I Became A Hero

I Became A Hero

Cast : Kim Heechul (Super Junior)—17 years old, Kim Joonhee (As Heechul’s younger brother)—7 years old, Anna (As Heechul’s and Joonhee’s mother), Dr. Kim (Cameo)

Genre : Family

Notes : Ini fanfiction pertama aku yang memakai Heechul sebagai tokoh utamanya. FF ini terinspirasi dari lagu yang aku denger waktu kondangan, tapi gak tau judulnya apa._. Maaf kalau masih jelek^^

Also published in http://superjuniorff2010.wordpress.com

***

Apa jadinya kalau saat itu aku tidak membentaknya?

Pasti tidak akan jadi begini

Kumohon, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku

Aku menyayanginya..

***

Hasilnya akan sama saja

Ini akan tetap terjadi karena ini adalah takdir

Jangan salahkan dirimu sendiri,

Ia bilang kau tetap pahlawannya

Karena kau sudah bisa membuatnya tersenyum ditengah penderitaan

Walaupun hanya sekali, pasti itu sudah cukup baginya

Ia pun menyayangimu juga..

***

Author POV

“Hyung..” suara kecil yang manis namun mengganggu menurut Heechul itu tiba-tiba terdengar. Dengan senyum polosnya, Joonhee memeluk lengan Heechul sambil menatap hyung-nya itu.

“Apa?” Heechul berkata ketus. Ia masih berkonsentrasi dengan drama yang sedang ditontonnya di televisi.

“Hyung..” Joonhee memanggil lagi. Sekarang sambil menarik-narik lengan pakaian yang Heechul kenakan.

“Apa?! Cepat katakan atau berhenti menggangguku!” bentak Heechul. Ia mulai kesal karena acara santainya harus diganggu.

Akhirnya Joonhee melepaskan pelukannya pada lengan Heechul dan bangun perlahan dari sofa. Senyum manisnya hilang sudah, tergantikan oleh matanya yang mulai berkaca-kaca.

Joonhee terus berjalan mendekati kamarnya sampai Ibunya duduk berlutut dihadapannya dan membuat Joonhee berhenti melangkah.

“Kau kenapa, Joonhee?” tanya Ibunya sambil membelai rambut Joonhee lembut.

“Tidak apa-apa, eomma.” jawab Joonhee pelan.

“Mau main dengan hyung-mu?” Ibunya bertanya lagi. Ia semakin khawatir pada Joonhee ketika Joonhee tidak juga mengangkat kepalanya yang tertunduk.

“Tidak. Heechul hyung sedang tidak ingin diganggu.” kata Joonhee sambil mengusap matanya, menghapus air mata. Ia tidak mau membuat kakaknya itu dimarahi Ibu lagi karena tidak menghiraukannya tadi. “Joonhee mau main di kamar saja.”

Melihat sikap anaknya, Anna tahu pasti Heechul baru saja membuat Joonhee merasa sedih. Segeralah dihampirinya remaja yang sedang hanyut dalam cerita di televisi itu.

“Ya, dasar anak nakal. Sudah berapa kali eomma bilang, jangan pernah mengacuhkan Joonhee!” omel Anna.

“Aku tidak mengacuhkannya. Anak itu menggangguku dan memanggil-manggilku tanpa mengatakan permintaannya..” sahut Heechul tidak peduli.

“Yak! Siapa yang kau sebut ‘anak itu’?! Dia itu adikmu, kenapa kau menyebutnya seolah-olah dia orang asing?!” Anna mulai naik darah.

“Memangnya kenapa kalau dia adikku? Jangan karena dia memiliki penyakit, seluruh perhatian selalu ditujukan untuknya. Aku juga seorang anak dirumah ini.” kata Heechul datar. Perhatiannya tak lagi terpusat pada televisi, namun hanya menatap kosong kedepan dengan sinar kemarahan yang jelas nampak dimatanya, rasa marah yang selalu ia pendam.

