The Lost Letter

Notes : Akhirnya ada yang bisa di post-_- Fiuhh.. dengan ide yang muncul pas ada angin, jadilah one-shot pendek ini u,u Ini dia.. Maaf posternya kocak editannya-_-“

The Lost Letter

***

Kyuhyun melangkah santai di koridor sekolah lamanya. Tak banyak yang berubah, pikirnya.

Kakinya menuntunnya masuk ke dalam sebuah kelas. Kelas yang ia tempati 7 tahun yang lalu. Bangku paling depan, barisan kedua dari kiri adalah tempat duduknya.

Masih dengan kursi yang sama dengan coretan nama ‘HandsomeKyu’, ia duduk disana, berpura-pura bersikap seolah ia adalah Cho Kyuhyun siswa SMA tahun ketiga.

Tanpa ada niatan tertentu, Kyuhyun berjalan menuju sebuah bangku disudut kelas. Seingatnya, dulu bangku itu ditempati seorang gadis pendiam, berkacamata tebal, dengan rambut panjang. Gadis yang selalu terlihat gugup, terlebih lagi saat berbicara dengannya.

Di permukaan meja berwarna putih itu, terdapat sebuah celah, seperti bekas goresan—tapi bukan, juga merupakan celah kecil yang hanya cukup untuk selembar atau dua lembar kertas.

Ya, seseorang telah menyelipkan selembar kertas disana. Entah sengaja atau tidak. Kertas itu tak begitu kentara hingga tak akan ada yang menyadarinya kecuali benar-benar diteliti. Seperti Kyuhyun.

Kyuhyun merasa penasaran dengan kertas usang itu. Diambilnya dengan susah payah kertas itu dari celah yang sebegitu kecilnya.

Setelah usaha yang cukup keras, kertas itu berhasil dikeluarkan. Kertas yang sudah sangat usang dan telihat rapuh sampai rasanya akan langsung sobek kalau saja Kyuhyun tak membuka lipatannya dengan hati-hati.

Ini surat tentang cintaku.

Saat melihat tulisan di baris pertama itu, jujur, Kyuhyun tak begitu tertarik untuk membacanya lebih lanjut. Tapi.. entahlah. Kali ini ia rasa ia akan tetap membacanya.

Aku selalu memikirkan mengapa aku harus menyukainya. Saat pertama melihatnya, tanpa tahu bagaimana sifat atau asal-usulnya, aku berani mengakui, aku jatuh hati padanya. Memang aku tak pernah mengakui secara lisan dan langsung, karena kupikir tak penting apa ia tahu atau tidak.

Hari itu, dalam perjalanan setelah pulang sekolah, ditengah jalan sempit yang sepi, angin berhembus menerpa wajahku. Saat itu aku berpikir, mungkin aku bias meminta sesuatu pada Tuhan lewat angin ini.

Karena itu, aku mengangkat wajahku. Menengadahkan kepala, dan berucap dalam hati sambil tersenyum, “Lewat senyum ini, tolong sampaikan padanya bahwa aku menyukainya.”, berharap angin akan membawa doaku dan mengabulkannya.

Semakin lama, aku tak tahu mengapa rasaku padanya semakin dalam. Padahal kalau mengingat bagaimana popularitasnya di sekolah, aku sama sekali tak pantas menyukainya.

Bahkan saat laki-laki itu pergi selama beberapa hari hingga aku tak bias melihat wajahnya, aku merasa aku mulai merindukannya.

Di sudut lorong lantai paling atas disekolah, aku berdiri sendirian di balkon. Angin sepoi-sepoi berhembus, menyapaku, seolah menanyakan apa permintaanku kali ini. Dan aku tersenyum, memejamkan mata, dan berbicara pada angin dalam hati, “Lewat senyum ini, tolong sampaikan padanya bahwa aku merindukannya.”

Angin itu berbalik arah, seakan mereka berangkat untuk membawa pesanku. Haha, aku merasa bodoh jika mengingat diriku yang suka menganggap semua yang tak hidup menjadi hidup.

Hari ini, aku menulis surat untuk angin, juga untuk bagian dari alam yang lain serta Tuhan, yang pernah mendengar permintaan-permintaanku. Di hari kelulusan ini, di meja ini, di kelas ini.

Setelah resmi lulus, laki-laki itu akan pindah ke luar negeri. Itu membuatku takut dan marah sekaligus. Takut aku akan merasa terpuruk karena terlalu merindukannya, dan marah pada diriku sendiri karena kebodohanku dengan tidak pernah menyatakan perasaan ini. Aku tak tahu kapan dia akan kembali atau apakah dia akan kembali, jadi tak ada jaminan aku bias mengatakannya di lain waktu.

Dengan surat ini, tanpa harus berbicara pada angin, aku meminta pada Tuhan, “Lewat surat ini, tolong sampaikan padanya bahwa aku mencintainya. Aku mencintai laki-laki bernama Cho Kyuhyun.”

Seoul, 7 Mei 2006
Ditulis oleh ‘Gadis Pojok Kelas’

P.S : Kyuhyun sering memanggilku dengan ‘gadis di pojokan kelas’.

Kyuhyun terpaku ditempatnya. Membeku, tak bergerak. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Benarkah surat ini ditulis dikelas ini, dimeja ini, oleh gadis berkecamata itu?

Ia sendiri tak bisa memastikan, tapi sesuatu telah meyakinkannya. Dari nama ‘Cho Kyuhyun’ yang ditulis di surat itu, dari tahun yang tercantum—tepat 7 tahun yang lalu, juga dari sebutan ‘Gadis Pojokan Kelas’ yang memang adalah julukannya untuk gadis itu, jelas sekali ini ditulis oleh gadis yang sama.

