Crying Friend [I Want to be With You-another life]

***

Aku tidak percaya ini. Tadi pagi ada sebuah pesan masuk di ponselku, dan ternyata dari laki-laki itu. Benar-benar sulit dipercaya.

Setelah tujuh tahun berlalu tanpa member kabar, tiba-tiba mengirimiku pesan, mengatakan ia sudah berada di Seoul dan ingin bertemu denganku. Rasanya janggal.

Dalam perjalanan, aku menimbang-nimbang apakah aku tetap ingin menemuinya atau tidak. Sesungguhnya aku sangat merindukannya, tapi bagaimana kalau dia datang bersama pasangannya? Tujuh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melakukan pendekatan dengan seseorang. Haish, aku benar-benar bimbang.

~

Ya Tuhan, apakah aku sedang bermimpi? Laki-laki itu, sahabat lamaku, berdiri disana. Menatapku.

Ia tersenyum padaku. Tapi aku tak bisa tersenyum. Aku sangat, sangat, sangat merindukannya. Tersenyum sama sekali bukan cara yang tepat untuk mengekspresikannya.

Aku ingin marah. Tapi tidak bisa. Lidahku terlalu kaku untuk berteriak padanya yang berdiri beberapa meter didepanku.

Aku ingin memeluknya. Tapi tidak bisa. Dia banyak berubah, aku tak mungkin memeluknya seperti dulu lagi. Dulu kami memang teman baik, tapi.. tujuh tahun tidak bertemu, apakah ia masih menganggapku sahabatnya?

Dengan langkah teratur, ia mendekat padaku. Sedangkan aku masih diam terpaku.

3 meter, 2 meter, 1 meter, ia terus mendekat. Dan.. ia memelukku. Ia memelukku seperti dulu.

Aku tidak tahan. Ingatan tentang pelukan kami yang dulu membuatku tidak tahan ingin menangis.

“Aku merindukanmu..”

Dua kata itu langsung berhasil membuatku semakin terisak. Ia mengucapkannya dengan begitu lembut. Aku pun heran mengapa laki-laki ini belum melepas pelukannya. Padahal harusnya dia sadar air mataku akan membasahi kemejanya.

“Kau tidak merindukanku, huh?” tanyanya.

Aku tidak menjawab. Dalam situasi perasaan yang seperti ini mana bisa aku menjawab. Aku malah makin terisak sambil memukuli punggungnya.

“Ya.. kau ini kenapa?”

“Kenapa baru kembali?.. hiks..”

Tangannya bergerak mengelus rambutku. “Maaf..” katanya lembut.

Aku memaksa melepaskan pelukan ini, lalu buru-buru menghapus air mataku.

“Tidak, tidak. Maaf, tidak seharusnya aku menangis seperti ini.” ucapku padanya.

Ia tertawa kecil. “Kau ini kenapa? Bukankah dulu kau sering menangis didepanku?”

Mau tidak mau aku ikut tersenyum. Perkataannya memang benar.

Aku menekan rasa yang meledak dalam hatiku. Kalau tidak begitu, bisa-bisa aku akan memeluknya dan menangis lagi.

“Apa ada hal penting yang ingin kau lakukan di Seoul?” tanyaku. Aku harap dia akan bilang tidak.

“Tidak. Aku datang kesini khusus untuk menemuimu.” katanya. Aku senang, tapi juga tidak yakin dengan perkataannya.

“Bohong.” ujarku dengan mata menyipit. Selama kami berteman, aku sudah sangat terlatih untuk mendeteksi kebohongannya.

Lagi-lagi ia tertawa. “Oke, aku kesini ingin mengantarkan sesuatu padamu.” akunya. Senyumnya berangsur menghilang. Ada apa ini?

Hanya dengan melihat tatapanku, ia pasti tahu aku sedang menunggunya melanjutkan perkataannya.

Begitu dia mengangkat sesuatu dengan tangan kanannya—yang aku tidak sadar sejak tadi dibawanya, aku langsung mengerti apa yang ingin ia sampaikan padaku.

Ia mengulurkan benda itu padaku. Sebuah undangan pernikahan.

Perlahan aku membukanya dan membaca kedua nama yang diukir dengan indahnya diluar maupun didalamnya. Meski aku sudah pernah menebak sebelumnya, tapi.. tetap saja, aku sedikit sedih. Tidak, tidak sedikit, tapi sangat sedih.

“Kau.. bisa datang, kan?” tanya laki-laki itu. Senyumnya kali ini terlihat dipaksakan. Kenapa?

Mataku mulai berkaca-kaca. Aku harus buru-buru pamit. Aku tidak mau menangis dihadapannya lagi karena surat undangan ini.

“Te-tentu. Aku.. aku pasti datang.” kataku. “Kalau tidak ada lagi yang mau kausampaikan padaku, aku pergi dulu. Aku buru-buru.” Setelahnya aku langsung berbalik, hendak berlari menuju halte bus agar bisa cepat pulang.

“Kau tahu bagaimana perasaanku padamu, Hyunmi. Tapi aku tak punya pilihan.” Tangan laki-laki itu tiba-tiba saja sudah menggapaiku, memelukku dari belakang.

Rasanya jantungku sudah tak lagi berada di tempatnya. Ucapan yang dibisikkan tepat ditelingaku itu benar-benar membuatku terkejut.

Otakku memutar kembali kenangan tujuh tahun lalu sebelum dia pergi.

Dia bilang dirinya mencintaiku. Saat itu aku, dengan keras kepalanya, mengolok-oloknya karena bercanda terlalu jauh. Saat itu aku tak mempercayainya.

Sekarang aku sadar. Aku bukannya tak mempercayainya, aku hanya takut ia berbohong. Aku tak mau banyak berharap, makanya saat itu kubilang tidak percaya.

Dan laki-laki yang sedang menahanku ini mengungkitnya. Membuatku bingung harus merespon seperti apa.

Walau aku tak pernah mengatakan perasaanku yang sesungguhnya, aku yakin laki-laki ini pun tahu aku mencintainya juga. Dia mengerti diriku lebih dari aku mengerti dirinya.

“Khusus untukmu, aku mengantar sendiri undangan ini. Karena kau adalah ornag yang spesial. Kau punya tempat tersendiri didalam hatiku. Kau adalah sahabatku. Sahabat yang kucintai.”

Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Tapi kami tak juga beranjak, membiarkan hujan terus membasahi tubuh kami masing-masing.

“Kau pun tahu bagaimana perasaanku padamu, Kyu.” ucapku lirih.

Aku bisa mendengar isaknya dan isakanku sendiri. Kami benar-benar dua sahabat yang cengeng.

~

Memang sakit. Tapi berkali-kali orang lain mengingatkan, cinta tak harus saling memiliki.

Tetapi aku yakin, kalau dalam status sahabat, tidak ada salahnya untuk tetap saling memiliki. Bukankah begitu?

***

Advertisements

3 thoughts on “Crying Friend [I Want to be With You-another life]

  1. Whuuaaa, Kyu-nya mau nikah?

    Bagus ceritanya, cara penyampaiannya simple tapi daleeem bgt..

    Oia, salam kenal sebelumnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s