“Joonhee jadi seperti ini pun bukan salahnya! Ia tak bisa memilih, Heechul. Kita tidak tahu sampai sepanjang apa umurnya jika ia tidak juga mendapat transplantasi jantung. Tidakkah kau merasa sayang jika ia harus mengakhiri hidupnya di usia yang sangat muda?” Mata Anna mulai berkaca-kaca.

“Bukan urusanku.” Heechul berkata datar dan langsung pergi meninggalkan Ibunya.

Suara isak tangis kecil terdengar dari balik pintu kamar yang setengah terbuka. Menyadari itu adalah suara Joonhee, Anna bergegas masuk ke kamar anak itu.

“Joonhee, kenapa kau menangis?” tanya Ibunya lembut.

Joonhee berusaha berhenti menangis dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya. “Aku tidak menangis..” sangkalnya. Ia berjalan, meraih mainan robot-robotannya, lalu duduk membelakangi Ibunya.

Anna mengerti, sesungguhnya ia tak perlu bertanya mengapa Joonhee menangis, karena ia tahu Joonhee menangis karena mendengar perkelahian kecil barusan. Ia keluar dari kamar itu, membiarkan Joonhee sendirian.

Pintu sudah tertutup, menandakan Anna sudah keluar dari kamar.

“Joonhee tidak mau menyakiti Heechul hyung. Joonhee menyayanginya..” Joonhee berbisik ditengah isak tangisnya.

***

Anna tersenyum ketika melihat Joonhee tertawa saat menonton kartun kesukaannya. Ia bersyukur anaknya bisa menjalani hari seperti biasanya tanpa mengingat-ingat kejadian kemarin.

“Heechul hyung, ayo temani Joonhee nonton kartun..” ajak Joonhee pada Heechul yang lewat didepan televisi.

Heechul hanya melirik sekilas kemudian berlalu begitu saja.

Joonhee tidak lagi tersenyum begitu mendapat tanggapan dari kakaknya.

Anna yang melihat hal itu langsung terdiam. Bukankah Heechul juga menerima perhatian yang sama seperti Joonhee? Mengapa laki-laki itu membenci adiknya?

Anna meninggalkan pekerjaannya di dapur sebentar dan keluar menyusul Heechul. Ternyata anak itu duduk diam ditangga depan rumah mereka.

“Heechul..” panggilnya.

Heechul tak menjawab, seperti biasa.

“Kau menyayanginya?” tanya Anna.

Tak ada tanggapan juga. Heechul hanya diam sambil menatap kosong kedepan, seperti memikirkan sesuatu.

“Dia menyayangimu, Heechul. Kau tahu itu. Jadi bisakah kau bersikap layaknya seorang kakak terhadapnya? Itu akan membuatnya merasa senang dan melupakan penyakitnya..” Anna berkata sambil menatap tanah dibawahnya.

“Aku membencinya.” kata Heechul singkat.

“Mengapa? Eomma takut, kalau dia tidak memiliki semangat lagi, bisa-bisa dia berakhir seperti Appa-nya..” Pandangan Anna menerawang, mengingat-ingat ketika suaminya dilarikan ke rumah sakit dan ternyata sudah tidak sempat diselamatkan lagi.

Mendengar Appa-nya disebut-sebut, Heechul langsung berdiri, kembali masuk kedalam rumah. Ia tidak mau menangis, dan kemudian Ibunya akan memeluknya. Konyol. Ia bukan anak kecil lagi.

Heechul masuk ke kamarnya, lalu duduk disamping jendela. Pikirannya melayang, kembali ke masa ketika ia berumur 15 tahun.

Saat itu ia mendapat nilai terbaik dikelasnya untuk simulasi ujian kelulusan. Dengan gembiranya ia berlari pada Ibunya sambil mengibarkan kertas yang ia bawa.

Tapi apa yang ia dapat? Hanya perkataan singkat, “Nanti saja, Heechul. Eomma harus menyuapi Joonhee.”

Menyuapi? Memangnya tidak bisa, ya, tersenyum lalu mengucapkan selamat?

Heechul mengepalkan tangannya. Walau sudah dua tahun berlalu, namun rasa marah yang ia rasakan waktu itu tak pernah hilang. Saat itulah titik awal dimana segalanya membuat sikapnya berubah.