Kyuhyun tak menyangkanya, kalau kunjungannya ke sekolah ini akan memberikan sebuah barang kenangan untuk disimpan. Ia juga punya hak atas surat ini, kan? Anggap saja ini surat cinta untukku, batinnya.

“Hey.”

Kyuhyun tersentak. Begitu dia menoleh, seseorang berwajah ramah dengan janggut tipis di dagunya yang sudah sangat akrab bagi Kyuhyun muncul dihadapannya.

“Park seonsaengnim!” Kyuhyun berseru girang melihat guru kesayangannya itu.

Guru Park tertawa melihat reaksi Kyuhyun. Ia merangkulnya sambil bertanya, “Apa yang kau lakukan sendirian di pojok kelas seperti ini?”

Kyuhyun memandang kertas usang yang ada ditangannya, dan berinisiatif menanyakan sesuatu daripada menjawab pertanyaan barusan. “Maaf, apa seonsaengnim ingat dengan gadis berkacamata dan pendiam yang sekelas denganku? Dulu ia selalu duduk disini.” Ia menunjuk meja disampingnya.

“Oh? Hahaha,, tentu aku mengingatnya. Ada apa?”

“Mmm.. Ini.. Apa seonsaengnim tahu sesuatu tentangnya.. maksudku.. seperti pekerjaannya, mungkin?” Kyuhyun bertanya, ragu apakah ia akan mendapat jawaban yang memuaskan.

“Anak itu.. Ah, aku sendiri bingung dengannya. Jadi sarjana dengan nilai terbaik, dia justru memutuskan untuk menjadi seorang guru.” kata Guru Park, prihatin.

“Guru?”

“Ya, guru.” Guru Park mengulangi. ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dia mengajar disini.”

“Apa?! Disini?” Mata Kyuhyun membelalak. Guru Park sampai bingung dengan reaksi berlebihan itu. “Dia masih disini sekarang?” tanya Kyuhyun dengan lebih tenang.

“Biasanya iya. Dia selalu pulang terakhir. Entah apa yang dikerjakannya. Ia selalu berkutat dengan buku catatan dan pulpennya di meja kerjanya, dan tak membiarkan seorangpun melihat isi buku catatannya. Aku hanya takut ia punya kelainan, hahaha..” Guru Park bergurau diakhir perkataannya.

Dengan bersemangat, Kyuhyun berppamitan dengan sesopan mungkin para Guru Park, dan berlari menuju ruang guru. Ia sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya begitu bersemangat.

~

Ya, benar. Masih dengan kacamata yang berbingkai hitam, gadis itu duduk diam dikursinya, sibuk menulis sesuatu.

Perlahan, Kyuhyun mendekati meja kerja itu, meja yang selalu berantakan. Sejak dulu meja gadis itu selalu penuh dengan buku.

Selama beberapa detik, Kyuhyun berdiri tepat didepan meja gadis itu, memperhatikannya. Sedangkan gadis itu sendiri tak bergeming, sama sekali tak menyadari keberadaannya.

“Milikmu.” kata Kyuhyun sambil menyodorkan kertas yang sejak tadi digenggamnya ke hadapan gadis itu.

Tak ada reaksi selama beberapa waktu. Gadis itu sudah menghentikan kegiatannya, lalu terdiam. Seakan di slow motion, dengan perlahan gadis itu mengangkat wajahnya, dan seketika ia merasa nafasnya berhenti begitu melihat siapa yang berdiri didepannya.

Ia terus diam, terlalu shock hingga pulpen ditangannya langsung terjatuh.

Kyuhyun tersenyum. Benar-benar gadis yang sama. Matanya yang menerawang, juga ekspresi yang sulit ditebak.

Jari-jari yang gemetar itu, pelan-pelan meraih kertas usang yang disodorkan padanya. Air matanya jatuh saat menatap kertas itu, walau hanya setetes. Kertas itu mengingatkannya pada suasana perasaan cinta seorang gadis SMA, dirinya. Bodohnya waktu itu ia lupa dimana ia meletakkan kertas itu.

Si gadis mengangkat wajahnya, menatap Kyuhyun tanpa mengucapkan apapun. Ternyata laki-laki ini masih sanggup membuatnya merasa gugup. Padahal semenjak menjadi guru, berdiri didepan ratusan orang pun ia tidak akan gugup.

Kyuhyun menepuk pelan bahu gadis itu tanpa canggung, lalu berkata lembut penuh ketulusan, “Akhirnya kau berhasil menyatakannya. Yah, walaupun sudah tujuh tahun berlalu.”

Kemudian gadis itu tersenyum—ditengah kegugupannya.

Ternyata cinta punya caranya sendiri agar dapat tersampaikan.

FIN

Advertisements

9 thoughts on “The Lost Letter

  1. Hueee.. Yaaa, bikil berchapter dong, manis bgt ni cewek…
    Aku penasaran bgt sama sikapnya kalo dia jadi pasangan kyu.
    Jarang baca ff berchapter romance kyu,yang cweknya tipe kaya gini. Rata2 pada bringas hehe

  2. keren kereeeenn~
    daebak !! Haha
    suka jalan ceritanya, bahasanya juga bagus, jd berasa nonton K Movie, XD
    semoga aja ada sequelnya, XD

    Ohya, aku reader baru di WP ini..numpang baca” ffny ne thor 😉
    keep writing 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s