In My Dream

Cast : yourself and your bias

Warning : Ini FF dibuat dalam suasana genting juga,yaitu galau (seperti biasa) jadi isinya yah macam-macam gajelas-_- Monggo..

***

Angin yang bertiup lembut,terasa nyaman membelai rambutku.Seakan angin menyayangiku,belaiannya mulai terasa seperti pelukan hangat ditengah musim dingin ini.Gesekkan daun kering disekitarku seakan memainkan alunan musik,membuatku merasa begitu diperhatikan mendengar nada-nada yang begitu nyata terdengar ditelingaku.

Perlahan aku membuka mata,mendapati diriku tengah duduk diatas bangku taman dengan ukiran-ukiran yang membuatku merasa sedang duduk dalam kereta Cinderella.

“Kenapa hanya diam?” suara seorang pria menghentikanku mengkhayal bersama alam.Suara itu begitu jelas dan begitu dekat.

Aku menoleh kekanan,dan baru menyadari aku tengah bersandar pada bahu seorang pria tinggi,kulit yang putih walau hanya terlihat kepala dan tangan saja yang tak tertutup pakaian musim dinginnya,juga suara merdu meski hanya mengeluarkan tiga patah kata.

Ia balas menatapku,aku hanya terdiam tanpa respon saat melihat wajahnya.Sangat jelas,dekat,bahkan begitu nyata dihadapanku.

“Kenapa hanya diam?” ulangnya.

Aku menghembuskan nafas yang sempat tertahan kemudian tersenyum samar,seolah aku mengenal begitu dalam orang disampingku ini hingga aku sama sekali tak bingung bagaimana bisa aku begitu tenang berbicara dengannya.”Tidak apa-apa.Sedang apa kau disini?” aku kembali menatapnya.

“Menemanimu.. dan aku akan selalu menemanimu saat kau sendirian” jawabnya disertai senyum tipis namun bisa memancarkan kehangatan.

“Benarkah? Kalau begitu lakukan sesuatu agar aku tidak merasa bosan” perintahku.

Ia tertawa ringan,lalu menatap kedepan.”Mau mendengar sebuah lelucon?” ia kembali menatapku dengan senyumnya,tapi raut keseriusan masih bisa kulihat melalui gambaran dimatanya.

“Ayo katakan!” tantangku.Menantangnya,apa benar ia bisa mmebuatku tertawa dengan hal yang ia sebut lelucon itu.

Ia terdiam untuk dua atau tiga detik sampai ia berkata, “ Aku menyukaimu..”

Untuk sesaat aku masih diam,menahan nafas dan senyumku memudar.Ternyata itu hanya berlangsung sepersekian detik,sampai aku kembali bernafas,dan tertawa.”Yah,kau benar sekali.Itu benar-benar lelucon.Dan sangat menggelikan”.Aku kembali bersandar dibahunya.Menunduk,dengan bahu yang sedikit berguncang.Bukan berguncang karena tertawa,tapi… percaya atau tidak,aku menangis.Kuharap ia masih beranggapan aku sedang tertawa,karena aku sudah menyembunyikan ekspresi wajahku.

Dia menyusul mengeluarkan tawa.Hanya tawa singkat.”Selucu itukah?” ia memastikan.

Aku mengangguk dan menutup mulutku dengan telapak tangan agar tak keluar isak tangis.Dengan seluruh kemampuanku aku berusaha menghentikan tangis ini.Mengusap air mata dengan punggung tangan,mendongak dan menatapnya lagi, “Kau lihat? Benar-benar lucu sampai aku tertawa hingga mataku berair” aku tersenyum geli.Kukira.

“Tetaplah bersandar dibahuku” katanya,lalu menarik kepalaku lembut untuk kembali kebahunya.

“Sangat lucu.Semua orang tau kau menyukainya.Gadis cantik juga dengan tubuh langsing nan indah,lengkap dengan suara merdu serta segudang bakat yang siap ia tampilksn diatas panggung.Berbeda denganku.Aku hanya anak kecil yang tak tau apa-apa,tidak punya bakat,dan bukan artis terkenal” mulutku terus berkata tentang fakta yang bahkan menyakiti perasaanku sendiri.Aku tersenyum masam.

“Atau mungkin harus lebih jelas,ya? Gadis yang usianya satu tahun diatas usiamu namun kau tetap menyuruhnya memanggilmu ‘Oppa’? Gadis Cina yang debut di Korea dan sering dipasang-pasangkan denganmu?” aku terus berseru tidak jelas seperti orang mabuk yang kehilangan akal.

“Hentikan! Kapan aku bilang aku menyukainya?!” ada sedikit penekanan pada seruannya barusan.”Kalau begitu lebih baik aku mengatakan yang sesungguhnya.Hal yang kusebut lelucon itu sama sekali bukan lelucon.Juga,soal racauanmu barusan tentang bahwa aku menyukai gadis itu,kau sudah salah besar dan melenceng jauh.Berhenti mencela dirimu sendiri.” Ia berhenti sebentar,lalu menambahkan dengan cepat, “Aku menyukaimu,bukan menyukainya.Mencintaimu,bukan mencintainya.Memikirkanmu,bukan memilirkannya.Aku hanya melihatmu,tidak melihatnya.Aku hanya menganggapmu,tidak menganggapnya.Mengertilah.Dan yang paling penting,aku tidak bergurau.Jangan tertawa dan jangan mengatakan ini lucu”

Tangisku langsung pecah.Seluruh kekuatanku untuk menahan tangis ini langsung menguap tanpa sisa setelah mendengar apa yang ia katakana.Terimakasih,Tuhan.Ternyata perasaanku terbalas.”Kau tau aku sangat menyukaimu” ungkapku ditengah suaraku yang mulai naik turun.

“Kalau begitu percayalah pada kata-kataku.Tenanglah karna aku tak akan menyia-nyiakan segala perasaanmu juga air matamu” ia merengkuhku kedalam pelukan hangatnya setelah berkata demikian.

Aku langsung mengangguk pelan,kemudian ia berkata lagi,

“Tidurlah sebentar,aku akan tetap disini menemanimu.Aku tau pikiranmu sangat lelah” ia ternyata sama sekali tidak kaget melihatku yang tiba-tiba menangis tadi.Dan segala yang ia katakan benar-benar seolah dia mengerti diriku,mengerti perasaanku,mengerti pikiranku.

Aku mengangguk sekali lagi kemudian memejamkan mata.Semuanya begitu tenang,sepertinya aku sudah tertidur kembali.

***

Kesadaranku mulai berkumpul dan seluruh inderaku berfungsi dengan nyata kembali.Membuka mata,aku mendapati diriku sedang berbaring disebuah kamar minimalis yang biasanya.Kamar yang penuh dengan poster,foto,ataupun barang-barang lain yang berbau Super Junior.

“Ternyata benar..” aku menggumam,tersenyum miris menatap wajah seseorang disalah satu poster jumbo didinding.”Hanya mimpi..”

“Seharusnya aku tidak menurut saat ia menyuruhku tidur kalau akhirnya semua mimpi indah itu harus berakhir begitu saja..”

FIN

Advertisements

2 thoughts on “In My Dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s