Piala yang terletak didalam rak tertutup kaca disudut kamarnya mengingatkannya pada peristiwa setahun yang lalu. Di saat ia mendapat juara dua lomba menyanyi, dan ia pulang sambil menenteng piala itu, Ibunya bahkan tak meliriknya. Apalagi mengucapkan selamat.

Heechul membuang pandangannya keluar jendela. Sebuah pohon besar yang dulu sering sekali dipakai untuk piknik olehnya dan kedua orang tuanya. Tentunya sebelum Joonhee lahir dan Ayahnya meninggal.

Kini pohon itu selalu kosong. Tak pernah ada tikar dan keranjang piknik lagi. Hanya sesekali Ibunya berada disitu untuk membersihkan rumput-rumput liar.

Tak ada yang abadi, begitupun halnya dengan kasih sayang.

***

Sore ini Heechul baru saja pulang dari sekolah. Melihat pintu kamarnya yang biasanya tertutup rapat kini terbuka, Heechul menyernyit. Siapa yang berani memasuki kamarnya? Ibunya sendiri juga tahu Heechul tak suka jika kamarnya dimasuki tanpa seizinnya.

Bunyi barang jatuh disusul suara pecahan barang membuat Heechul otomatis berlari menuju kamarnya.

Ia kesal. Ia marah. Ingin rasanya ia memukuli anak itu.

Piala-piala hasil perlombaan yang ia ikuti dan tersimpan rapi di rak kaca, jatuh dan hancur berantakan. Dan Joonhee berdiri disana sambil menatap ke serpihan-serpihan emas itu.

“Pergi! Keluar dari kamarku!!” Heechul menyeret dan mendorong Joonhee keluar dari kamarnya sampai terjatuh dilantai.

Heechul keluar dari kamarnya dan kembali menyeret Joonhee sampai ke ruang tamu.

“Apa yang kau lakukan??!! Sudah berapa kali kubilang padamu jangan pernah masuk ke kamarku sebelum aku member izin!?” Heechul mendorong kepala Joonhee dengan jari telunjuk.

Joonhee tidak melawan, ia menunduk. Ia menyesal. Tidak seharusnya tadi ia masuk ke kamar kakaknya hanya karena ingin melihat-lihat. Sambil menahan tangis, Joonhee masih menunduk, tidak berani menatap Heechul yang marah besar.

“Kau tahu seberapa sulitnya mendapat semua penghargaan itu?!” tanya Heechul dengan keras.

“Maaf, hyung. Joonhee tidak sengaja..” kata Joonhee pelan. Sungguh, ia tak bermaksud membuat kakaknya marah seperti ini.

“Kalau ceroboh tidak usah sok melanggar peraturan! Dasar bocah bodoh!” Heechul menoyor kepala Joonhee lagi.

“Heechul! Apa-apan kau ini?!!” Anna datang dengan tergesa dan langsung memeluk Joonhee yang sudah tidak tahan ingin menangis.

“Nah! Dunia memang sudah terbalik. Dia memecahkan semua piala penghargaanku dan sekarang malah aku yang ditanyai?!” Heechul berkata dengan keras sambil mengarahkan telunjuknya dengan tajam pada Joonhee, kemudian ia langsung berlari keluar.

***

Aku benci mereka semua.

Selalu kalimat itu yang ia ucapkan dalam hatinya berkali-kali. Rasa sayang sudah lama hilang dari dirinya.

Sejak beberapa waktu lalu Heechul hanya berjalan mengelilingi kota tanpa tahu ingin pergi kemana. Sekarang yang penting adalah keluar dari rumah dan mencari sesuatu untuk menenangkan diri.

Sebuah restoran diantara deretan pertokoan yang sedang ia lewati membuat langkahnya terhenti.

Tepat diseberang kaca tempat Heechul berdiri, sebuah keluarga yang terdiri atas Ayah, Ibu, satu anak remaja dan satu lagi anak kecil, makan bersama dan sesekali tertawa ketika salah satunya bicara sesuatu.

