan tertawa. Memalukan kalau sampai ini terbongkar.”

“Ya, ya, ya.”

Hening beberapa saat, barulah suara Kyuhyun terdengar, “Aku menyukaimu.”

Hyera terkekeh. Ini pertama kalinya Kyuhyun bisa begitu terus terang dengan kata-kata.

“Aku juga.”

♥END♥

Advertisements

2 thoughts on “Morning Flower

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s