Cukup lama Heechul berdiri disana memperhatikan orang-orang itu.

Jumlahnya sama seperti keluargaku, pikirnya. Dulu, koreksinya.

Akhirnya ia memutuskan untuk tak berlama-lama berdiri disitu dan melanjutkan langkahnya. Ia tidak peduli sampai berapa jam yang akan ia habiskan untuk jalan-jalan. Ia hanya merasa perlu pencerahan.

Rasa kesalnya sedikit-demi sedikit menguap. Mungkin karena disekitarnya sangat ramai dan bisa mengalihkan rasa marahnya.

“Cepat panggilkan ambulans! Adikku sekarat!” teriakan itu menghentikan langkahnya lagi. Suara seorang laki-laki, sepertinya masih remaja.

Keadaan disekeliling mulai ribut. Heechul sempat melihat seorang remaja dengan seragam sekolah yang sedang memangku anak kecil yang tak sadarkan diri, sebelum orang-orang mengerubunginya.

Walau sedikit penasaran, Heechul justru menjauh dari kerumunan itu. Ia pikir itu bukan urusannya.

Heechul terus berjalan. Terus dan terus sampai ia memasuki sebuah jalan diantara perumahan yang lumayan sepi.

“Eomma…” suara seorang anak kecil terdengar oleh Heechul.

Ia berjalan ke sebuah tikungan jalan dan menemukan seorang anak laki-laki yang sedang menangis. Tanpa sadar ia bergerak mendekatinya, lalu duduk berlutut untuk menyamakan tingginya dengan anak kecil itu.

“Kau kenapa?” tanya Heechul sambil membelai pelan rambut anak itu.

Perlahan anak itu menurunkan tangannya yang sebelumnya menutupi wajahnya, dan menatap Heechul dengan matanya yang basah.

“Teman-temanku meninggalkanku. Mereka tidak mau menemaniku bermain lagi..” kata anak itu.

Untuk sekejap Heechul merasa seperti sedang melihat Joonhee. Ia baru sadar kalau selama ini Joonhee selalu berada di rumah dan bermain sendiri. Dia tak punya teman.

Heechul terdiam sebentar, baru ia berkata “Oh, begitu ya? Tenang saja, kau masih bisa cari teman yang lain. Jangan menangis, pasti banyak yang mau berteman denganmu selain mereka. Kau mau permen?” Heechul mengeluarkan tiga bungkus permen warna-warni dari saku celananya. Untung dia punya permen.

Anak itu mengambil permen itu dengan ragu. “Terima kasih. Adik kakak pasti senang mempunyai hyung seperti kakak.” kata anak itu dengan polosnya sambil menghapus air matanya.

“Sekarang kau mau kemana? Biar kakak temani.” tawar Heechul sambil tersenyum.

Anak itu menggeleng, “Tidak usah. Aku mau pulang saja. Sekali lagi terima kasih sudah membuatku merasa lebih baik.” Ia membungkuk dan berlari menuju rumahnya.

Heechul menatap punggung anak itu sampai menghilang dibalik tikungan jalan.

Adiknya.. apa yang sedang dilakukannya sekarang?

Tiba-tiba Heechul teringat sesuatu tentang penyakit adiknya. Baru saja Heechul memarahinya. Itu pasti memberikan sebuah tekanan. Dan penyakit jantung bisa kambuh karena tekanan batin.

Heechul berlari. Ia berlari terus. Ia sudah tak peduli dengan apapun yang dilewatinya, ditabraknya. Ia hanya merasa harus segera sampai dirumah. Secepatnya, sebelum hal yang tak ia inginkan terjadi.

***

“Joonhee!”

Begitu sampai didepan pintu, hampir saja ia tak kuat lagi berlari. Tapi pemandangan dihadapannya sekarang membuatnya tak lagi memikirkan yang namanya rasa lelah.

Joonhee, adiknya, terduduk dilantai sambil meremas taplak meja dan memegangi dadanya. Sepertinya belum berlangsung lama, karena Ibunya belum mengambil tindakan apapun.

Dengan gesit Heechul berlari mendekati Joonhee, menggendongnya dan mengatakan pada Ibunya untuk ikut.

Ia membawa Joonhee secepat mungkin keluar. Taksi pertama yang berhenti dihadapannya langsung ia hentikan. Ia masuk bersama Joonhee dan Ibunya duduk disamping kemudi.

Ibunya langsung mengatakan pada supir taksi untuk pergi ke rumah sakit. Dan taksi itu melaju dengan kecepatan tinggi.

Tolong.. Selamatkan dia..

Untuk pertama kalinya Heechul menangis karena Joonhee.

***

Joonhee langsung dibawa bersama ranjang rumah sakitnya. Heechul terus berlari menyamai kecepatan ranjang yang didorong menuju UGD.

Ia menangis. Dan ia benar-benar takut.

Langkahnya dihentikan begitu ranjang sudah memasuki ruangan. Ibunya langsung terduduk di kursi tunggu dan menangis keras sambil menutup wajahnya.

Heechul duduk disamping Ibunya dan memeluknya. Semuanya pun sudah tak memikirkan perubahan sikap Heechul. Mereka hanya memikirkan nasib anak dalam ruangan itu.

***

Dokter sudah keluar dari ruangan, dan langsung menemui Heechul dan Ibunya. Dr. Kim, dokter yang bersahabat baik dengan Ayah Heechul.

“Keadaannya belum bisa dibilang baik, tapi ia sudah bisa dijenguk.” kata Dr. Kim. Ia mempersilahkan Heechul dan Anna masuk.

Anna langsung berlari dan berlutut disamping ranjang Joonhee. Ia menangis sangat keras.

Sementara Heechul, ia hanya berjalan perlahan seolah ia baru saja belajar berjalan. Heechul bahkan hampir tak kuat melangkahkan kakinya ketika melihat adiknya terbaring lemah bersama alat-alat medis ditubuhnya.

Perlahan tapi pasti, Heechul duduk berlutut disisi ranjang satunya. Ia membelai lembut rambut Joonhee, sama seperti tadi ia membelai rambut anak yang ia temui di jalan. Ah, tidak, mungkin kali ini lebih dengan kasih sayang. Tulus dari seorang Kim Heechul.

“Joonhee, coba tebak, ada siapa disini?” Ibunya sudah berhenti menangis, dan bertanya demikian pada Joonhee yang masih tak sadarkan diri.

Kelopak mata Joonhee bergerak-gerak, kemudian terbuka. Heechul dan Anna terkejut bukan main.

“Joonhee? Kau dengar Eomma?” Ibunya meraba pipi mungil Joonhee.

Joonhee mengangguk perlahan. Agak sulit bergerak karena alat-alat medis itu hampir mengunci tubuhnya yang kecil. Ia menoleh ke kanan, tempat Heechul berada.

Mata Joonhee berbinar, walau jelas itu adalah sorot mata orang sakit. Bibirnya membentuk senyum. Senyum gembira. Gembira karena ternyata Heechul masih peduli padanya.

“Heechul hyung?  Hyung menemani Joonhee?” Joonhee bertanya tak percaya.

Heechul tersenyum, walaupun hatinya menangis. Bahkan dalam keadaan seperti ini adiknya masih bisa tersenyum padanya.

Joonhee berusaha mengangkat kedua tangannya, ia ingin memeluk kakaknya.

Heechul mengerti dan ia memajukan tubuhnya dan memeluk Joonhee.

Anak itu tertawa kecil, saking gembiranya. Ternyata pelukan kakaknya nyaman sekali.

“Terima kasih, hyung. Tadi hyung sudah mau membawa Joonhee ke rumah sakit.” kata Joonhee lemah.

Heechul mengangguk dalam pelukan itu. Bahunya berguncang karena ia sudah tak bisa menahan tangis.

Ia tidak menyangka adiknya masih segembira ini ketika melihatnya, padahal mungkin sudah tak terhitung berapa kali ia membentak anak ini.

Joonhee,walaupun ia hanya anak kecil, dan ia tak tahu mengapa kakaknya menangis, mengelus pelan punggung kakaknya.

Pelan-pelan Heechul melepaskan pelukannya. Ia takut akan membuat Joonhee sulit bernafas.

“Kalau hyung tidak datang dan menggendongku, mungkin aku akan meninggal beberapa waktu lebih cepat. Hyung seperti superman yang datang menyelamatkan orang. Mulai sekarang hyung adalah pahlawan untuk Joonhee.” kata Joonhee.

“Tentu. Hyung akan menjadi pahlawanmu.” kata Heechul. Matanya terus mengeluarkan air mata tanpa henti.

“Tapi sepertinya hyung tidak bisa melakukan aksi seperti tadi lagi. Karena aku tidak akan disini lagi.” kata Joonhee polos sambil tetap tersenyum. Suaranya semakin lemah.

Anna menutup mulutnya. Ia tak menyangka anak sepolos Joonhee masih bisa berkata seperti itu.

“Pasti. Karena kau akan bermain dirumah. Kau tidak akan sakit lagi dan tidak akan datang kesini lagi.” kata Heechul. Ia tahu membohongi diri sendiri benar-benar konyol. Ia tahu apa maksud perkataan adik kecilnya itu.

Joonhee memejamkan mata. “Bukan, hyung. Bukan begitu. Joonhee benar-benar tidak akan disini lagi… Di dunia ini.”

Monitor mengeluarkan bunyi monoton yang sama. Garis lurus itu sudah tak lagi berlekuk.

“JOONHEE!!” Anna berteriak histeris. Dan Heechul, bagai kesetanan ia berlari keluar dan memanggil dokter dengan panik.

Dr. Kim berusaha memacu detak jantung Joonhee kembali. Berkali-kali, namun hal itu sama sekali tak membuahkan hasil.

Anak itu sudah tertidur dengan tenang.

Akhirnya seluruh usaha dihentikan. Kain putih sudah menutupi wajah Joonhee. Wajah manis itu sudah tertidur.

“Joonhee!” Heechul berteriak histeris. Ia terduduk disudut ruangan sambil menutup wajahnya. “Joonhee, hyung belum sempat berkata maaf padamu..” lirihnya.

Tubuh mungil itu sudah tak ada diruangan. Para suster sudah membawanya.

“Ini semua salahku..” bisik Heechul sambil menangis terisak.

“Jangan begitu, nak. Ini bukan salahmu..” Dr. Kim menghampiri Heechul dan merangkulnya.

“Apa jadinya kalau saat itu aku tidak membentaknya? Pasti tidak akan jadi begini.. Aku menyayanginya..” Heechul masih menangis. Ia diliputi rasa bersalah yang amat besar.

“Hasilnya akan sama saja. Ini akan tetap terjadi karena ini adalah takdir. Jangan salahkan dirimu sendiri.” kata Dr. Kim.

Anna datang. Ia berlutut disamping Heechul dan mengelus kepalanya. “Ia bilang kau tetap pahlawannya. Karena kau sudah bisa membuatnya tersenyum ditengah penderitaan. Walaupun hanya sekali, pasti itu sudah cukup baginya. Ia pun menyayangimu juga..”

Heechul langsung memeluk Ibunya. Ia menangis sekeras-kerasnya. “ Aku minta maaf, Eomma. Aku benar-benar egois.”

Anna hanya tersenyum. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Heechul.

***

“Joonhee, hyung menyayangimu. Maaf hyung belum pernah mengatakannya secara langsung.” Heechul meletakkan sebuah robot-robotan kecil disamping nisan Joonhee. “Hyung tetap pahlawanmu, kan?”

Setelah itu ia berdiri, perlahan berjalan meninggalkan nisan itu.

Seorang anak dengan pakaian serba putih mendekati nisan itu. Ia memungut robot mainan yang ada disampingnya.

“Aku juga menyayangimu, hyung. Hyung akan tetap menjadi pahlawanku. Sampai kapanpun.”

Kemudian anak itu lenyap begitu saja.

♥END♥

Advertisements

One thought on “I Became A Hero

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s